POJOKSATU.id - Polemik soal aliran dana bantuan Bank Dunia sebesar Rp1,5 triliun untuk proyek pengendalian banjir kembali mencuat.

Banyak warga Medan mempertanyakan mengapa banjir di sejumlah kawasan masih kerap berulang, padahal dana jumbo itu sudah dibahas sejak 2022.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa Pemkot Medan tidak menyentuh, apalagi mengelola dana tersebut.

Baca Juga: Penting! Aturan Baru Sistem Kelulusan PPPK 2025, Prioritas, Peringkat Terbaik, Hingga Mekanisme CAT, SKTT, dan Psikotes

Seluruh anggaran, mulai dari perencanaan hingga pengerjaan teknis, ada di bawah kendali Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II.

“Tidak ada dana Rp1,5 triliun masuk ke Pemkot Medan. Semua dikelola BWS karena ini kewenangan pemerintah pusat. Kita hanya penerima manfaat,” kata Rico, dikutip dari Instagram pribadinya Kamis (4/11/2025).

Dari Enam Paket, Tiga Proyek Batal Jalan
Sebelumnya, ada 6 paket yang harus dikerjakan, dan hanya tiga proyek yang berjalan.

Baca Juga: Bupati Aceh Timur Semprot Satpol PP, Tiga Hari Hilang Saat Banjir, Truk Bantuan Tak Juga Datang

Proyek ini merupakan bagian dari National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) Bank Dunia.

Adapun 6 proyek yang awalnya dilakukan dalam pengerjaan besar, adala:
1. Normalisasi Sungai Deli
2. Sungai Babura
3. Sungai Badera
4. Kolam Retensi Selayang
5. Kolam Retensi USU
6. Sungai Kera / Kawasan Industri Medan (KIM)

Namun seiring kajian teknis berjalan, tiga di antaranya adalah Sungai Deli, Sungai Babura, dan kolam retensi USU, terpaksa dibatalkan karena pembebasan lahan dinilai tidak memungkinkan.

Baca Juga: 3.003 FORMASI DIBUKA, Ini JADWAL LENGKAP Rekrutmen PPPK Tendik Sekolah Rakyat Kemensos 2025, Syarat dan Cara Pendaftaran, INFO TERLENGKAP di Sini!

“Makanya fokus pengerjaan bergeser. Yang on progress sekarang Sungai Badera, kolam retensi Selayang, dan Sungai Kera,” jelas Rico Waas.

Peran Pemko Medan Urus Lahan dan Komunikasi dengan Warga
Meski tidak memegang anggaran, Pemkot Medan tetap punya pekerjaan rumah, yaitu pembebasan lahan serta komunikasi sosial dengan masyarakat yang terdampak normalisasi.

“Kami sudah menyelesaikan bagian yang jadi tanggung jawab kami, terutama pengadaan tanah. Sisanya, pengerjaan fisik sepenuhnya ada di BWS,” ungkap Rico.

Baca Juga: Proyek Dapur Gizi Molor Parah! Pemerintah Janji 82 Juta Penerima MBG, Faktanya Baru 39 Juta, Ladang Korupsi Baru?

Beberapa titik pembebasan lahan, kata dia, dibantu oleh Dinas Perkim demi mempercepat proses agar proyek tidak kembali tertahan.

Target 2025–2026
Wali Kota berharap proyek yang kini berjalan bisa menekan debit air saat hujan deras, mengingat banjir di Medan kerap muncul di titik yang sama setiap musim hujan.

“Beberapa waktu lalu kami meninjau kolam retensi Selayang. Itu bagian dari rencana pembangunan dari awal,” ujarnya.

Baca Juga: Kemendikdasmen: Alokasi Rp13,3 Miliar dan Upaya Intensif Pulihkan Pendidikan Pasca Bencana Sumatera

Rico memastikan tiga proyek yang dijalankan BWS yaitu, Selayang, Badera, dan Kera, akan tetap berlanjut hingga 2026.

“Intinya, Pemkot bantu memperlancar jalur. Kita pastikan masyarakat paham, proses jalan, dan tidak ada miskomunikasi terkait dana,” tutup Rico. ***