POJOKSATU.id - Di tengah kota yang masih basah usai banjir besar menerjang sebagian wilayah Sumatera, sebuah panggung justru dinyalakan.
Auditorium RRI Medan menjadi rumah pertama bagi Festival Teater Indonesia (FTI) dalam perhelatan lintas kota yang untuk pertama kalinya digelar dan langsung memulai langkahnya dari ujung barat Indonesia.
FTI hadir sebagai titik pertemuan lintas kota serta ruang berekspresi bagi ekosistem teater tanah air.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi TITIMANGSA dengan PENASTRI (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia) serta didukung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI.
Lima kelompok teater dan seniman individu dari berbagai provinsi datang membawa naskah adaptasi karya sastra Indonesia. Mereka bukan hanya tampil, tapi berkumpul, berbagi, dan merayakan teater sebagai ruang perjumpaan.
Selain pementasan, pengunjung juga bisa mengikuti diskusi, bincang karya, jelajah panggung, lokakarya, hingga Teras FTI, ruang temu komunitas yang dirancang cair dan ramah.
Baca Juga: Wabup Tapsel Apresiasi GAN dan Pemkab Bogor: Kolaborasi Nyata Anak Negeri Hadapi Bencana
“Tahun ini adalah perhelatan pertama Festival Teater Indonesia. Saya sangat bersemangat dan berharap semua berjalan dengan lancar, sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan dirancang dari jauh hari oleh teman-teman Titimangsa dan Penastri. Panggung bisa menyatukan, meskipun kita datang dari latar dan kebiasaan yang berbeda,” kata Penggagas FTI, Happy Salma, membuka cerita di balik festival perdana ini.
Aktris senior itu berharap FTI menjadi ruang belajar lintas kota tempat seniman saling membuka diri dan merawat jejaring teater nusantara.
“Saya berharap kegiatan ini bukan hanya membuka ruang silaturahmi budaya dan kesusastraan, tetapi juga menjadi ruang untuk membuka diri, beradaptasi dengan satu sama lain dari seluruh Indonesia. Sebab setiap wilayah punya kebiasaan yang berbeda-beda." tambahnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra mengemukakan Festival Teater Indonesia sejak awal dirancang selaras dengan agenda besar Kementerian Kebudayaan, terutama penguatan ekosistem sastra dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
“Pertama, selaras dengan program-program penguatan ekosistem sastra, FTI menjadi ruang penting untuk mendorong alih wahana karya sastra Indonesia ke panggung teater. Praktik silang-media seperti ini terbukti efektif menghidupkan ekosistem sastra,"
"Kedua, FTI juga sejalan dengan tujuan MTN Seni Budaya, yaitu membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru untuk berkiprah di panggung nasional dan internasional. FTI memperkuat jalur perkembangan karier mereka di bidang sastra dan seni pertunjukan,” kata Ahmad Mahendra.
Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Akhir Tahun di Jawa Barat yang Asyik Buat Road Trip Santai
Festival yang Nyaris Terhambat
Beberapa hari sebelum layar dibuka, Medan dan sejumlah kota di Sumatera sempat lumpuh diterjang banjir.
Akses menuju lokasi festival terputus, beberapa persiapan berhenti total. Bahkan sebagian penonton yang sudah mendaftar akhirnya membatalkan kehadiran.
Direktur Festival, Pradetya Novitri, mengakui hari-hari menuju pembukaan adalah masa paling menegangkan.
“Keselamatan kru lebih penting dari jadwal. Tapi semangat teman-teman Medan luar biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Bukan Honorer Lagi! 1.814 PPPK Paruh Waktu di Palas Wajib Ikuti Pola Kerja Baru
Pada acara pembukaan, panitia mengajak penonton hening sejenak mendoakan korban banjir sebelum pertunjukan dimulai.
Tema Besar: Sirkulasi Ilusi
Di edisi perdananya, FTI mengusung tema Sirkulasi Ilusi, yang menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi. Tema ini menjadi pintu untuk mempertemukan ide, wacana, dan karya teater dari berbagai kota.
Menurut Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, festival ini selaras dengan program penguatan ekosistem sastra dan jalur regenerasi talenta seni budaya.
