POJOKSATU.id, MEDAN - Kota Medan, dikenal dengan kota yang multietnis di Indonesia dan menyimpan segudang sejarah peradaban masa lalu.

Salah satunya adalah peradaban Cina. Pada tahun 1970, ditemukan situs Kota Cina di Medan. Sejak saat itu, jejak sejarah mulai terkuak khususnya saat ditemukan sebuah arca kuno.

Arca kuno ini ditemukan pada saat ada penggali tanah menggunakan alat berat untuk penimbunan pembangunan jalan Tol Belmera pada tahun 1986.

Kala itu, banyak benda-benda bersejarah ditemukan. Benda itu pun lalu disimpan di sebuah museum yang diberi nama Museum Situs Kota Cina.

Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional 2023, Edy Rahmayadi: Para Orang Tua Harus Perhatikan Kebahagiaan Anak

Museum Situs Kota Cina berada di Jalan Kota Cina, Nomor 65, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Kota Cina dan Paya Pasir merupakan situs pelabuhan kuno yang sangat penting dalam rangka perdagangan Asia Tenggara.

Bukti lain yang memperkuat situs Kota Cina menyimpan jejak peradaban internasional adalah ditemukannya beberapa keping uang koin Sinhalese dari Kerajaan Polonnaruwa, Srilanka.

Selain itu, terdapat juga koin-koin yang dikeluarkan oleh Raja Sahasa Malla dan Ratu Lilavati pada abad 13 Masehi yang memiliki ukuran simbolisme dewa dan aksara Srilanka dengan diameter 22,05 milimeter.

Baca Juga: Terus Percepat Transformasi Digital Pemprov Sumut, Ilyas Sitorus: Sudah Ada, Manfaatkan Secara Optimal

Menurut para ahli sejarah, jejak Kota Cina hingga kini belum habis tergali. Dulunya merupakan kerajaan makmur dan memiliki pelabuhan laut (bandar) internasional yang dihuni para imigran asal Tiongkok.

Di pelabuhan laut itu, diperkirakan berdiri pada masa Dinasti Song. Dimana Kota Cina yang berada di sebelah utara Kota Medan ini, mengalami kejayaan.

Kawasan daratan dan pantai dihuni imigran dari negeri Tiongkok, dengan pelabuhan rakyat serta jalur perdagangan tersibuk.

Transaksi perdagangan seperti tembikar, guci, keramik, rempah-rempah dan termasuk arca berlanggam Chola atau India Selatan diperjual belikan.

Baca Juga: Bantu Percepatan Digitalisasi di Daerah, Nawal Lubis Serahkan 30 Unit Tablet ke Kabupaten Batubara

Menurut tulisan Koestoro pada tahun 2008, Kota Cina dulunya merupakan pemukiman yang padat.

Diperkuat dengan tulisan McKinnon, yang mengatakan bahwa dulunya Kota Cina juga dihuni oleh orang-orang tamil.

Diduga kota ini terdapat jaringan dagang, yaitu perserikatan besar pedagang Tamil, yang bernama Ayyavole ainnuarruvar dan Mannikiram.

Perserikatan ini melakukan kegiatan di wilayah Asia Tenggara.

Baca Juga: Hadir di 63 Kota, XL SATU Fiber Kenalkan Teknologi Terbaru Fiber To The Room (FTTR)

Ternyata orang-orang Tamil ini pernah berjaya di wilayah Sumatera bagian utara. Mulai dari Barus, Banda Aceh, Kota Cina, dan Sumatera Barat.

Pada tahun 2008, Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari mendirikan Museum Situs Kota Cina.

Sejak saat itu, Museum Situs Kota Cina dibuka untuk umum.

Terdapat ribuan barang peninggalan sejarah di Museum Situs Kota Cina itu. Mulai dari patung Buddha hingga pecahan barang-barang sejarah lainnya.

Baca Juga: Ditandatangani Gubernur dan DPRD Sumut, Ranperda P-APBD 2023 Diproyeksikan Rp 14,375 Trilliun

Pada Maret 2017 lalu, masyarakat Kecamatan Medan Marelan kembali menemukan cincin dengan mata aksara yang diduga menggunakan aksara India Selatan atau Arab Kuno di kawasan Pekong, situs Kota Cina, Medan Marelan.

Cincin kuno itu menambah koleksi barang-barang sejarah di Museum Situs Kota Cina tersebut. Pendiri Museum Kota Lama, Medan Marelan, Dr Phil Ichwan Azhari mengungkapkan, sampai sekarang belum terungkap dari mana cincin itu berasal.

Pihaknya sengaja mengupload foto cincin itu untuk mendapatkan informasi dari masyarakat yang mengetahui makna dari aksara yang terdapat di cincin tersebut.

Baca Juga: Tahun Ini Pemko Medan Bangun Rumah Kemasan, Bobby Nasution: Dorong Peningkatan Kualitas UMKM

Ragam cerita muncul tentang hilangnya Kota Cina tersebut. Dilansir dari berbagai sumber, bahwa kemajuan perdagangan di Kota Cina mendadak terhenti setelah kota itu dilanda musibah alam.

Dimana kawasan pelabuhan laut yang berkembang pesat, terkubur menjadi daratan.

Sementara menurut versi masyarakat setempat, bahwa hilangnya Kota Cina dikarenakan menerima kutukan dan diserang oleh pasukan kepah.

Baca Juga: Berikut Nama-Nama Calon Anggota Bawaslu Sumut Periode 2023-2028 yang Lolos Hasil Uji Kelayakan dan Kepatutan

Sedangkan sebagian lain beranggapan, kota tempat imigran Tiongkok itu hilang setelah terkena bencana tsunami.

Sekarang kawasan tersebut juga berubah menjadi permukiman penduduk. Di area lain berdiri industri, pergudangan, ladang palawija, tambak, dan galian pasir.

Bahkan galian itu sekarang seolah menjelma seperti danau yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai Danau Siombak. Serta di sebelah barat Situs Kota Cina saat ini ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang dikelola pihak Pemerintah Kota Medan. ***

Baca Juga: DLHK Sumut Amankan Truk dan Muatannya di Taput, Diduga Angkut Kayu Ilegal Logging