POJOKSATU.id, BERBURU takjil untuk berbuka puasa menjadi kegiatan menarik di Medan. Pasalnya, ada beberapa makanan khas Sumatera Utara (Sumut) yang jadi primadona khusus di Bulan Ramadhan.

Setidaknya, ada empat makanan khas Sumut yang mendadak banyak dijajakan di pinggir jalanan Kota Medan jelang berbuka puasa Ramadhan, dan bersanding dengan ragam menu takjil lainnya.

Keempat makanan khas Sumut yang jadi primadona untuk berbuka puasa Ramadhan itu adalah Toge Panyabungan, Anyang, Pakkat dan Bubur Pedas Melayu.

Keempatnya tidak akan dengan mudah dijumpai selain bulan Ramadhan. Yuk, kenali makanan khas Sumut primadona tersebut.

1. Toge Panyabungan

Sesuai namanya, makanan ini bukan dari Medan, melainkan makanan khas Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumut.

Baca Juga: Serunya Perayaan Ultah ke-42 Dian Sastro, Dirayakan Bersama Geng Artis 'Ada Apa dengan Cinta?'

Selain dijajakan di Panyabungan, maka selama Ramadhan di berapa daerah di Medan, penjual takjil menjajakan ini.

Namun, tak juga seperti namanya, panganan ini bukan terdiri dari bahan baku sayuran tauge, melainkan minum padat gabungan dari berbagai jenis makanan manis.

Toge Panyabungan mirip dengan es campur, namun dengan isian berbeda. Satu porsinya diisi dengan santan, ketan, tape, lupis, gula merah, dan cendol serta ditambah es batu untuk penyegarnya.

2. Pakkat

Makanan ini juga merupakan khas Mandailing. Berasal dari pucuk sejenis rotan muda, dan sering dijadikan lalapan dengan cocolan sambal.

Baca Juga: Pernah Terbebani Nama Besar Ayahnya, Lukman Sardi Akui Bangga dan Berharap Kiprah Idris Sardi Dibuatkan Film

Di Medan, penikmatnya memang mayoritas suku Mandailing. Tak sekadar lalapan, ada juga yang membuat layaknya sayur yang dimasak dengan campuran bahan lain karena teksturnya lembut.

Pakkat biasanya dijajakan dengan dua cara, ada yang dibakar di tempat dan siap dimakan, ada juga yang masih mentah dan diolah di rumah.

Makanya, saat Ramadhan di Medan akan banyak ditemu pedagang yang membakar pakkat di pinggir jalan.

3. Anyang

Ini adalah makanan khas Melayu yang disajikan dengan pakis rebus, juga terkadang ditemani tauge dan kacang panjang.

Baca Juga: 10 Provinsi di Pulau Sumatera Rampung Penghitungan Suara Pemilu 2024

Kemudian sayuran itu akan dibaluri dengan bumbu kelapa sangrai. Meski ini terlihat seperti urap, namun tetap berbeda.

Karena bumbu kelapa sangrainya dipadukan dengan irisan bawang merah, cabai merah juga terkadang diberi air jeruk sehingga rasanya segar dan pedas.

Saat Ramadhan, anyang akan mudah dijumpai di berbagai penjual takjil bersanding dengan berbagai jenis mi dan gorengan.

4. Bubur Pedas Melayu

Awalnya, menu ini adalah makanan untuk berbuka puasa di lingkungan Kesultanan Deli sejak tahun 1909 atau di masa kepimpinan Tuanku Sultan Makmun AlRasyid Perkasa Alam Syah.

Namun, seiring berkembannya zaman, bubur pedas boleh dikonsumsi oleh siapa saja yang menyukainya, terutama warga Sumut suku Melayu Deli.

Baca Juga: Aneh, Komite HAM PBB Bahas Gibran Bisa Lolos di Pemilu 2024, Pertanyakan Netralitas Presiden Jokowi

Bubur pedas ini rasanya gurih dengan campuran dengan berbagai rempah dalam proses pembuatannya, diantaranya kunyit, temu kunci, temu hitam, jintan serai, temu mangga, dan lainnya.

Bahkan, bubur pedas biasanya disajikan dengan anyang. Keduanya dirasa bak duet apik dengan sensasi jika dimasukkan sekaligus ke dalam mulut.

Nah, selama Ramadhan juga, bubur pedas mudah ditemui di Masjid Raya Al-Mashun, yang lokasinya dekat Istana Maimon. Kepanitiaan masjid menjadikan bubur pedas menu langganan untuk berbuka puasa.

Demikianlah, empat menu khas Sumut yang jadi primadona saat berbuka puasa selama Ramadhan. ***