FTI digagas sebagai ruang lahirnya bakat-bakat baru dan medium alih wahana karya sastra ke panggung teater.
Baca Juga: Museum Tani Jawa dan Desa Wisata Candran, Liburan Akhir Tahun di Desa Penuh Cerita
Proses Panjang Menjaring Pelaku Teater
FTI membuka Panggilan Terbuka sejak akhir Agustus hingga September 2025. Hasilnya, 213 pendaftar dari 95 kota di 25 provinsi ikut bersaing menampilkan konsep dan adaptasi karya.
Tim kurator memastikan seleksi tak hanya menilai kualitas estetika, tetapi juga relevansi karya dengan konteks kota penyelenggara dan keadilan representasi wilayah, mulai dari gaya pertunjukan, medium, hingga pendekatan eksperimental.
“Intinya, kami ingin penonton melihat spektrum teater Indonesia yang seluas-luasnya,” ujar Direktur Artistik, Sahlan Mujtaba.
Selain pendanaan, para seniman mendapat pendampingan intensif: dari membaca naskah, merespons keterbatasan, hingga menjaga ritme latihan.
“Kurator itu bukan hanya penilai, tapi teman ngobrol,” kata kurator Tya Setyawati, menggambarkan pendekatan yang lebih humanis.
Jadwal Pementasan di Medan
Berikut jadwal pementasan FTI di Kota Medan:
- 1 Desember 2025
16.00 – Tangga Mimpi – Porman Wilson Manalu (Medan)
20.00 – Omnibus Monolog Dapur – Luna Vidya/Storytelling Academy (Makassar)
- 2 Desember 2025
16.00 – Orang Proyek – Teater Kurusetra (Bandar Lampung)
20.00 – Resonansi Tanah – Stage Corner Community (Tangerang)
- 3 December 2025
20.00 – Tubuh yang Menari – Bali Eksperimental Teater (Jembrana)
Baca Juga: Pertamina EP Zona 7 dan Lanal Cirebon Kirim 100 Paket Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatra
Festival akan berlanjut ke Palu, Mataram, dan Jakarta sampai 16 Desember 2025.
Mendokumentasikan Jejak Teater Lokal
FTI juga menghadirkan program arsip yang dirancang untuk mencatat seluruh rangkaian kegiatan.
Catatan itu nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku digital agar jejak teater, khususnya di daerah yang minim dokumentasi, dapat terekam lebih baik.
“Tradisi menulis teater harus dijaga. Supaya generasi nanti tahu dari mana mereka melangkah,” ujar Sahlan.
Menghormati Mereka yang Menjaga Api Teater
Setiap kota penyelenggara akan memberikan Penghargaan Pengabdian Seumur Hidup FTI kepada tokoh yang telah lebih dari 25 tahun menghidupi seni pertunjukan.
Proses pemilihannya melibatkan jaringan komunitas lokal, menilai kontribusi, dokumentasi karya, dan dampak jangka panjang bagi ekosistem teater.
“Hormat saya sangat besar untuk mereka yang memilih hidup di teater. Itu perjuangan yang panjang dan sunyi,” ujar Happy Salma.
Baca Juga: KPK: 13 Persen Sekolah Akui Penggunaan Dana BOS Tak Sesuai Aturan
Harapan dari Sebuah Pertemuan Raya
Para kurator berharap FTI menjadi ruang pertemuan yang benar-benar hidup tempat seniman dari berbagai kota saling belajar dan menginspirasi.
Mahendra menegaskan FTI adalah “ruang belajar, ruang regenerasi, dan ruang memperluas akses masyarakat pada seni pertunjukan.”
Di tengah segala ketidakpastian akibat bencana, Happy Salma menutup satu hal yang selalu bisa digenggam: “Harapan pada daya hidup dan daya cipta manusia.”
Baca Juga: Mini Museum JALITA Suguhkan 8 Kereta Penuh Koleksi KRL dari Masa ke Masa
Tiket seluruh pertunjukan tersedia gratis melalui laman resmi FTI. Informasi selengkapnya dapat diakses lewat Instagram @festivalteater.id dan situs festivalteater.id. ***

