POJOKSATU.id, MEDAN-Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) diharapkan bisa berkontribusi besar untuk proyek biodiesel, yang butuh tambahan pasokan minyak sawit mentah hingga 6,6 juta ton untuk meningkatkan bauran dari B-40 menjadi B-50.

Hal ini disampaikan Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Triwidarto via zoom dalam acara Spotlight of Indonesia Palm Oil Issues (SIOP) 2024 di Medan, pada 13 November 2024.

Heru Triwidarto mengatakan bahwa program PSR bisa membantu meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan kualitas panen sawit.

PSR juga ditargetkan untuk meningkatan produktivitas sawit rakyat yang porsinya mencapai 40% dari luas perkebunan sawit di Indonesia yang mencapai 15,34 ha.

Baca Juga: BRI Raih Penghargaan WEPs Awards 2024, Komitmen Nyata untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Ini sejalan dengan tekad swasembada energi di era pemerintahan Presiden Prabowo dengan mengedepankan sumber energi nabati sawit menjadi peluang bagi petani sawit untuk meningkatkan nilai keekonomian perkebunan sawitnya.

“Pemerintah mendorong perusahaan besar, perusahaan negara dan pekebun rakyat bersama-sama meningatkan produksi untuk mendukung swasembada energy dan swasembada pangan. Ada peluang bagi pelaku perkebunan kelapa sawit," ujarnya.

"Untuk proyek energi naik jadi B-50 saja kita butuh tambahan minyak sawit 6,6 juta ton, kalau melakukan ekstensifikasi butuh 2,3 juta hectare lahan baru untuk perkebunan,” sambungnya.

Baca Juga: Sosok Kolonel Moh Sawi, Dirbindik Puspom TNI Diduga Bekingan Ivan Sugianto si Pengusaha Hiburan Malam di Surabaya

SIOP 2024 di Medan sendiri diinisiasi oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Seluruh Indonesia (GAPKI) Sumut bekerjasama dengan harian Bisnis Indonesia dan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk mendorong percepatan program Peremajaan Kelapa Sawit (PSR) di Indonesia.

Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS, Achmad Maulizal menambahkan 251.637 ha di 21 provinsi dengan jumlah petani kebun yang terlibat mencapai 154.936 orang pada periode 2016-2024.

“Kami terus berusaha memperluas program PSR ini untuk mendorong kesejahteraan petani sawit. Ada 154.936 orang petani yang sudah mendapatkan program ini,” jelasnya.

Pemangku kepentingan perkebunan sawit nasional mendorong pemerintah untuk melanjutkan program PSR dengan intensitas yang lebih tinggi dari yang berlaku saat ini.

Baca Juga: Mengerikan! Sasaeng Menyusup ke Tangga Darurat Apartemen dan Menyerang Sunwoo, Member The Boyz Itu Dilarikan ke Rumah Sakit

Ketua Umum DPP GAPKI Eddy Martono mengatakan perusahaan sawit berkomitmen membantu implementasi program PSR untuk tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Menurutnya, GAPKI terus berkoordinasi dengan Dirjen Perkebunan dan BPDPKS untuk mendorong memuluskan program PSR yang masih banyak terkendala sampai saat ini.

Eddy mengurai beberapa masalah terkait sawit rakyat, mulai dari tidak tersedianya dokumen petani, proses upload dokumen yang panjang, proses pembuatan poligon peta yang sulit (biaya tinggi dan terbatasnya sumberdaya di lapangan).

Selain itu, banyak perusahaan yang tidak bersedia menandatangani pernyataan kebenaran dan kelengkapan dokumen hingga keengganan petani kehilangan pendapatan selama masa tanaman bekum menghasilkan.

Baca Juga: Serba-Serbi Aquabike World Championship 2024 di Dairi, Francois Medori Jadi Juara, Boanegers Ratag Rider Termuda Curi Perhatian

Dia menjelaskan terkait dengan pendanaan program PSR kemitraan dengan petani, pihaknya memiliki perhitungan biaya program sendiri. Dimana nilainya untuk perhitungan minimal mencapai Rp100,54 juta dan tertinggi mencapai Rp112,42 juta per hectare.

“Kami senang nilai bantuan PSR dinaikan dari Rp30 juta menjadi Rp60 juta per ha. Tapi kami punya perhitungan lagi. Karena nilainya cukup besar Rp112,4 juta, kami usul sumber dananya dari BPDPKS dan pinjaman,” pungksnya. ***