POJOKSATU.id – Memasuki bulan Ramadan, wajah Kota Medan berubah setiap sore. Sejumlah ruas jalan yang biasanya dipadati kendaraan kini dipenuhi pedagang musiman yang menjajakan aneka takjil.
Tradisi berburu menu berbuka tak sekadar menjadi rutinitas ngabuburit, tetapi juga menjadi momentum meningkatnya perputaran ekonomi mikro di tengah masyarakat.
Lapak-lapak sederhana berjejer rapi, menawarkan kue tradisional, gorengan, minuman manis, hingga makanan khas daerah dengan harga terjangkau. Aktivitas ini menjadi berkah tersendiri bagi pelaku UMKM.
Baca Juga: Niat Baik Berujung Ricuh! Ditawari Es Teh Gratis, Pria Ini Ngamuk dan Lempar Minuman ke Karyawan
Titik Legendaris yang Tak Pernah Sepi
Salah satu kawasan yang selalu ramai adalah Jalan Brigjen Katamso. Di lokasi ini, pembeli berburu serabi aneka rasa hingga es buah segar yang menjadi favorit saat berbuka.
Tak jauh berbeda, Jalan Amaliun juga dikenal sebagai sentra takjil legendaris sejak era 1990-an. Bika bakar menjadi primadona yang selalu laris menjelang azan magrib.
Keberadaan sentra-sentra lama ini menunjukkan bahwa tradisi takjil di Medan sudah mengakar puluhan tahun dan terus bertahan di tengah perubahan zaman.
Baca Juga: Figur Misterius di Balik Ramai Isu Impor Pikap dari India, Rekam Jejak Joao Mota Kembali Disorot
Ramai di Sekitar Kampus dan Permukiman
Di Jalan Abdullah Lubis, deretan pedagang menawarkan kue basah, mie, gorengan, hingga minuman segar. Harga yang relatif terjangkau membuat kawasan ini ramai diserbu warga.
Sementara itu, kawasan Jalan Dr Mansyur di sekitar Kampus USU menjadi magnet tersendiri bagi mahasiswa dan pekerja. Menu seperti mie gomak, bubur, dan masakan rumahan banyak diminati karena praktis dan ekonomis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jalan Avros Polonia juga berkembang menjadi pusat takjil baru. Selain kue tradisional, tersedia pula sayuran khas Medan seperti pecel, urap, dan botok.
Baca Juga: Masjid Mungsolkanas, Saksi Sunyi Cihampelas Sejak 1869 yang Lebih Tua dari Masjid Cipaganti
Lebih dari Sekadar Jajanan
Fenomena ini menunjukkan Ramadan bukan hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga ruang interaksi sosial dan penguatan ekonomi rakyat.
Bagi pedagang, Ramadan menjadi momen meningkatkan pendapatan. Bagi pembeli, berburu takjil menghadirkan pengalaman tersendiri—berjalan santai, memilih menu, hingga merasakan atmosfer hangat menjelang berbuka.
Tradisi ini pun memperlihatkan bagaimana ruang publik di Medan bertransformasi secara dinamis selama bulan puasa, menjadi pasar rakyat yang hidup hanya dalam hitungan jam setiap harinya.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kebersamaan dan denyut ekonomi yang bergerak di sudut-sudut kota. ***

