POJOKSATU.id, DELISERDANG-Skuat PSMS Medan gagal meraih poin penuh setelah bermain seri 1-1 melawan Semen Padang, di Stadion Baharoeddin Siregar, Lubukpakam, Senin, 22 Januari 2024.
PSMS Medan yang sempat unggul lebih dulu lewat gol Muhammad Ikhsan Chan pada menit ke-32, harus menelan pil pahit dengan gol balasan Semen Padang pada babak kedua lewat tendangan Vivi Asriza menit 50.
Pada pertandingan PSMS melawan Semen Padang ini berlangsung keras dan banjir kartu merah. Imbasnya memicu ricuh antarpemain di lapangan hingga memancing amuk penonton.
Kartu merah pertama di laga ini diterima oleh pemain Semen Padang, Syaiful Ramadhan pada menit ke-43, setelah menerima kartu kuning kedua usai melakukan pelanggaran terhadap pemain PSMS, Martua Sandeni Sidabutar.
Baca Juga: Ganti Pelatih Tiga Kali Tak Selamatkan Tim dari Degradasi, Ini Penjelasan Manajer Sada Sumut FC
Kartu merah kedua pada laga ini diberikan wasit Hamdi kepada pemain PSMS, Sandeni setelah melakukan diving. Dia menerima kartu kuning kedua pada menit ke-48.
Insiden ini membuat penonton juga suporter PSMS emosi dan memaki wasit hingga pertandingan memanas. Pertandingan kedua klub akhirnya dijalankan dengan masing-masing 10 pemain.
Suasana makin memanas saat PSMS harus kehilangan pemain lagi. Ini terjadi ketika Caretaker Pelatih PSMS, Legimin Rajarho memasukkan Yoseph Ostanika Malau pada menit ke-58 menggantikan Assanur Rijal.
Namun, belum lagi sempat mendapatkan bola, pemain yang akrab disapa Niko Malau itu langsung menerima kartu merah.
Ini diberikan wasit setelah dia kedapatan menanduk pemain Semen Padang di kotak penalti tim tamu pada menit ke-59.
Pemain PSMS protes hingga terjadi dorong-dorongan pemain. Pemain juga protes ke wasit hingga laga sempat terhenti beberapa menit.
Niko Malau sendiri syok dan menangis saat keluar lapangan, dia beberapa kali meluapkan emosinya tak terima dengan keadaan.
Bahkan, dia ogah masuk ruang ganti dan duduk di bench hingga dibujuk dan dipapah pemain lain untuk masuk ke ruang ganti.
Dengan memegang wajah yang sudah penuh dengan air mata, langkahnya gontai masuk ke ruangan meninggalkan teman-temannya yang harus berjuang dengan 9 pemain melawan 10 orang tim tamu.
Setelah kejadian ini, sorakan penonton memaki wasit terus bergema, kata 'mafia' nyaring terdengar di stadion. Lemparan botol air mineral juga beberapa kali singgah ke pinggir lapangan dari tribun penonton.
Baca Juga: Kiky Saputri Sebut Cak Imin Mantul dalam Debat Kedua Cawapres, Nilai Teknik Roasting Gibran Salah
Usai pertandingan yang berakhir 1-1 itu, wasit harus masuk ke ruangan dikawal dan iringan lemparan air mineral.
Penonton dan suporter sendiri berbalik mengkritik manajemen PSMS. Karena, hasil seri ini membuat tim tersebut memperpanjang rekor tak pernah menang melawan tim luar Sumatera Utara.
Sekaligus belum pernah menang di babak 12 Besar Liga 2 ini. Hasil ini juga nyaris menutup peluang PSMS lolos ke semifinal.
PSMS masih terbenam di dasar klasemen Grup X Babak 12 Besar dengan poin 2 dari empat kali main, dua kali seri dan dua kali kalah.
PSMS yang menyisakan dua laga dinilai sulit mengejar ketertinggalan poin. Dimana, saat ini pemuncak klasemen diraih Semen Padang dan Persiraja dengan sama-sama poin lima. Dan peringkat tiga, PSIM dengan lima poin, setelah kalah 1-3 dari Persiraja, Senin, 22 Januari 2024.
Penonton memaki manajemen dan merasa tidak becus mengurusim tim hingga PSMS terseok-seok untuk meraih kemenangan.
Pembina PSMS, Edy Rahmayadi pun tak luput dari kritik. Dia yang hadir di tribun VVIP terpaksa menemui suporter di pembatas tribun terbuka barat.
Dia menenangkan suporter yang marah dan memintanya menyerahkan PSMS jika tidak bisa memperbaiki tim.
Begitu Edy Rahmayadi keluar stadion, dia juga diadang beberapa suporter yang memintanya memperbaiki tim. Edy sempat meladeni dan meminta maaf atas hasil hari ini.
Sementara itu, di dalam stadion suporter PSMS masih bertahan. Sempat terjadi insiden adu mulut antar suporter juga penonton PSMS. Mereka saling memaki karena beda cara meluapkan emosi. Beruntung keadaan mereda dan tidak melebar. ***
