POJOKSATU.id - Pertumbuhan Kota Tangerang Selatan sebagai wilayah hunian dan pusat aktivitas masyarakat terus berkembang pesat.

Namun, di balik kemajuan tersebut, para peneliti mengingatkan adanya ancaman lingkungan yang perlu segera ditangani.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut Tangsel tengah menghadapi tiga persoalan serius yang saling berhubungan dan berpotensi menimbulkan bencana di masa depan.

Baca Juga: Pengakuan Mengejutkan! AKBP Basuki Hidup Serumah 5 Tahun dengan Dosen Untag yang Tewas

Menurut Nur Hidayat, Perekayasa Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN.

Ketiga ancaman tersebut yakni penyusutan air tanah yang semakin cepat, penurunan permukaan tanah yang berpotensi meningkatkan risiko banjir, serta menurunnya kualitas air akibat eksploitasi dan perubahan lingkungan.

“Tangsel berhadapan dengan masalah besar: air tanah menyusut, tanah turun secara bertahap, dan kualitas air juga terganggu.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jepara Jauh dari UMK? Pemkab Bongkar Alasan Sebenarnya

Ini tiga faktor yang saling memengaruhi,” ujar Nur, dikutip pojoksatu.id dari media tangsel.info pada Jumat (21/11/2025).

Untuk mengantisipasi krisis air tanah dan risiko hidrometeorologi seperti banjir serta longsor.

Nur menyampaikan sejumlah rekomendasi teknologi yang dapat diterapkan pemerintah daerah, baik pada tahap pencegahan maupun penanganan.

Baca Juga: Kronologi Ekstasi Ditemukan Narkoba dalam Nissan X-Trail


1. Pemetaan akuifer menggunakan drone GPR

Nur menjelaskan bahwa pemetaan akuifer adalah langkah mendesak agar pemerintah memiliki data rinci mengenai kondisi air tanah.

Drone Ground Penetrating Radar (GPR) mampu memberikan gambaran lengkap mengenai lokasi dan jenis akuifer.

“Dengan pemetaan, kita bisa mengetahui letak dan kapasitas akuifer.

Data ini menentukan lokasi tepat untuk area resapan dan berapa banyak titik resapan yang dibutuhkan,” ungkapnya, dikutip pojoksatu.id dari media tangsel.info 

Baca Juga: Viral Nikah Siri Dijual Online, Agama Kok Jadi Paket Promo di TikTok!, Begini Respon Ulama

Pemetaan tersebut juga dianggap penting untuk menyusun kebijakan pembatasan pengambilan air tanah, terutama di wilayah yang sudah mengalami penurunan permukaan tanah.


2. Teknologi INSAR untuk mendeteksi deformasi tanah

Selain pemetaan air tanah, teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (INSAR) dapat digunakan untuk memonitor perubahan ketinggian permukaan tanah secara akurat.

“INSAR mampu menunjukkan wilayah yang sudah mengalami penurunan, termasuk area yang memiliki potensi longsor,” jelas Nur, dikutip pojoksatu.id dari media tangsel.info 

Baca Juga: Miris! Sikap Pilih Pilih kasus Jet Pribadi KPU dan Pengadaan Gas Air Mata, Ada Apa Dengan KPK ?

Data deformasi tanah menjadi dasar bagi pemerintah untuk menata pembangunan, terutama pada kawasan padat penduduk dan lokasi yang rentan pergerakan tanah.


3. Sistem peringatan dini banjir dan longsor

BRIN juga menawarkan dua teknologi peringatan dini, yakni Flood Early Warning System.

(FEWS) untuk memantau tinggi muka air sungai dan Landslide Early Warning System (LEWS) untuk mengidentifikasi pergerakan tanah sebelum longsor terjadi.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Dibedah! BGN Gandeng Para Profesor Gizi dari Seluruh Indonesia

Selain itu, BRIN memperkenalkan teknologi Biopos sumur resapan sederhana berbahan pipa berdiameter 8 inci yang bisa diterapkan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas penyerapan air secara mandiri.

Dengan kombinasi inovasi teknologi dan pengawasan ketat, BRIN berharap Tangsel dapat meminimalkan risiko bencana di tengah pesatnya pembangunan kota.***