POJOKSATU.id, DELI SERDANG - Pihak kepolisian tengah menindaklanjuti terkait indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menyebabkan ratusan pengungsi Rohingya terdampar di KabupatenDeli Serdang, Sumatera Utara.
Terkait hal itu, Pemerintah Kecamatan Labuhandeli menggelar rapat koordinasi dengan pimpinan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Deli Serdang, Timut Tumanggor, pada Rabu (3/1/2024) kemarin.
Sebelumnya, masyarakat sekitar sudah menaruh curiga, karena adanya dugaan unsur kesengajaan yang menyebabkan kapal yang membawa para pengungsi tersebut karam di perairan Desa Karang Gading.
Diketahui sebanyak 157 pengungsi Rohingya terdampar di Pantai Mercusuar, Dusun 15, Desa Karang Gading, Kecamatan Labuhandeli, Kabupaten Deli Serdang pada minggu (31/12/2023).
Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Janton Silaban mengatakan, ada indikasi TPPO dari kasus ini. Hal itu berawal dari keterangan warga yang mengaku melihat tiga kapal hendak berlabuh di sekitar Pulau Mercusuar dengan Desa Kwala Besar.
Namun dua kapal di antaranya kembali berlayar setelah diusir warga, dan satu kapal yang membawa 157 pengungsi, karam. Diduga kapal yang ditumpangi para pengungsi tersebut sengaja dilubangi.
“Nakhoda yang membawa kapal para pengungsi itu, pun diduga melarikan diri ke tengah laut,” ungkap Janton.
Saat ini, menurut Janton, pihaknya masih menyelidiki indikasi adanya TPPO dalam kasus 157 pengungsi Rohingya yang terdampar tersebut.
Dia mengatakan, pihak kepolisian akan bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Imigrasi, untuk mendalami indikasi tersebut.
Kepala Desa Karang Gading, Agus Sanjaya mengatakan, saat ini para pengungsi masih ditempatkan di tempat sebelumnya.
“Masih tersedia bahan makanan yang layak untuk mereka. Dan kemarin, Bapak Bupati Deliserdang sudah datang dan memberikan bantuan. Artinya, pihak Pemkab maupun kecamatan, peduli terhadap para pengungsi ini,” ujarnya.
Menurutnya, masuknya WNA ke wilayah Pulau Mercusuar, memang karena tidak ada penjagaan.
“Pulau tersebut tidak berpenghuni, yang mendapati mereka (pengungsi Rohingya) masuk ke pulau tersebut adalah warga Desa Kwala Besar, yang ada di seberang Pulau Mercusuar. Untuk saat ini, belum ada penolakan dari warga sekitar terhadap 157 WNA Rohingya tersebut,” jelas Agus. ***

