POJOKSATU.id - Penanganan banjir besar dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut) dan sekitarnya perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan, terutama di kawasan hulu, lereng curam, serta sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Pemetaan wilayah rawan bencana dengan memanfaatkan teknologi juga dinilai penting untuk mengantisipasi banjir susulan.

Ketua Indonesian Science Education Research (I-SER) Universitas Indonesia, Prof. Jatna Supriatna, mengatakan ancaman banjir belum tentu berakhir setelah hujan ekstrem berhenti.

Dijelaskannya, material tanah yang telah mengalami pelapukan atau menjadi longgar di kawasan pegunungan masih berpotensi terbawa air ketika hujan kembali turun.

Baca Juga: 17 SNT Resmi Dimulai, Gunakan Kurikulum Nasional Plus, Siswa Wajib Ikut Pramuka dan Pencak Silat

“Walaupun hujannya tidak seperti yang lalu, banjirnya bisa jadi. Karena tanahnya sudah tidak kompak sekarang, sudah gembur kebanyakan dan akhirnya material yang masih di gunung itu akan terus kena air,” ungkapnya paparan 'Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Prof. Jatna, kondisi tersebut membuat penanganan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada wilayah yang telah terdampak. Kawasan hulu, lereng curam, dan jalur sungai perlu menjadi perhatian karena material longsoran dan erosi dari kawasan tersebut dapat terbawa menuju hilir saat hujan kembali terjadi.

Dia juga mendorong pemetaan kawasan rawan bencana menggunakan teknologi untuk mengetahui pola aliran air dan potensi wilayah yang kembali terdampak banjir.

“Dengan alat-alat yang sangat canggih kita bisa melihat lima meter di bawah sungai itu dulu pernah ada sungai purba yang mengalirnya begitu. Jadi kita tahu sekarang mana daerah yang akan banjir yang akan datang, kita lihat modelnya,” jelasnya.

Baca Juga: Polda Metro Jaya Usut Kasus Hapalan Alquran Diberi Imbalan Miras, Cermati Dugaan Penistaan Agama

Prof. Jatna, yang juga Vice Chair of the Section on Great Apes IUCN SSC, menilai rentetan banjir besar dan longsor di Sumut serta sejumlah wilayah sekitarnya tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor. Fenomena cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu utama, terutama ketika intensitas hujan sangat tinggi terjadi dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko longsor di kawasan bertopografi curam. Material dari kawasan hulu kemudian dapat terbawa ke aliran sungai dalam jumlah besar dan memperparah dampak banjir di wilayah hilir.

“Badai-badai yang besar itu kemungkinan terjadinya ratusan tahun sekali. Kalau tidak ada 200 tahun, baru terjadi lagi. Jadi memang ini musibah yang sangat besar,” ujar Prof. Jatna.

Dia menjelaskan, fenomena tersebut berkaitan dengan anomali cuaca di tengah perubahan iklim. Peristiwa ekstrem yang sebelumnya tergolong jarang terjadi.

Baca Juga: KAI Daop 9 Jember Tutup 14 Perlintasan Liar, Pelanggar Terancam Denda Rp100 Juta Jika Nekat Buka

Menurutnya, kini perlu semakin diantisipasi karena berpotensi menjadi bagian dari kondisi yang harus dihadapi pada masa mendatang.

Karakteristik wilayah juga menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat kerusakan. Berdasarkan kajian yang dilakukan, kawasan di sekitar sungai merupakan salah satu wilayah kritis karena menjadi jalur utama aliran air sekaligus material yang terbawa dari kawasan hulu.

Prof. Jatna mengatakan kawasan hutan di daerah curam juga dapat mengalami dampak berat ketika diguyur hujan ekstrem. Kondisi tanah di sejumlah wilayah tersebut turut berkaitan dengan material vulkanik lama, termasuk endapan yang berasal dari letusan Gunung Toba.

“Kalau kena air sampai 300 milimeter per hari, itu sama dengan satu curah hujan satu bulan dalam satu hari. Jadi hancurlah semua hutan itu,” katanya.

Sementara itu, kondisi pada perkebunan kelapa sawit, karet maupun kawasan budidaya lainnya dapat berbeda karena umumnya berada di wilayah yang lebih landai.

Baca Juga: Jangan Terbalik Lagi! Aturan Penempatan Angka Ulang Tahun HUT RI yang Sering Bikin Bingung Netizen

Karena itu, tingkat kerusakan tidak dapat dibandingkan hanya berdasarkan jenis tutupan lahan, tetapi harus mempertimbangkan topografi dan kondisi geologi masing-masing kawasan.

Prof. Jatna menegaskan dirinya tidak ingin masuk ke ranah politik maupun menarik kesimpulan tanpa dasar penelitian. Namun, ia menilai banjir besar yang terjadi di sejumlah daerah menunjukkan adanya pola cuaca ekstrem yang perlu mendapat perhatian serius.

“Kalau saya sebagai scientist, saya tidak mau berpolitik. Tapi itu memang ada banjir besar. Banjir besar yang terjadi sangat anomali,” ujarnya.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil kajian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) mengenai banjir bandang Batang Toru dan Garoga pada November 2025.

Kajian tersebut menyimpulkan bencana merupakan hidrometeorologi yang dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, kemudian diperkuat oleh kondisi geomorfologi pegunungan, struktur geologi, dinamika daerah aliran sungai (DAS), migrasi saluran sungai, serta karakteristik sedimen bawah permukaan.

Baca Juga: GTC di Jantung Kota Cirebon Sampai Kapan Aset Publik Dibiarkan Mangkrak?

Kajian yang mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh, dan hidrometeorologi itu tidak menemukan bukti yang menghubungkan kejadian banjir dengan aktivitas operasional pertambangan.

Studi yang dilakukan di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara pada Februari-Juni 2026 tersebut juga mendapati material banjir berasal dari longsoran dan erosi di bagian hulu Tapanuli Utara.

Material tersebut kemudian diangkut melalui sistem Sungai Batang Toru dan Garoga menuju wilayah hilir.

Prof. Jatna menegaskan, pola serupa perlu dilihat secara menyeluruh karena bencana banjir besar tidak hanya terjadi di satu wilayah. Fenomena tersebut juga tercatat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Karena itu, penanganan banjir dan mitigasi bencana ke depan perlu menggabungkan kajian mengenai cuaca ekstrem, topografi, kondisi tanah, karakter sungai, geologi, serta perubahan lingkungan. “Ini memang anomali cuaca,” ujarnya. ***