POJOKSATU.id,MEDAN - Masyarakat Kota Medan tengah dihebohkan dengan kondisi di kawasan Jalan Sudirman yang licin. Dalam video yang viral itu, katanya jalan tersebut dipasangi keramik.
Namun, Wali Kota Bobby Nasution membantan hal tersebut. Katanya, jalan licin yang membuat sejumlah pengendara motor tergelincir di persimpangan Jalan Sudirman di depan rumah dinas Gubernur Sumatera Utara itu tidak berbahan keramik.
Bobby mengatakan, jalan tersebut terbuat dari beton, tapi pengerjaannya belum selesai.
Baca Juga: Soal Tuduhan Mahfud MD Curi Start Kampanye Pose Tiga Jari, TPN Ganjar : Itu Hanya Gestur
Kepala Dinas Sumber Daya Air Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Topan Obaja Putra juga memastikan bahan pembuatan jalan di depan rumah dinas Gubernur Sumut itu bukan keramik, melainkan beton.
Topan mengatakan, viralnya video itu berawal saat pihaknya melakukan uji coba proyek pembetonan jalan di Simpang Jalan Sudirman, pada Senin 20 November 2023 sore.
Ditambahkan Topan, terjadi miskomunikasi antara pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan Kota Medan. Jalan yang seharusnya hanya untuk uji coba, justru dibuka untuk umum. Alhasil, pemotor yang melintasi simpang Jalan Sudirman tergelincir.
Penyebab jalan itu licin, kata Topan, karena beton diberi finishing couting. Setelah dikasih couting ada pencucian lagi menggunakan bahan kimia. Namun, jalan yang belum dicuci itu sudah dilalui.
Topan mengatakan, proyek senilai Rp 1,7 miliar itu baru akan selesai pekan depan. Karena itu penutupan jalan masih akan terus dilakukan.
Sebelumnya diberitakan, viral di media sosial video pengendara sepeda motor tergelincir saat melintasi simpang Jalan Sudirman, Kota Medan.
Tidak hanya jalan yang licin, beberapa pembangunan di Kota Medan yang dilakukan menantu Presiden Joko Widodo ini memang kerap menuai kontroversi.
Pada April 2023 lalu, proyek pemasangan 1.700 lampu di sejumlah ruas jalan di Kota Medan pun menuai sorotan. Pemko Medan pun resmi memutuskan proyek yang kerap disebut lampu pocong ini gagal, dan meminta pihak kontraktor bertanggungjawab.
Lampu jalan yang disebut lampu pocong ini tersebar di beberapa jalan di Kota Medan, termasuk Jalan Brigjen Katamso, Medan.
Baca Juga: Pemkab Cirebon Tuntaskan Angka Kemiskinan Melalui Sistem Pelayanan SI PEPEK
Di sana tampak ratusan lampu berukuran sekitar 3 meter, berdiri di sisi jalan. Bagian lampu mirip layang-layang, sementara tiang penyangga terbuat dari semen yang sekilas mirip pocong.
Lampu tersebut berjejer di kedua sisi jalan dan menghadap ke trotoar bagi pejalan kaki. Namun, di tempat yang sama juga tampak banyak lampu jalan lain yang mengitari lampu pocong tersebut.
Penataan lampu juga terlihat tidak rapi dengan jarak antarlampu berbeda-beda, ada yang berjarak 5 meter, ada pula yang berjarak 10 meter.
Baca Juga: Anies Baswedan Kritik Lagi Kebijakan Jokowi Soal Kesehatan dan Pendidikan : Semua Akan Kita Rombak
Wali Kota Medan Bobby Nasution menegaskan bahwa proyek bernilai Rp 25,7 miliar itu gagal. Menurut Bobby, kegagalan diduga lantaran ada kelalaian dalam perencanaan.
Kelalaian tersebut, mulai dari spek bahan hingga sistem pengerjaan yang tidak sesuai prosedur. Akibatnya, proyek penataan lanskap dan pemasangan lampu jalan lebih dari seribu unit ini tidak sesuai perencanaan awal.
Bobby menyampaikan, total anggaran pengerjaan lampu pocong adalah sekitar Rp 27,5 miliar. Dari angka tersebut, sebesar Rp 21 miliar sudah dibayarkan kepada pihak ketiga.
Baca Juga: Sempat Diretas, Diskominfo Pastikan Situs Website Pemkot Bandung Sudah Kembali Normal
Pihaknya lantas meminta Dinas Sumber Daya Air Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan untuk melakukan penagihan menyeluruh terhadap proyek lampu pocong. Adapun pihak yang harus mengembalikan anggaran, yakni pihak ketiga atau kontraktor.
Bukan hanya itu, kontraktor juga diminta untuk membongkar sejumlah unit lampu yang telah terpasang. Sebab, menurut Bobby, proyek lampu jalan ini belum diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Kota Medan.
Bahkan warga Kota Medan juga menilai lampu pocong tersebut membuat Kota Medan terlihat semerawut.
Baca Juga: Kesal Disebut Anak Dajjal, Mahasiswa Unisula Tega Habisi Ibu Kandungnya yang Baru Selesai Shalat
Kontroversi juga terjadi pada pembangunan median jalan di kawasan Karya Wisata Kota Medan pada tahun 2022 lalu. Pembangunan ini mendapatkan respon negatif dari warga Medan, khususnya warga Medan Johor.
Pasalnya pembangunan median jalan tersebut dianggap mempersulit warga bahkan lebih menimbulkan kemacetan. Pembangunan median jalan tersebut dimulai November 2022 lalu.
Warga menilai median jaan tersebut menjadi sumber kemacetan baru dan menyulitkan warga yang hendak berputar arah maupun sekadar menyeberang jalan. Karena median jalan tersebut membentang sepanjang 1,3 Km tanpa bukaan. Median jalan tersebut juga memiliki ketinggian 85 cm.
Belasan warga kompleks J City, kompleks perumahan dan pusat bisnis di Jalan Karya Wisata pun sempat melakukan aksi demo. Mereka meminta median atau pembatas jalan di Jalan Karya Wisata tersebut dibongkar.
Baca Juga: China Masters 2023: Singkirkan Wakil Thailand, Jorji Tantang Juara All England 2 Kali
Meski begitu, pengerjaan median jalan di kawasan Jalan Karya Wisata, Kota Medan ini telah selesai dikerjakan. ***


