POJOKSATU.ID - Setiap tahunnya, Ribuan santri Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudlatul Hasanah Medan menggelar tradisi tadarus Al-Quran secara unik di bulan Ramadan.

Pada tahun 2025 M/1446 H ini, ribuan santri Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudlatul Hasanah Medan kembali menggelar tradisi tadarus Al-Quran secara unik.

Kegiatan ini melibatkan sekitar 1.600 santri putra dan 1.900 santri putri yang antusias membaca Al-Quran dalam formasi melingkar.

Baca Juga: Atasi Pencemaran Citarum, Gubernur Dedi Mulyadi Siapkan IPAL Komunal untuk Limbah Rumah Tangga

Setiap lingkaran terdiri dari 9-11 orang, sebuah metode yang sengaja dirancang untuk memudahkan pengawasan dan meningkatkan kekompakan.

Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ust. Carles Ginting BHSc, M.I.Kom, menjelaskan bahwa tadarus dalam formasi melingkar ini memudahkan para ustad dalam melakukan pengontrolan.

“Dengan kapasitas guru yang lebih sedikit dibandingkan santri, jika tadarus dilakukan dengan formasi berbaris, akan lebih sulit untuk mengawasi. Dengan formasi melingkar, kami bisa memantau dari jauh,” ujarnya.

Baca Juga: Daftar Lengkap Pemenang Oscar 2025, 'Anora' Borong Lima Piala dan Kemenangan Berharga untuk Film tentang Derita Warga Palestina 'No Other Land'

Tradisi tadarus ini telah berlangsung sejak lama di pesantren tersebut.

Menurut Ust. Carles, kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk melancarkan bacaan Al-Quran, tetapi juga memastikan para santri dapat mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadan.

“Mereka sudah memiliki dasar bacaan dari proses belajar di kelas. Tadarus ini lebih fokus pada target khatam. Biasanya, dalam 4-5 hari, mereka sudah bisa mengkhatamkan Al-Quran,” tambahnya.

Para santri membaca Al-Quran secara bergantian dalam kelompok kecil, saling menyimak, dan saling mengoreksi bacaan.

Baca Juga: Kisah Perjalanan Abu Ubaidah DIUTUS Rasulullah, Menemukan IKAN PAUS Terdampar Saat Kelaparan, Petik Hikmah Makanan Halal dan Haram

Kegiatan tadarus ini dilakukan setelah salat Zuhur dan akan berlangsung hingga 20 Ramadan.

Meskipun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa, pesantren memastikan ibadah Ramadan menjadi prioritas.

“Puasa bukan hal baru bagi mereka. Mereka sudah terbiasa puasa Senin-Kamis, jadi puasa Ramadan tidak terlalu berat,” ujar Ust. Carles.

Namun, kegiatan ekstrakurikuler yang membutuhkan tenaga fisik, seperti pramuka dan olahraga, sengaja dikurangi untuk menghindari risiko batalnya puasa.

Baca Juga: Dedi Mulyadi : Pergeseran Tanah di Tasikmalaya Berdampak 92 KK, Sementara 55 Rumah Alami Rusak Berat

Para santri yang terlibat dalam tadarus ini berasal dari berbagai tingkatan, mulai dari SMP hingga SMA. Lokasi tadarus untuk santri putra dan putri dipisahkan untuk memudahkan pengaturan dan kenyamanan.

“Kami menyediakan tempat khusus untuk santri putri karena jumlahnya lebih besar. Jika digabung, tidak akan muat,” jelas Ust. Carles.

Melalui kegiatan ini, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah berharap para santri dapat memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan.

Baca Juga: Warga Desa Bojongkembar Hadiri Sosialisasi Program MBG

Tadarus Al-Quran tidak hanya menjadi sarana meningkatkan spiritualitas, tetapi juga mempererat ukhuwah islamiyah di antara para santri.

“Kami berharap mereka bisa memaknai Ramadan dengan baik. Membaca Al-Quran adalah bagian penting dari ibadah,” ungkap Ust. Carles.

Muhammad Zikri, salah satu santri, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat efektif.

“Hikmahnya, kami bisa saling mengoreksi dan memperbaiki bacaan. Dalam satu kelompok, ada santri yang bacaannya sudah baik, sehingga bisa membantu yang lain,” kata Zikri.

Baca Juga: Mengerikan, Selebgram Farah Diniarti Dianiaya Pacar yang Diduga Oknum TNI, Unggah Bukti-bukti Sekujur Tubuh Penuh Lebam

Dalam sehari, para santri mampu menyelesaikan satu juz Al-Quran, dengan target khatam 1-2 kali selama Ramadan.

Tradisi tadarus ini menjadi bukti nyata komitmen pesantren dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus membentuk generasi yang qurani. ***