POJOKSATU.id – Di tengah cuaca yang makin sulit ditebak dan harga pangan yang terus naik, perempuan justru menjadi pihak pertama yang harus memikirkan cara agar dapur tetap mengepul.
Dari situ, gerakan kecil mulai tumbuh dari pekarangan rumah warga di Deli Serdang.
Lewat Program Kampung NUSA, perempuan didorong bukan hanya menjadi pengelola rumah tangga, tetapi juga penggerak ketahanan pangan keluarga dan komunitas.
Baca Juga: Bus Tabrak Mobil L300 yang Terguling di Ruas Jalan Tol Kualanamu, Empat Penumpang Tewas di Tempat
Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi dan Kolaborasi Multipihak yang digelar Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) bersama Bappedalitbang Kabupaten Deli Serdang di Aula Bappedalitbang, Rabu (6/5/2026) lalu.
Berbeda dari sekadar forum diskusi biasa, pertemuan ini justru membuka ruang baru antara organisasi perempuan dan pemerintah daerah untuk membangun model ketahanan pangan berbasis komunitas.
Dalam forum tersebut, HAPSARI menyoroti bagaimana dampak perubahan iklim kini makin terasa langsung di kehidupan rumah tangga.
Baca Juga: Sempat Mengalami Kelangkaan Stok, Kini Shell V-Power Diesel Kembali Menjual BBM
Cuaca tidak menentu, gagal panen, hingga kenaikan harga bahan pokok membuat banyak keluarga berada dalam situasi rentan.
“Dalam banyak situasi, perempuan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya karena masih memikul tanggung jawab utama atas pangan dan kebutuhan keluarga,” ujar Manajer Program HAPSARI, Erwita Poetri Annisa.
Dari pengalaman itulah Kampung NUSA lahir sejak 2021. Program ini mendorong warga, khususnya perempuan, untuk mulai menanam dari rumah, memanfaatkan pekarangan, hingga mengembangkan pangan lokal secara mandiri.
Menariknya, gerakan ini tidak hanya soal menanam sayur atau menyediakan bibit.
Kampung NUSA juga berkembang menjadi ruang belajar dan ruang aman bagi perempuan melalui Pos Rawat Asa.
Di tempat itu, warga bisa saling berbagi pengalaman, belajar bersama, hingga saling menguatkan menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan iklim yang makin nyata.
Suasana kebersamaan itulah yang dinilai menjadi kekuatan utama Kampung NUSA.
Baca Juga: Wujudkan Generasi Emas, drg. Putih Sari Sosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis di Karawang
Ketahanan pangan tidak lagi dipahami sebatas program pemerintah, tetapi tumbuh sebagai gerakan sehari-hari yang dimulai dari dapur dan halaman rumah.
Sementara itu, Kepala Bappedalitbang Deli Serdang, Dr. Ir. Remus Hasiholan Pardede, M.Si menilai Kampung NUSA relevan dengan arah pembangunan daerah dan target Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurutnya, program tersebut bisa berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan, kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, hingga pengurangan kemiskinan.
Baca Juga: Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan Jadi Pengingat Pahit tentang Kenangan Keluarga
Karena itu, sejumlah organisasi perangkat daerah mulai dipetakan untuk mendukung keberlanjutan program tersebut.
Mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas PMD, hingga Dinas Lingkungan Hidup.
Ketua Pelaksana Harian HAPSARI, Sri Rahayu, menyebut forum ini menjadi langkah penting karena Kampung NUSA kini mulai dibahas sebagai bagian dari pembangunan daerah, bukan sekadar gerakan komunitas.
Baca Juga: Mau Donor Darah? Ini Syarat Lengkap yang Harus Dipenuhi Sebelum Datang
“Harapannya, praktik baik dari Kampung NUSA bisa masuk dalam perencanaan pembangunan desa dan daerah,” ujarnya.
Jika ditarik ke konteks yang lebih luas, Kampung NUSA menunjukkan bahwa solusi menghadapi krisis pangan tidak selalu harus dimulai dari program besar.
Kadang, perubahan justru tumbuh dari halaman rumah kecil, dari tangan perempuan yang setiap hari memastikan keluarganya tetap bertahan.***

