POJOKSATU.id, MEDAN-CEO PSMS, Ariffudin Maulana Basri mengungkapkan keinginannya membawa tim Ayam Kinantan berkandang atau memiliki homebase di luar Sumatera Utara (Sumut). Ini setelah belum jelasnya stadion lokal mana yang boleh digunakan musim ini.
"Aku enggak tahu orang-orang pada terima apa enggak, ini saya pribadi. Supaya jadi tolak ukur sama pecinta PSMS ini semua. Dengan melihat kondisi di Sumatera Utara sekarang, apa-apa susah," ujarnya dikutip dari Podcast Tommy Desky.
Hingga saat ini, Ari mengatakan opsi venue yang akan PSMS gunakan musim ini adalah Stadion Baharoeddin Siregar, Lubukpakam, Deliserdang. Sedangkan, Stadion Teladan belum pasti karena masih direnovasi dan akan digunakan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON).
Kondisinya, tiap menggelar laga di Stadion Baharoeddin Lubukpakam, PSMS selalu rugi.
"Setiap di Stadion Teladan, alhamdulillah itu enggak pernah rugi. Misalnya pengeluaran panpel Rp100 juta, tiket bisa dapat Rp100 juta, sisa bisa buat bonus pemain, Rp100 juta walau engak berharga kali di bola, setidaknya bisa menutupi cost yang lain," jelasnya.
Baca Juga: Tragis, Manajemen Ajukan Permohonan ke 63 Perusahan untuk Jadi Sponsor PSMS, Hasilnya? Nihil
"Begitu pindah dari Teladan, kita main di Baharoeddin, biaya pertandingan lebih tinggi dari Teladan, itu juga saya enggak tahu kenapa. Kalau di Teladan sekali pakai Rp100 juta dipakai, di Pakam bisa Rp150 juta," sambungnya.
Dia mengaku pusing tiap kali PSMS bertanding di Stadio Baharoeddin Siregar, sebab memikirkan lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan.
"Setiap pertandingan di Pakam rugi Rp100 juta, penonton enggak ada, banyak yang komplain jauh. Jadi setiap pertandingan di Baharoeddin aku selalu pegang kepala, belum main sudah tahu kita rugi," ungkapnya.
Oleh karena itu, dia berharap pemerintah daerah bisa membantu PSMS. "Aku selalu berharap pemerintah Sumut, tolong bantu bukan untuk saya, bukan siapapun, bantu PSMS-nya. Ini herritage kita, supaya bisa kita jaga hiburan rakyat Sumut tetap ada," beber menantu Edy Rahmayadi ini.
Baca Juga: Dicap Lamban Merekrut Pemain Asing, Ini Alasan Manajemen PSMS
Untuk Stadion Teladan, Ari berharap setelah PON masih bisa diberikan izin bermain di sana seperti sedia kala.
"Mungkin ini karena ada PON, tapi setelah PON biarlah kami main, memakai fasilitas untuk jadi kandang kami, izinkanlah, bukan untuk kami, tapi PSMS Medan, itu permohonan saya," ucapnya.
Kalau ternyata tidak ada lampu hijau dari pemerintah daerah, maka dia secara pribadi memikirkan baiknya PSMS bertanding di luar.
"Kalau ini tidak izinkan untuk digunakan, ya balik lagi, dengan biaya yang banyak, buat apa kami main di Medan," sebutnya.
Dia menjelaskan ingin PSMS domisili di Jakarta, karena minimnnya perhatian pemerintah daerah dan faktor-faktor lainnya.
"Pertama enggak ada perhatian, kedua fasilitas juga enggak ada. Dengan pertimbangan rata-rata klub wilayah barat domisili Jakarta, jadi enggak bayar tiket pesawat. Toh di Medan saya bayar mess, bayar catering, sama aja," tukasnya.
"Di Jakarta juga kalau saya stay sama saja, malah di Medan sudah rugi main di Pakam, kita pergi pergi banyak, cost jauh lebih gede," timpalnya.
Tapi kembali lagi ini ide pribadinya. Sebab, faktanya Edy Rahyamadi menentang rencana itu.
"Mau kupindahkan main di Jakarta, ayah (Edy) enggak diizinkannya aku main di Jakarta. Karena ini (PSMS) hiburan rakyat Sumatera Utara, jadi di Sumut lah. Karena beliau enggak mau PSMS main di luar, tapi enggak tahulah itu dinamika, kalau stadion enggak bisa dipakai, saya bicara cost," paparnya.
Jika nanti pada akhirnya tetap PSMS main di Sumut, dia ingin berkoordinasi dengan pengelola Stadion Baharoeddin Siregar, soal pemanfaatan agar membantu meringankan biaya.
"Semoga orang Baharoeddin setuju, kalau enggak, ya mungkin kayak aku komunikasi sama Stadion Madya (Jakarta)," pungkasnya. ***
