POJOKSATU.id, SUMUT - Hari ini 18 tahun silam, sebagian masyarakat Kota Medan tentunya masih mengingat peristiwa Pesawat Mandala Airlines dengan nomor penerbangan RI-091 jatuh di permukiman warga.

Tepatnya di Jalan Jamin Ginting, Kawasan Padang Bulan, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan Sumatera Utara.

Peristiwa itu terjadi pada 5 September 2005 silam.

Kecelakaan ini terjadi saat pesawat sedang lepas landas dari Bandara Polonia Medan.

Baca Juga: Starlink Elon Musk Siap Gas Internet Indonesia, Nasib Operator Seluler Lokal Bagaimana?

Pesawat itu rencananya akan bertolak ke Jakarta via Padang dengan jadwal keberangkatan pukul 09.40 waktu setempat.

Pesawat tersebut menerbangi jurusan Medan-Jakarta dan mengangkut 117 orang terdiri dari 112 penumpang dan 5 awak.

Sebanyak 149 orang meninggal dunia, termasuk penumpang dan awak pesawat, serta 50 warga di sekitar lokasi kejadian.

Sesaat setelah lepas landas, sekitar pukul 10.06, pesawat membentur pagar landasan, melompati anak Sungai Babura, menghantam perumahan, kemudian meledak dan hancur berkeping-keping.

Baca Juga: Gelandang Korsel Kim Jin Sung Tak Sabar Merumput Bersama PSMS di Liga 2

Pesawat hanya menyisakan ekor pesawat bertuliskan PK-RIM. Sebanyak lima rumah warga yang tertimpa badan pesawat juga terbakar.

Menurut kesaksian seorang penumpang yang selamat, pesawat baru saja lepas landas dan tiba-tiba oleng ke kiri lalu mulailah api menjalar.

Kobaran api selain menghanguskan pesawat juga menghanguskan puluhan rumah dan kendaran bermotor.

Api yang terus menyala menyulitkan usaha penyelamatan jenazah dari bangkai pesawat dan kondisi di sekitar lokasi pun padat oleh penduduk yang penasaran.

Baca Juga: Cak Imin Sempat Nego Posisi Capres ke Nasdem, Surya Paloh: Jangan Macam-macam Kau, Kalau Cawapres ya Cawapres

serpihan badan pesawat beterbangan dan berhamburan di Jalan Jamin Ginting, 100 meter dari Pasar Pagi Padang Bulan, Medan.

Akibatnya, warga di sekitar lokasi juga turut menjadi korban.

Mereka terdiri dari penghuni rumah, pemilik warung, pengayuh becak, dan pejalan kaki.

Ledakan pesawat membuat tujuh rumah hancur terbakar.

Baca Juga: Cek Hasil Reformulasi PPPK Teknis Sekarang, Ada Perubahan Jadwal Pengumuman Optimalisasi PPPK 2022

Serpihan pesawat menimpa tujuh mobil dan sedikitnya 10 sepeda motor yang tengah melintas dan parkir di Jalan Jamin Ginting Di antara penumpang pesawat yang meninggal tercatat Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin yang rencananya akan ke Jakarta menghadiri rapat para gubernur dengan presiden.

Selain itu, dua anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumut, yakni Abdul Halim Harahap dan Raja Inal Siregar yang juga mantan Gubernur Sumatera Utara (1988- 1998) juga turut menjadi korban dalam kecelakaan itu.

Salah seorang saksi bernama Helda Suryani (47), yang merupakan salah seorang penumpang pesawat yang selamat mengaku cemas sesaat sebelum lepas landas.

Baca Juga: Berhasil Berantas Pungli, Ganjar Pranowo Dinobatkan Sebagai Bapak Truk Nusantara

Kecemasannya itu pun terbukti. Begitu lepas landas, suara mesin pesawat terdengar sangat keras.

Ia menjelaskan, badan pesawat terguncang hebat dan oleng berkali-kali. Tak lama kemudian, terdengar ledakan keras dan muncul kobaran api dari arah moncong pesawat.

