POJOKSATU.id, MEDAN - Kota Medan juga memiliki ragam tradisi dalam merayakan tahun baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 10 Februari 2024.
Warga Tionghoa yang tinggal di Kota Medan, Sumatera Utara juga tak ketinggalan dalam menjalankan tradisi yang sudah dilakukan rutin setiap menjelang perayaan Imlek.
Mengingat warga Tionghoa di Medan cukup banyak, momen Imlek jadi begitu terasa.
Baca Juga: Melihat Perayaan Imlek di Indonesia dari Masa Soekarno Hingga Sekarang
Lantas, apa saja tradisi warga Tionghoa di Kota Medan menjelang perayaan tahun baru Imlek?
Berikut ulasan Pojoksatu yang dirangkum dari berbagai sumber:
1. Pulang Kampung
Tradisi pulang kampung ternyata juga berlaku bagi warga Tionghoa menjelang Imlek. Momen ini pastinya dimanfaatkan oleh mereka kembali ke kampung halaman saat menjelang dan saat perayaan Imlek berlangsung.
Ketika perayaan Imlek, mereka yang bertempat tinggal di Kota Medan biasanya akan pulang kampung ke Pematangsiantar, Binjai, Tebing Tinggi, dan daerah-daerah lainnya.
2. Bagi Angpao
Angpao sudah pasti dikaitkan dengan momen perayaan Imlek. Tradisi yang cukup terkenal di kalangan masyarakat secara umum ini tentunya termasuk dalam tradisi menjelang perayaan Imlek yang wajib dilaksanakan.
Biasanya angpao berisikan sejumlah uang dengan nilai yang berbeda-beda. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.
Baca Juga: Menikmati Indahnya Pantai Lovina Bali, Destinasi yang Tak Pernah Sepi Pengunjung Bule Maupun Lokal
3. Saling Minta Maaf
Momen silaturahmi dan maaf-maafan pasti tak lepas dari momen perayaan Idulfitri. Akan tetapi, warga Tionghoa di Medan ternyata melaksanakan tradisi yang serupa menjelang Imlek.
Tradisi meminta maaf ini dimulai dari mereka yang usianya lebih muda kepada orang yang lebih tua.
4. Fang Teh
Selanjutnya ada satu tradisi yang dilakukan warga Tionghoa saat Imlek secara turun-temurun. Tradisi ini dinamakan Fang Teh.
Baca Juga: Cerita Allan Nairn Si Jurnalis Investigasi Tentang Sosok Prabowo, Ungkap Hal Mengejutkan Ini
Fang Teh merupakan tradisi pemberian secangkir teh oleh anggota keluarga yang lebih muda ke anggota keluarga yang lebih tua.
Adapun makna yang mendalam pada tradisi Fang Teh atau minum teh bersama ini, yaitu memberi penghormatan kepada orang yang lebih tua dan meminta permohonan maaf atas kesalahan perbuatan yang telah mereka lakukan selama setahun.
5. Mengunjungi Kuil atau Vihara
Pada malam tahun baru Imlek, biasanya warga Tionghoa akan pergi berdoa ke kuil atau Vihara agar mendapatkan keberutungan.
Baca Juga: Anies Respon Erick Thohir Soal BUMN Diganti Koperasi: Fitnah yang Tidak Masuk Akal
Kemudian, tujuan lainnya adalah menenangkan arwah leluhur mereka juga penting untuk membawa makanan yang nantinya dibakar sebagai bentuk persembahan kepada mereka.
6. Festival Lampion
Perayaan Imlek yang sangat meriah jatuh kepada festival lampion yang pastinya tidak pernah dilewatkan oleh warga Tionghoa dimanapun.
Biasanya, acara ini akan berlangsung pada akhir perayaan Imlek atau diakhiri dengan bulan purnama.
Baca Juga: Anies Respon Erick Thohir Soal BUMN Diganti Koperasi: Fitnah yang Tidak Masuk Akal
Banyak keluarga Tionghoa menuliskan fu (福 – Fú) untuk mendatangkan keberuntungan sebelum melepaskan lampion ke langit. Ada juga lampion Kongming yang dianggap sangat penting ketika festival lampion.
Tujuan dari pelepasan lampion ke langit ini agar dapat terbang tinggi ke surga sehingga permintaan mereka terkabul di tahun baru.
7. Menonton Barongsai
Selain angpao, tradisi yang sangat identik dengan perayaan Imlek adalah menonton barongsai. Pertunjukan ini telah menjadi ikon pada perayaan yang digelar setahun sekali tersebut.
Baca Juga: Bukan Suap, Kabid Humas Sebut Kasus PPPK Batu Bara 2023 Dugaan Pemerasan oleh Kadis Pendidikan Cs
Penggambaran naga menurut mereka adalah membawa kemakmuran dan nasib baik. Oleh karena itu, tradisi menyaksikan barongsai menjadi sesuatu yang tak boleh dilupakan dalam peryaan Imlek.
8. Pemberian Kue
Selanjutnya, tradisi yang satu ini berangkat dari sebuah mitologi cina Zao Jun atau Dewa dapur selalu melaporkan hal yang baik dan buruk yang telah dilakukan manusia kepada kaisar langit.
Banyak warga Tionghoa yang menyanjungnya dengan menyalakan petasan, membakar dupa hingga persembahan kue spesial bernama Niángāo.
Tradisi tersebut dilakukan agar Zao bisa memberikan laporan yang baik tentang tindakan manusia serta memberkati keluarga mereka dengan kehidupan yang sehat dan kaya. ***

