POJOKSATU.id, SUMUT - Dari banyaknya anggota militer, tak banyak yang suka menulis. Namun, Djamin Gintings adalah pengecualian.
Semasa hidupnya, Djamin Gintings pernah menulis beberapa buku. Salah satu buku karyanya berjudul "Bukit Kadir”.
Buku ini ditulisnya untuk mengenang salah seorang anggota dalam kesatuan tugas dibawah kepemimpinan Djamin Gintings ketika melawan pasukan Belanda. Anggota tersebut bernama Kadir.
Ia meninggal di sebuah perbukitan Tanah Karo. Kadir, gugur dalam suatu pertempuran sengit dengan pasukan Belanda. Sekarang, bukit tersebut juga dikenang dan dikenal dengan nama Bukit Kadir.
Baca Juga: Mengulik 3 Fakta Unik Rumah Pengasingan Presiden Soekarno di Sumut, Ada Terowongan 3 KM
Kisah hidup Djamin Gintings juga menarik untuk dicermati. Bahkan sosoknya pernah dijadikan film nasional berjudul Tiga Nafas Likas. Berikut profilnya.
Dia adalah Letjen TNI (Purn) Djamin Gintings. Seorang pahlawan nasional yang berasal dari Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut).
Djamin Gintings dikenal sebagai sosok pejuang yang berperan besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sejarahnya, Tanah Karo merupakan kawasan tempat Djamin Gintings berjuang pada masa revolusi tahun 1945.
Baca Juga: Berikut 10 Rekomendasi Tempat Cuci Sepatu di Kota Medan. Cek yang Berdekatan Dengan Areamu!
Djamin Gintings lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumut.
Nama lengkapnya adalah Jamin Ginting Suka, yang kemudian kerap disingkat menjadi Jamin Gintings.
Ayah Djamin Gintings bernama Lantak Ginting Suka, sedangkan ibunya bernama Tindang Br Tarigan.
Istrinya bernama Likas Tarigan. Keduanya dikaruniai lima orang anak yang bernama Riemenda Jamin Gintings, Riahna Jamin Gintings, Sertamin Jamin Gintings, Serianna Jamin Gintings, serta Enderia Pengarapen Jamin Gintings.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Cafe Instagramable, Tongkrongan Hits Anak Muda Kota Medan
Djamin Gintings memiliki tekad yang kuat, terutama dalam hal pendidikan. Ia mengenyam pendidikan dasar di Kabanjahe, dan kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Kota Medan.
Namun Djamin Gintings tidak dapat menyelesaikan sekolahnya karena saat itu Jepang telah berkuasa di Indonesia mengalahkan Belanda pada tahun 1942.
Setelah putus dari pendidikan menengahnya, ia sempat bekerja sebagai kerani di sebuah kantor dagang Jepang di Kesawan, Medan.
Namun akibat tekanan Jepang pada orang Karo setelah terjadi peristiwa Aron, ia kemudian pindah ke Kabanjahe dan bekerja dengan menjual air tebu Berastagi.
Pada akhir tahun 1943, Djamin Gintings mendaftar untuk mengikuti pendidikan calon perwira Gyugun di Siborong-Borong.
Ia kemudian mengikuti pelatihan militer selama tiga bulan hingga menjadi perwira Gyugun dengan pangkat Letnan.
Pasukan yang dipimpinnya itu kelak menjadi kesatuan yang lebih besar yakni Kodam II/Bukit Barisan.
Djamin Gintings kala itu berpangkat Letnan Kolonel terpilih menjadi wakil komandan Kodam II/Bukit Barisan.
Ketika pemberontakan Nainggolan di Medan, Sumatera Utara meletus tahun 1958.
Djamin Gintings memimpin operasi penumpasan pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan yang terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.
Setelah orde lama turun. Djamin Gintings berpihak pada Soeharto. pada tahun 1968-1972, dia masuk terpilih menjadi salah satu anggota DPR di bawah naungan Partai Golkar.
Kedekatan dengan Soeharto membuatnya dikirim oleh Jakarta untuk jadi Duta Besar Indonesia di Kanada.
Jabatan ini juga menjadi jabatan nonmiliter pertama yang diemban Djamin Gintings setelah 30 tahun berkecimpung di dunia militer.
Baca Juga: Kronologi Sewa Menyewa Kabun Binatang Bandung, Dimulai Tahun 1970
Djamin Gintings meninggal di Ottawa dalam usianya yang ke 53, pada tahun pada 24 Oktober 1974.
Jenazah dimakamkan di TMP Utama Kalibata, Jakarta Selatan. Tiga hari setelah pemakamannya yaitu pada 28 Oktober 1974, Presiden Soeharto menganugerahkan penghargaan Bintang Mahaputra Utama.
Museum Letnan Jenderal Djamin Gintings pun dibangun di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada tahun 2011. Lalu diresmikan secara langsung oleh Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro pada 17 September 2013.
Baca Juga: Komisi II DPRD Kota Bekasi Buka Kembali Wacana Relokasi Terminal ke Jatiasih
Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan yang membentang dari Padang Bulan, Medan sampai Kabanjahe, di Kabupaten Tanah Karo sepanjang 80 kilometer.
Kemudian oleh Presiden Joko Widodo, Djamin Gintings dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional pada 7 November 2014.
Kemudian pada 28 Juni 2022, Wali Kota Medan, Bobby Nasution juga meresmikan Patung Letjen Jamin Gintings, di titik KM nol Jalan Jamin Gintings, Kota Medan. ***

