POJOKSATU.id, MENJADI pesepakbola adalah impian sejak kecil Elina Soka, mantan gelandang PSMS. Tapi, dia pernah terlibat dalam peristiwa kelam 'sepak bola gajah'. Dan, kejadian inilah menjadi titik baliknya menapaki jalan hijrah.
Ya, Elina Soka yang musim ini berseragam PSPS Riau telah hijrah sejak tahun 2017, tepat setahun setelah dirinya menyelesaikan sanksi PSSI karena terlibat 'sepak bola gajah'.
"(Hijrah) tahun 2017 sebelum menikah, waktu itu masih di PSIS Semarang, saya disanksi karena sepak bola gajah lawan PSS Sleman. Disanksi dua tahun," ujarnya kepada Pojoksatu.id.
Elina Soka masuk dalam daftar pesepak bola yang disanksi karena terlibat sepak bola gajah pada 26 Oktober 2014.
Baca Juga: Turnamen Edy Rahmayadi Cup 2023, Persiapan Terakhir PSMS Sebelum Berlaga di Liga 2 Musim Ini
Dimana, dalam laga terakhir babak delapan besar Divisi Utama yang berlangsung di Stadion Sasana Krida AAU, Yogyakarta, baik PSS dan PSIS telah memastikan lolos ke semifinal. Tapi, kedua tim ogah menang di pertandingan ini.
Sepanjang pertandingan, kedua tim sengaja melakukan gol bunuh diri. Para pemain sama sekali tidak berniat bermain menyerang dan bermain-main di daerah pertahanan sendiri.
Penonton akhirnya benar-benar disuguhi laga aneh pada menit ke-78 dan ke-80, dua pemain PSS mengiring bola ke gawangnya atau gol bunuh diri, dan kiper tanpa reaksi apapun.
PSIS juga melakukan hal yang sama. Tiga gol bunuh diri pada menit 89', 90+1' dan 90+3'.Hingga pertandingan usai, PSS Sleman memenangkan pertandingan dengan skor 3-2.
Baca Juga: Channel YouTube Miliknya 'Qiss You TV' Diretas, Ayu Ting Ting : Jahat Banget Orang Tuh
Kasus itu tak hanya jadi sorotan publik tanah air, bahkan FIFA juga merespon dan media internasional memberitakan pertandingan memalukan ini.
Akibatnya, semua pemain dan ofisial tim yang terlibat dikenai sanksi. Dan, Elina Soka salah satunya, dia disanksi dua tahun tidak boleh bermain bola di kancah nasional.
"Selama dua tahun itu saya mikir gimana bisa membayar cicilan, punya tanggungan, kalau enggak main bola," kenangnya.
Dengan sisa tabungan yang ada, dia terpaksa turun gunung dengan bermain sepak bola kampung atau tarkam. Diapun sekuat tenaga menyelesaikan kuliah di Universitas Semarang.
Meski berat, dia bisa menjalani semuanya. Hingga tak terasa dua tahun berlalu, sanksinya selesai.
Tak disangka, ada klub yang bersedia menerimanya yaitu Persis Solo. Dari sini, dia sadar Allah sangat sayang dengannya.
"Dari situ aku sadar selama disanksi itu saya masih dimudahkan rezeki. Jadi pas sanksi bebas, alhamadulilah masih ada yang terima di Persis Solo," ujarnya.
Pemain yang lahir di Semarang, 18 Jun 1992 inipun mulai memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT. Dia memutuskan hijrah tapi tetap bermain sepak bola.
Dia bersyukur berada di Persis Solo saat itu karena banyak teman yang sejalan dengannya dan selalu mengingatkan dalam kebaikan.
"Alhamdulillah Allah mendekatkan saya dengan teman-teman yang memang benar-benar hjrah, jadi saya di tempat yang tepat dengan teman yang tepat," ungkapnya.
Tak lama kemudian, Elina Soka menikah dengan kekasihnya, Nia Septa. Mereka sempat pacaran sebelum dia hijrah.
Dia beruntung punya pasangan yang juga mendukung langkah hijrahnya. Istrinya mau menurut saat diminta meninggalkan pekerjaan lama dan menutup aurat.
"Setelah menikah pelan-pelan kita ubah, alhamdulillah istri sangat mendukung dan mau meningalkan dunia pekerjaannya. Sebelumnya hairdo, dia meninggalkan dunianya, alhamdulillah, sekarang ibu rumah tangga," jelasnya.
Dari sekadar memakai hijab, sekarang istri Elina Soka juga memakai niqab. Sedangkan, Eli sudah memakai legging panjang menutupi semua kaki hingga paha setiap kali bermain bola.
Eli mengakui tak ada masalah hijrahnya dengan bermain bola. Hanya saja, memang dia tak bisa sesering teman-temannya untuk hang out ketika waktu lowong. Sebab, dia menghabiskan waktunya untuk kajian di luar lapangan hijau.
Ketika di PSMS era 2019-2021, Eli sering mengikuti kajian di Medan. Dia juga kerap diplot jadi imam saat salat berjamaah.
Baca Juga: Jadwal Bola Hari Ini 1 Agustus: PSG vs Inter, China vs Inggris, Kualifikasi Liga Champions
"Enggak ada kendala, kawan-kawan tahu jadwal saya dan mengerti kapan jadwal saya kajian. Ya, sering jadi imam, kalau ada yang lebih tua saya persilahkan, sering dimintai nasehat juga sama pemain yang lebih muda," tuturnya.
Pemain yang mengidolakan Zidane Zidan dan Firman Utina ini menceritakan menyukai sepak bola sejak SD kelas III. Padahal, saat itu sang ayah menginginkannya jadi pebulutangkis.
"Bapak pengennya saya ikut bulu tangkis, sudah dibelikan raket juga. Tapi saya bilang sama kakak saya mau main bola, akhirnya disekolahkan juga ke SSB (sekolah sepak bola)," jelasnya.
Eli kemudian ikut seleksi PSIS Junior saat kelas VI SD, juga seleksi Timnas U13.
Baca Juga: Jadi Korban Perdagangan Orang ke Suriah, Rieke Diah Pitaloka Janji Bakal Perjuangkan Dede Aisyah
"Alhamdulillah saya keterima. Dari timnas U13 sampai U16 tahun dipanggil terus, alhamdulillah dimudahkan sama Allah," ungkapnya.
Dari itu, dia masuk skuat PON Jawa Tengah dan akhirnya ke PSIS selama tiga tahun. "Lalu ke PSS Sleman, Persis Solo, Cilegon (United), PSMS Medan, (sekarang ke PSPS Riau)," sebutnya.
Saat ini, Elina Soka hanya ingin tetap eksis di sepak bola meski usianya sudah 31 tahun dan tetap istiqamah di jalan hijrahnya.
"Yang penting saya bisa terus eksis, menafkahi keluarga saya, bisa bertanggung jawab sebagai suami," pungkas Elina Soka. ***

