POJOKSATU.id - Pasar Ciputat di Tangerang Selatan merupakan pusat kegiatan ekonomi yang telah melewati berbagai zaman dan tetap bertahan di tengah modernisasi kota.
Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan juga bagian dari identitas sejarah masyarakat setempat.
Nama “Ciputat” sendiri diambil dari bahasa Sunda, yaitu “Ci” yang berarti air dan “Putat” yang merujuk pada nama pohon yang dahulu tumbuh subur di wilayah ini.
Pada masa lampau, pohon putat memiliki banyak manfaat, salah satunya digunakan sebagai lalapan oleh warga sekitar.
sehingga menjadi simbol keseharian masyarakat Ciputat yang hidup selaras dengan alam.
Hingga kini, nuansa tradisional dan kearifan lokal masih terasa kuat di kawasan pasar ini, menjadikannya salah satu ikon kebanggaan Tangerang Selatan.
Baca Juga: 7 Prompt AI Paling Keren untuk Ciptakan Foto Swiss Super Realistis dan Aesthetic
Tak hanya menjadi saksi perkembangan ekonomi, Pasar Ciputat juga menyimpan berbagai fakta menarik yang mencerminkan dinamika kehidupan sosial warganya.
Di balik deretan kios dan pedagang yang telah berjualan lintas generasi.
Tersimpan kisah tentang bagaimana pasar ini tumbuh bersama perkembangan perumahan dan kawasan urban di sekitarnya.
Baca Juga: Nikmati Segarnya Air dan Suasana Asri di 5 Kolam Renang Populer Tangerang Selatan
Dari lokasi yang strategis, ragam pedagang yang beragam etni.
Hingga interaksi khas antara penjual dan pembeli yang penuh kehangatan semuanya menciptakan atmosfer yang sulit tergantikan oleh pasar modern.
Jadi, jika kamu ingin mengenal lebih dalam sejarah, budaya, dan denyut kehidupan masyarakat Tangerang Selatan.
Pasar Ciputat adalah tempat yang menyimpan semuanya dalam satu ruang yang hidup dan penuh cerita.
1. Sejarah Pasar Ciputat
Dalam sejarah panjangnya, Ciputat menjadi rumah bagi beberapa kelompok etnis, termasuk Sunda, Betawi, Arab, dan Tionghoa.
Saat masa penjajahan Belanda, komunitas Tionghoa mendominasi sektor ekonomi di pasar Ciputat.
Baca Juga: Warga di Sukabumi Tewas Digigit King Kobra, Korban Sempat Lawan Hingga Bunuh Ular
Namun, seiring dengan kemerdekaan Indonesia, peran etnis Arab dan Betawi semakin kuat dalam pengelolaan tanah di kawasan penyangga ibu kota.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Ciputat adalah Tuan Salim, seorang keturunan Arab.
Ia menjadi seorang tuan tanah dan menyumbangkan sebagian tanahnya untuk membangun musholla.
Seiring dengan berjalannya waktu, tempat ibadah ini berkembang menjadi Masjid Agung Al-jihad, yang sekarang menjadi pusat kegiatan keagamaan utama di Ciputat dan sekitarnya.
2. Letak Geografis Ciputat
Dari segi letak geografis, pasar Ciputat saat ini berada di antara tiga provinsi: Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Hal ini menjadikannya kawasan yang agak kompleks dalam madalah administrasi.
Pembangunan di Ciputat terkesan lamban dan terkadang kurang terurus karena masalah administratif ini.
Ciputat pernah menjadi bagian dari Jakarta dan juga Jawa Barat.
Sekarang, Ciputat menjadi salah satu kecamatan di Banten, dalam wilayah Kotamadya Tangerang Selatan.
Meskipun secara administratif terletak di Banten, penduduk Ciputat sering lebih menganggap diri mereka sebagai warga Jakarta.
3. Demografi dan Budaya Ciputat Tangerang Selatan
Penduduk Ciputat saat ini berjumlah sekitar 30.000 orang, dengan mayoritas dari mereka adalah orang Betawi asli.
Baca Juga: Edit Foto Melayang Ala Opening Anime dengan Google Gemini AI, Cukup Modal Prompt Ini!
Bahasa sehari-hari mayoritas penduduk Ciputat adalah Bahasa Betawi.
Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pendatang dari daerah lain yang tinggal di sekitar pasar Ciputat Tangerang Selatan, menciptakan campuran budaya yang menarik.
Salah satu momen terkenal di Ciputat adalah ketika Situ Gintung jebol dan menyebabkan bencana banjir besar.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Tangerang Selatan yang Oke Banget
Di saat itu, nama Ciputat mencuat ke dunia internasional. Keberadaan kampus UIN Syarif Hidayatullah juga membuat nama Ciputat dikenal dan dihormati oleh kalangan akademisi.
4. Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan
Di masa kolonial Belanda, wilayah Ciputat sangat luas, mencakup Rempoa, Pamulang, Cirendeu, Pondok Cabe, dan hampir mencapai Lebak Bulus.
Wilayah ini menjadi sumber utama penghasilan Belanda, terutama dalam produksi rempah-rempah dan hasil bumi lainnya.
Baca Juga: Warga Japlor Tuntut Tanggung Jawab dan Transparansi Pemdes Japura Lor Soal Betonisasi DD Tahap 2
Pada saat itu, Ciputat masih dipandang sebagai daerah perkebunan, dan kota utamanya adalah Lebak Bulus.
Di kota inilah, pertempuran antara pejuang kemerdekaan Indonesia dengan penjajah Belanda marak terjadi.
5. Perubahan Administratif dan Identitas
Dalam sejarah administratifnya, pasar Ciputat pernah menjadi bagian dari Jakarta dan Jawa Barat.
Sekarang, Ciputat berada di wilayah Banten. Meskipun secara administratif berada di Banten, penduduk Ciputat sering lebih menganggap diri mereka sebagai warga Jakarta.
Baca Juga: Juwita Menang Gugatan, PN Sumber Lakukan Sita Eksekusi Aset Mantan Suami di Astanajapura
Mungkin karena terdengar lebih bonafide, yah?
Kalau kamu ingin berbelanja di 3 provinsi sekaligus, mungkin pasar Ciputat adalah tempat yang tepat buat kamu!
Ciputat adalah daerah yang terus tumbuh dan berubah seiring dengan perkembangan waktu. Kisahnya yang unik dan peran penting dalam sejarah Indonesia menjadikannya pasar tradisional yang punya banyak cerita. ***
