POJOKSATU.id - Banjir dan longsor yang menghantam sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) sejak akhir pekan lalu meninggalkan dampak yang semakin mengkhawatirkan.

Selain menelan korban jiwa, bencana hidrometeorologi ini juga memutus jalur vital antarwilayah dan memicu krisis logistik di beberapa desa.

Hingga Rabu pagi (26/11/2025), sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal dunia.

Baca Juga: Arumi Ibu Alvaro Kiano Ingin Anaknya Dikubur dengan Layak, Rahang Korban Ternyata Masih Hilang di TKP

Data ini dikonfirmasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut yang mencatat korban tersebar di tujuh kabupaten/kota terdampak hujan ekstrem dan luapan sungai.

“Total ada 13 korban meninggal hingga pukul 08.00 WIB,” ujar Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati.

Tapanuli Selatan menjadi wilayah dengan korban terbanyak, sembilan orang, masing-masing berasal dari Kecamatan Batangtoru, Sipirok, dan Angkola Barat.

Baca Juga: Mencari Tulang Rahang Alvaro di Jembatan Cilalay Tenjo, Polisi Libatkan Anjing Pelacak

Sementara empat korban lainnya ditemukan di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, akibat tertimbun material longsor di dalam rumah.

Selain korban jiwa, 37 warga mengalami luka-luka, sementara tiga orang masih hilang dan pencarian terus dilakukan.

Akses Terputus, Logistik Terkunci
Bencana beruntun ini juga memicu efek domino pada infrastruktur.

Baca Juga: Tahap Wawancara PPG Bikin Banyak Peserta Gugur, Ini Isi Pertanyaan yang Sering Muncul

Jalur nasional Tapanuli Selatan (Tapse) dan Tapanuli Tengah (Tapteng) kembali amblas, setelah sebelumnya ruas Tapsel–Madina menuju Pantai Barat juga putus di sekitar Danau Siais.

Amblasan terbaru berada di kawasan Anggoli, jalur utama pengiriman ikan dari Tapteng ke Tapsel.

“Kerusakan ini berkaitan dengan banjir bandang yang melanda Garoga dan Huta Godang kemarin,” jelas Kabid Sarana dan Prasarana Perhubungan, Sutan Harahap.

Baca Juga: Viral! Usai Tragedi SMAN 72 Jakarta, KPAI Minta DKI Batasi Akses Medsos Pelajar

Dengan akses utama terputus, distribusi sayur, ikan, dan kebutuhan pokok diperkirakan terhambat, bahkan berisiko memicu kelangkaan di sejumlah daerah.

Ribuan Warga Mulai Kekurangan Makanan
Di Mandailing Natal, situasi paling mencolok terasa di kawasan Siulang-Aling. Ribuan warga korban banjir mengaku kesulitan mendapatkan makanan karena bantuan belum menjangkau desa mereka hingga hari keempat.

“Sejak semalam kami bertahan dengan indomie. Persediaan sudah hampir habis,” ujar Sadun Lubis, warga Lubuk Kapundung I.

Baca Juga: Tombak, Alat Berburu Orang Indonesia Dibukukan untuk Manifestasi Generasi Muda

Desa Hutaimbaru dilaporkan mengalami kondisi lebih parah. Banjir tak kunjung surut karena hujan intens masih mengguyur wilayah itu sejak awal pekan.

Meski begitu, kabar sedikit melegakan datang semalam. Dua perahu robin membawa beras dan kebutuhan pokok dari arah Singkuang. “Bantuan dari Pemkab sudah sampai, meski belum banyak,” kata Chandra Pulungan.

Kerusakan Meluas
BPBD Sumut mencatat 330 rumah rusak di Tapanuli Selatan, mulai dari kategori ringan hingga berat.

Baca Juga: Petani Karawang Raup Untung dari Lahan 15 Meter Persegi

Sementara di Mandailing Natal, lebih dari 2.200 jiwa mengungsi, puluhan rumah rusak, satu sekolah hancur, dan 85 hektare lahan pertanian tenggelam.

Di Tapanuli Utara, 19 keluarga masih bertahan di pengungsian, dan beberapa titik jalan serta jembatan mengalami kerusakan.

Upaya Penanganan Berlanjut
Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan evakuasi, distribusi bantuan, serta perbaikan akses darurat.

Baca Juga: TERUNGKAP! Dokumen PPPK Paruh Waktu Terlambat, Komisi II Sebut Ada Drama Negosiasi Kepala Daerah, Ini Penjelasannya

Namun cuaca yang belum bersahabat membuat beberapa lokasi masih sulit dijangkau.

Pemerintah daerah diminta mempercepat pengiriman bantuan, terutama ke desa yang terisolasi. Kondisi lapangan menunjukkan kebutuhan mendesak kini bukan hanya tenda dan obat-obatan, tetapi pangan, air bersih, dan akses keluar-masuk desa. ***