"Kejadiannya begitu cepat, sekitar 2-5 menit setelah pesawat lepas landas. Saya tak mendengar peringatan dari pilot, kata Helda yang duduk di kursi paling belakang atau 20E.

Helda menuturkan saat itu berdoa juga belum sempat ketika tiba-tiba ada ledakan beruntun yang disusul api menyembur dari arah depan.

Baca Juga: Video Viral Sepupu Thariq Halilintar Diduga Hujat Fuji dengan Kata Kasar, Diserbu Netizen Langsung Klarifikasi

Beruntung, Helda mendapat tempat duduk paling belakang sehingga masih hidup.

Suami Helda, Fredy Ismail (53) yang duduk di kursi sebelahnya juga selamat.

Mereka termasuk 18 penumpang yang selamat dan hampir semuanya duduk di kursi belakang.

Seorang saksi mata, Sangapta Tarigan (42) yang melihat langsung jatuhnya pesawat menuturkan, ekor pesawat sudah menabrak tiang lampu di ujung landasan.

Baca Juga: Pidato AHY Kutip Nama Soekarno, Kode Demokrat Bakal Merapat ke PDIP?

"Setelah itu terdengar ledakan. Pesawat terus melaju sampai ke jalan dan menabrak rumah-rumah yang ada di sisi jalan," Kata Sangapta Tarigan.

Berdasarkan kesaksiannya, pesawat baru berhenti setelah menabrak tiang listrik, lalu meledak lagi, dan patah.
Bagian ekornya tertahan di dekat tiang listrik, sementara bagian depannya hancur menabrak rumah.

Saksi mata lainnya, Noviarti (30) mengatakan, awalnya terdengar suara ledakan keras seperti petir dari ujung landasan yang berdekatan dengan jalan umum.

Para pedagang dan pembeli yang memadati pasar kemudian berhamburan ke jalan.

Baca Juga: Jadi Ganjalan Mahasiswa, Syarat Kelulusan Tergantung Ketua Program Studi, Skripsi Diganti Pakai Ini

Menurut Noviarti, lalu lintas Jalan Jamin Ginting saat itu sedang padat kendaraan.

Ia juga menyaksikan langsung seorang pengendara sepeda motor terlempar akibat ledakan pesawat itu.

Warga kemudian menyelamatkannya, sedangkan sepeda motor pemuda tersebut hangus terbakar. Kebakaran hebat terjadi tak lama setelah ledakan.

Saat itu, sejumlah pihak kemudian menyoroti keberadaan Bandara Polonia sudah tak layak beroperasi.

Baca Juga: DPRD Karawang: Pembangunan Infrastruktur dengan APBD Bisa Dilakukan di Tanah Bukan Milik Pemda

Seorang Pengusaha dan tokoh masyarakat Sumatera Utara Rahmat Saleh mengatakan sebagai bandara internasional, Polonia jelas tidak layak lagi.

Tingkat kepadatan, polusi deru pesawat, dan juga kondisi bandara itu tidak sebanding lagi dengan fasilitas yang ada.

Makin tidak layak lagi karena Bandara Polonia berada di tengah kota dan perkampungan.

Kepadatan Bandara Polonia juga diakui oleh Kepala Cabang PT Angkasa Pura II Bandara Polonia saat itu, Adi Supranto.

Baca Juga: Resmi Dilantik sebagai Pj Gubernur Sumut, Hassanudin : Melanjutkan Apa yang Sudah Baik

Menurutnya, fasilitas Bandara Polonia sudah tak mampu lagi menampung lonjakan penumpang maupun pesawat.

Sedikitnya 4.000 penumpang memadati terminal domestik seluas 7.941 meter persegi dan terminal internasional 9.740 meter persegi dalam sehari.

Data Angkasa Pura II menyebutkan, selama 2004 total pergerakan pesawat di Polonia tercatat 43.552 pesawat, dengan pergerakan penumpang tercatat 3,7 juta orang.

Kini Bandara Polonia sudah tidak difungsikan untuk umum. Seluruh penerbangan di Sumatera Utara dipidahalihkan ke Bandara Kualanamu Internasional di Kabupaten Deli Serdang.***