POJOKSATU.id - Hujan yang tak kunjung reda sejak sepekan terakhir di beberapa wilayah Sumatera Utara (Sumut) ternyata bukan cuaca biasa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memastikan bahwa cuaca ekstrem di Sumut dipicu langsung oleh Siklon Tropis Senyar, sistem yang tumbuh dari Bibit Siklon 95B di Selat Malaka sejak 21 November 2025.

Dampaknya terasa ke seluruh penjuru provinsi, langit menggelap lebih lama, curah hujan melesat ke kategori ekstrem, dan bencana hidrometeorologi bermunculan satu per satu.

Baca Juga: Kenapa NIP PPPK Paruh Waktu Belum Terbit? Ini Penyebab Resminya Menurut BKPSDM

Dalam keterangannya, Kepala BBMKG Wilayah I Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa tingginya kelembapan udara, IOD negatif yang masih aktif, hingga gelombang atmosfer yang terus bergerak, semuanya berkumpul jadi satu paket lengkap pemicu hujan deras berkepanjangan.

“Dalam seminggu terakhir hampir seluruh titik di Sumut diguyur setiap hari,” ujar Hendro.

Data pengamatan menegaskan kondisi tersebut menyebabkan curah hujan di beberapa wilayah bahkan tembus angka 200 mm lebih dalam sehari, termasuk di Pakkat, F.L. Tobing, Arse, dan Teluk Dalam—angka yang sudah masuk kategori ekstrem menurut standar meteorologi.

Baca Juga: Sumatera Utara Diterjang 86 Bencana dalam 3 Hari 24 Orang Meninggal 11 Daerah Porak-poranda

Tiga Hari, 86 Bencana, 24 Warga Tewas di Sumut
Berdasarkan Laporan Polda Sumut mencatat 86 kejadian dalam tiga hari didominasi 59 longsor, disusul banjir, pohon tumbang, dan dua kejadian puting beliung.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, mengonfirmasi bahwa setidaknya 24 orang meninggal dunia, sedangkan 72 warga menjadi korban dalam rentang tersebut.

“Hujan ekstrem ini memukul banyak wilayah sekaligus. Petugas di lapangan masih melakukan pencarian terhadap lima warga yang dilaporkan hilang,” kata Ferry.

Baca Juga: Penyebab 441 Guru Honorer Cilegon Tak Lolos Seleksi PPPK, Padahal Sekolah Kekurangan Guru

Wilayah yang terdampak paling parah berada di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Sibolga.

Di Sibolga saja, delapan warga ditemukan meninggal, dan 21 lainnya masih hilang. Ketinggian air di sejumlah lokasi banjir juga masih bersisa hingga satu meter.

Untuk merespons kondisi darurat, 492 personel gabungan Brimob, Samapta, Dokkes, dan TIK diterjunkan. Evakuasi, pengamanan jalan tertimbun, dan penyisiran korban hilang masih berlangsung hingga hari ini.

Basarnas Kerahkan Operasi SAR 24 Jam
Di saat bersamaan, Basarnas memperluas operasi SAR di Sibolga, Tapanuli Raya, dan Mandailing Natal. Akses jalan terputus, listrik padam, dan gelombang laut tinggi menjadi tantangan utama.

Baca Juga: Aturan Baru Purbaya Bikin Desa Ketar-ketir, Tak Ada Koperasi Merah Putih, Dana Desa Bisa Mandek!

“Semua tim sudah turun dengan peralatan lengkap, termasuk drone thermal,” kata Kepala Kantor SAR Nias, Putu Arga Sudjarwadi.

Data sementara menyebut 1.902 keluarga terdampak di Tapanuli Tengah, terbanyak di Kecamatan Kolang. Empat orang dari satu keluarga ditemukan meninggal tertimbun longsor.

Di Tapanuli Selatan, banjir bandang dan longsor menyapu Batang Toru dan sekitarnya, menewaskan sedikitnya enam orang.

Sementara di Sibolga Selatan, jumlah korban meninggal terus bertambah seiring pencarian hari kedua.

Baca Juga: Aturan Baru Purbaya Bikin Desa Ketar-ketir, Tak Ada Koperasi Merah Putih, Dana Desa Bisa Mandek!

Tempat pengungsian juga mulai dipadati warga di GOR Pandan, SMPN 5 Parombunan, hingga posko darurat di Batang Toru.

Pemprov Sumut Turun dengan Bantuan dan Peralatan Berat
Pemprov Sumut menyebut BPBD telah bergerak mengirim perahu karet, mesin perahu, tenda, genset, pompa air, chainsaw, hingga starlink untuk komunikasi darurat.

Selain itu, paket bantuan bahan pokok senilai Rp60 juta juga mulai disalurkan ke wilayah terdampak.

“Koordinasi dengan BNPB terus berjalan. Gubernur memantau langsung proses penanganan," kata Kepala Dinas Kominfo Sumut, Erwin Hotmansah Harahap.

Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Sukses Ubah Gudang Pelabuhan Jadi Ruang Seni untuk FKSM 2025

Sebelumnya, bantuan logistik termasuk minyak goreng, gula, teh, mie instan, dan ikan kaleng sudah dikirim ke tujuh kabupaten/kota terdampak.

BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih mungkin berlanjut karena faktor atmosfer global belum mereda.

Warga di kawasan sungai, lereng curam, dan pesisir barat Sumut diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang, longsor, angin kencang, serta gelombang tinggi.

Baca Juga: Haduh Baru Terungkap! Bandara IMIP Beroperasi Tanpa Bea Cukai dan Imigrasi, Ini Temuan Nyatanya

“Cuaca bersifat dinamis. Pantau terus informasi resmi agar langkah antisipasi bisa dilakukan lebih cepat,” kata Hendro. ***