POJOKSATU.ID, SUMUT - Pada tahun 2023, prevalensi stunting di Sumatera Utara menjadi 18,9%. Hal ini turun 2,2% dari tahun sebelumnya yaitu 2022 sebesar 21,1%.

Pj Gubernur Sumut, Agus Fatoni mengatakan penurunan angka stunting ini karena hasil kerja keras dari seluruh stakeholder untuk menekan angka prevalensi stunting.

“Sumut terus melakukan intervensi untuk menekan prevalensi stunting, baik intervensi spesifik maupun intervensi sensitif. Kita terus berupaya agar prevalensi Sumut turun hingga 14%,” ujar Fatoni.

Baca Juga: Ade Puspitasari Mulai Gencar Pamerkan Uu Saeful Mikdar dan Nurul Sumarheni, Ketua DPD Kota Bekasi : Cuma Golkar yang Usung Perempuan

Ditambahkan Fatoni, saat ini progres intervensi spesifik yang dilakukan Provinsi Sumut berdasarkan dari indikator pada Triwulan II telah terlihat, yaitu skrining anemia pada remaja putri kelas 7 dan 10 terealisasi mencapai 37,8 dari target 90. Kemudian, indikator konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri target 58 pada Triwulan II mencapai 27,9.

Selanjutnya, indikator pemeriksaan kehamilan (ANC) sebanyak 6 kali dari target 100, terealisasi 72,3 dan indikator pemberian makanan tambahan bagi Ibu Hamil Kurang Energi Kronis ditargetkan 90, terealisasi 69,6.

Tak hanya itu, indikator pemantauan pertumbuhan balita ditargetkan 90 terealisasi 74,8, indikator ASI eksklusif dari target 80 terealisasi 56,3 serta indikator MPASI kaya protein hewani bagi bayi dua tahun (baduta) dari target 80 terealisasi 92,4.

Baca Juga: 5 Fakta Harta Kekayaan Bakal Calon Wali Kota Bogor Rena Da Frina, Alumni IPB yang Menjadi Kadis PUPR Kota Hujan

Kemudian, indikator balita gizi kurang mendapatkan tambahan asupan gizi dari target 90 terealisasi 74,7, indikator balita gizi buruk yang mendapat pelayanan tata laksana gizi buruk target 90 terealisasi 82,1 dan indikator balita memperoleh imunisasi dasar lengkap dari target 90 terealisasi 70,40.

Terakhir, indikator Desa Bebasa dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS) ditargetkan dari 90 telah terealisasi 45.

Sementara itu, berdasarkan data Stunting Provinsi Sumut Juni-Agustus 2024 dengan sumber data dari e-ppgbm (elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat) mencatat berdasarkan penimbangan pengukuran bulan Juni jumlah Balita sebanyak 982.317, stunting 23.788 atau 2,42%.

Baca Juga: Bocoran Jenis Ujian dan Soal UKPPPG Guru Tertentu 2024, Kuasai Tipe-tipe Soal ini Dijamin LULUS

Kemudian, pada bulan Juli jumlah Balita 792.664, stunting 21.685 atau 2,73 persen dan pada penimbangan pengukuran bulan Agustus jumlah balita 681.377, stunting 20.924 atau 3,07%.

Fatoni mengatakan Dinas Kesehatan Sumut telah melakukan sejumlah upaya percepatan penurunan stunting, di antaranya pengadaan Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri dan ibu hamil, pengadaan vitamin A, pengadaan Mineral Mix, surveilans dan tata laksana percepatan perbaikan gizi.

Kemudian dilakukan juga pendamingan kesehatan usia produktif dan calon pengantin, pengadaan makanan pendamping ASI, pengadaan Susu Tinggi Protein untuk ibu hamil, replikasi Momentum Private Healthcare Delivery (MPHD) di Rumah Sakit untuk penanganan kegawatdaruratan ibu hamil/bersalin dan upaya lainnya.

Baca Juga: Dua Periode Lolos jadi Anggota DPRD Jawa Barat Ade Puspitasari Gelar Pesta Rakyat di Rumahnya

Terkait hal itu, Provinsi Sumatera Utara meraih penghargaan Kinerja Tahun Berjalan Kategori Penurunan Stunting tingkat Provinsi Tahun 2024 karena dinilai telah berhasil menekan angka prevalensi stunting.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin kepada Penjabat (Pj) Gubernur Sumut Agus Fatoni dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (4/9/2024) kemarin.

Selain penghargaan tersebut, pemerintah pusat melalui Menteri Keuangan RI juga memberikan insentif fiskal untuk penerima penghargaan Kinerja Tahun Berjalan Kelompok Kategori Kesejahteraan Masyarakat menurut Provinsi/Kabupaten/Kota.

Baca Juga: Sunmori ADV Riders Bandung: Tantangan Seru dan Pemandangan Memukau di Alam Bebas

Dinilai mampu mengendalikan inflasi, Pemerintah Provinsi Sumut menerima penghargaan Insentif Fiskal sebesar Rp 775 miliar yang diterima langsung oleh Pj Gubernur Sumut Agus Fatoni.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Presiden (Wapres) RI Ma’ruf Amin mengatakan prevalensi stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak turun selama lima tahun terakhir, yaitu pada tahun 2018 tercatat sebesar 30,18% menjadi 21,5% pada tahun 2023.

Prevalensi stunting sendiri kerap digunakan untuk menggambarkan jumlah kasus stunting yang ada di suatu daerah berdasarkan data yang telah dihimpun.

“Selama pelaksanaan program percepatan penurunan stunting lima tahun terakhir, begitu banyak kemajuan yang sudah tercatatkan. Artinya dalam 5 tahun kita bisa menurunkan prevalensi stunting sebesar 9,3% atau rata-rata, 1,85% per tahunnya,” kata Wakil Presiden.

Baca Juga: Nikita Mirzani Sebut Baim Wong Segera Jadi Duda, Isu Perceraian dari Paula Verhoeven Makin Santer

Wakil Presiden pun mengklaim penurunan ini 1,5 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan periode 2013-2018. Oleh sebab itu, dirinya mengapresiasi seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam program percepatan penurunan stunting secara nasional tersebut.

“Kita patut berbangga bahwa semua pencapaian ini adalah buah dari kerja keras kerja cerdas dan kerja kolaboratif kita semua,” ucap Wakil Presiden. ***