POJOKSATU.id, SAMOSIR-GoTo Impact Foundation (GIF) bersama Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) meluncurkan proyek percontohan 'Samosir Mallatam', Rabu, 24 Januari 2024.

Proyek 'Samosir Mallatam' ini bertujuan untuk mengelola sampah dan mengolah pangan lokal guna memberikan manfaat ekonomi di destinasi wisata Kenegerian Sihotang, Sumatera Utara (Sumut).

'Samosir Mallatam' diluncurkan di Kenegerian Sihotang. Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, karena kawasan dengan 917 kepala keluarga ini destinasi wisata unggulan untuk wisatawan dalam negeri maupun mancanegara.

Pada tahun 2022, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Samosir meningkat dua kali lipat mencapai angka 860.892, bila dibandingkan pada tahun 2019 sebesar 418.2711.

Baca Juga: Madina Care Duga Kaban BKD Madina Ikut Terima Uang Suap PPPK 2023, Minta Kapolda Sumut Lakukan Ini

Potensi pariwisata Kenegerian Sihotang di masa depan sangat tinggi, namun kesempatan ini masih menyimpan tantangan yang mendesak, seperti pengelolaan sampah dan bahan pangan.

Hal ini terjadi karena jarak wilayah yang jauh dari kota dan medan jalan yang belum memadai untuk penjemputan sampah.

Akibatnya, sampah sebanyak 180 kg/hari yang dihasilkan dari pariwisata saat high season, dibakar secara terbuka atau dibuang ke sungai dan danau.

Selain itu, sebanyak 50-70 kg/minggu komoditi lokal pisang singali-ngali siap panen terbuang sia-sia.

Baca Juga: Buka Pra Musrembang RKPD Zona Kepulauan Nias, Pj Gubernur Sumut Sebut Empat Poin Penting dalam Pembangunan

Melihat keterbatasan infrastruktur dan wawasan yang terjadi, menjadi alasan program ini dibuat.

Chairperson GIF, Monica Oudang, menyampaikan GIF menyadari bahwa untuk menghasilkan perubahan sistemik jangka panjang diperlukan upaya gotong royong warga dan pemerintah lokal juga startup serta organisasi masyarakat sipil.

"Oleh karena itu, GIF menghadirkan CCE yang menggunakan pendekatan innovation ecosystem sebagai cara baru untuk menjawab permasalahan dan potensi di Kenegerian Sihotang," jelasnya.

Melalui CCE, Monica menjelaskan pihaknya akan berusaha memobilisasi dan menyatukan para pembuat dampak, pendanaan, wawasan, dan keahlian untuk berinovasi bersama.

Baca Juga: Dukung Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara, Pemprov Sumut Dukung Kualitas Pertanggungjawaban Keuangan Daerah

"Agar bisa menyelesaikan masalah iklim lebih cepat, berkelanjutan, dan dalam skala besar. Pada 2023, CCE bekerja sama dengan Kemenparekraf sebagai mitra strategis dalam pengelolaan sampah di kawasan strategis destinasi wisata melalui intervensi ekonomi sirkular,” jelasnya.

Monica menjelaskan pada gelombang kedua yang berlangsung sejak Maret 2023, CCE menggabungkan 50 changemakers (pembawa perubahan), yang terdiri dari masyarakat hingga penyedian teknologi.

Para changemakers kemudian masuk ke dalam CCE Lab untuk mendapatkan pengembangan kapasitas dan berkolaborasi membentuk konsorsium untuk menyusun solusi inovatif.

Dari 16 solusi yang tercipta, tiga di antaranya terpilih untuk diimplementasikan melalui proyek percontohan.

Baca Juga: BKD Sumut Sedang Mendata Kebutuhan SKPD untuk CPNS dan PPPK 2024

Salah satu konsorsium terpilih, yang beranggotakan Roda Hijau dan Aksata Pangan, bergerak bersama Pemerintah Kabupaten Samosir dan jajaran dinas, Kecamatan Harian, Desa Hariara Pohan, Desa Siparmahan, Desa Dolok Raja, Desa Sampur Toba, dan Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia.

Mereka berkomitmen menjalankan proyek Samosir Mallatam guna mengurangi potensi kerusakan lingkungan, sekaligus meningkatkan penghidupan masyarakat melalui pelibatan ke dalam rantai nilai pariwisata.

“Kami berharap, CCE dan proyek ini bisa mendorong Kenegerian Sihotang menjadi lingkungan yang bebas sampah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi melalui pengolahan pangan lokal," jelasnya.

Wakil Bupati Samosir, Martua Sitanggang mengapresiasi proyek Samosir Mallatam ini.

Baca Juga: Tiga Residivis dengan Pencurian Pemberatan Ditangkap Polres Simalungun

"Kami mendukung penuh upaya konsorsium dan GIF dalam menciptakan destinasi wisata yang ramah lingkungan, dan memastikan masyarakat dapat berkembang secara beriringan dengan pariwisata di Kenegerian Sihotang," ujarnya.

Perwakilan dari konsorsium penggagas proyek Samosir Mallatam, Laurence Ricardo P. Simanjorang, menjelaskan dampak nyata yang dihasilkan.

Dalam kurun waktu satu tahun, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, ekonomi kelompok yang terlibat, dan jumlah sampah yang terkelola, serta mengurangi potensi limbah dari bahan pangan melalui tiga solusi utama, yaitu:

Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang terintegrasi, termasuk pengangkutan, pemilahan, serta pengelolaan sampah anorganik.

Baca Juga: Usai Periksa Bupati Madina dan Wabup, Uchok Sky Minta Kapolda Sumut Segera Tetapkan Tersangka Baru Suap PPPK 2023

Kemudian residu dari Desa Hariara Pohan, Desa Siparmahan, Desa Sampur Toba, Desa Dolok Raja, serta destinasi pariwisata Bukit Holbung, Air Terjun Efrata, dan Bukit Sibea-bea.

Pembangunan Sopo Pangan sebagai tempat pengolahan komoditas pangan lokal yang berpotensi terbuang, seperti pisang singali-ngali, menjadi produk bernilai ekonomi.

Ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat pemilik lahan, mengurangi potensi food loss (susut pangan), serta mendorong agrowisata.

Hingga 2025, konsorsium Samosir Mallatam menargetkan jumlah sampah anorganik yang diangkut sebesar 80%.

Juga target jumlah sampah terkelola sebesar 100% dari total yang diangkut, dan pengurangan potensi susut pangan pisang singali-ngali saat musim panen dengan total sebesar 2 ton. ***