POJOKSATU.id - Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah terdampak banjir dan longsor. Sudah hampir genap sebulan masyarakat Aceh Tamiang hidup dalam kegelisaan.
Rumah yang hancur terbawa banjir, kebutuhan logistik bantuan yang minim, listrik yang padam membuat masyarakat terdampak banjir hanya bisa menantikan harapan dari para relawan dan pemerintah untuk membantu mereka.
Anak-anak juga menjadi korban dari bencana tersebut. Mereka harus berhenti sekolah dan menghabiskan waktu sehari-hari di pengungsian.
Baca Juga: Kapolres dan Bupati Karawang Cek Perbaikan Jalan Tanjungpura–Galuh Mas
Melihat kondisi tersebut, para relawan yang terjun ke lokasi tidak hanya menyalurkan bantuan tapi juga memberikan bantuan psikologis untuk mengurai ketakutan karena bencana.
Salah satu cara yang dilakukan relawan adalah memberikan buku-buku bacaan dari Big Bad Wolf (BBW) books.
BBW memberikan buku sebanyak 200 buah dan alat menggambar yang bertujuan untuk terus mendorong kemampuan dan motorik anak-anak yang berada di pengungsian.
Baca Juga: THR TPG Guru 2025 Cair Bertahap, Ini Tanda-Tanda Proses Sudah Masuk Tahap Akhir
“Selain memberikan bantuan logistik yang paling urgent disini, kami juga memberikan edukasi trauma healing kepada anak-anak di sini, karena mereka masih belum bisa mengakses bangku sekolah dan kita berusaha untuk menghilangkan trauma mereka pasca kejadian banjir hebat di sini,” tutur Intan, salah seorang relawan saat berkunjung di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, Senin (22/12/2025).
Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan kesehatan mental individu, mengatasi trauma, meredakan kecemasan, mengelola stress, emosi, serta berbagi kondisi psikologis lainnya.
Baca Juga: BSU untuk 15 Juta Pekerja Ditargetkan Cair 2026, Penyaluran Lewat Bank BRI dan BNI
“Dalam proses healing, terkadang dibutuhkan lebih dari satu kali pertemuan untuk bisa berproses dengan hal yang ingin kita pulihkan, dan insyallah ini akan kita lakukan terus menerus,” ucapnya.
Dania, salah seorang anak di pengungsian merasa senang dengan kegiatan ini. Ia merasa bermain adalah acara mereka menghilangkan trauma dari kejadian itu.
“Kita senang dapat buku bacaan, bisa menggambar lagi, bisa nyanyi bareng kakak-kakak relawan, karena kami sudah hampir sebulan tidak sekolah,”ungkapnya. ***

