POJOKSATU.ID - Di tengah hamparan alam Talang Babungo yang sejuk di Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, berdiri sebuah rumah panggung sederhana berukuran 4x20 meter.

Bangunan yang awalnya sekadar dikenal sebagai Rumah Pintar kini menjelma menjadi laboratorium ekonomi sirkuler yang menjadi pusat inovasi warga Jorong Tabek, Kampung Berseri Astra (KBA).

Sejak dibangun lewat gotong royong masyarakat pada tahun 2019, rumah panggung ini telah menjadi ruang belajar, ruang diskusi, sekaligus simbol transformasi desa.

Dari sinilah lahir ekosistem ekonomi yang unik, mengolah nira pohon enau menjadi gula semut, menjadikan limbah organik sebagai pakan maggot, hingga memanfaatkan maggot untuk pakan ikan di kolam warga.

Baca Juga: Pengumuman Alokasi Kebutuhan PPPK Paruh Waktu 2025 Segera Dibuka, Nasib Pegawai Non ASN Ditentukan

Sementara sampah non-organik dikelola melalui bank sampah yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Ketua Kampung KBA Jorong Tabek yang juga Inisiator Ekonomi Sirkuler Talang Babungo, Kasri Satra mengatakan kontribusi warga dihitung dalam bentuk rupiah.

"Kontribusi setiap warga dihitung dalam bentuk Rupiah, dalam periode tertentu bisa dicairkan kembali," ujar Kasri, Selasa (19/8/2025).

Kasri menambahkan, jika Rumah Pintar tersebut juga memiliki perpustakaan budaya dan ruang konsep ekonomi kerakyatan.

Baca Juga: Buku Catatan Topan Ginting, Kirun dan Rayhan akan Membuka Tabir Gelap Dugaan Korupsi di Sumut

"Tempat diskusi dan titik kumpul 90 penggiat ekonomi setempat, sebagian besar ibu rumah tangga untuk menggali dan menguji ide dengan penggiat sosial," katanya

Tak tanggung, Rumah Pintar Talang Babungo ini juga menjadi pusat informasi 45 homestay untuk wisatawan domestik yang ingin berkunjung.

Ada banyak hal yang bisa dinikmati para wisatawan yang ingin berkunjung, salah satunya adalah gula semut aren produk unggulan dari ketinggian 1.500 Mdpl.

Baca Juga: Ini Arti Kode Keterangan Hasil Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat Tahap II, Gus Ipul Minta Ini ke Guru Sekolah Rakyat

Jejak Manis Pohon Enau dari Ketinggian 1.500 Mdpl
Salah satu pusat aktivitas di rumah panggung ini adalah Rumah Produksi Gula Semut Aren.

Sedikitnya 20 kepala keluarga mengelola produksi nira enau yang diolah menjadi gula semut berkualitas tinggi.

Dipanen dari pohon enau di ketinggian lebih dari 1.500 mdpl, gula semut dari Jorong Tabek memiliki kadar gula tinggi, tekstur lebih halus, dan cita rasa khas.

Saat ini produksi harian berkisar 10–20 kilogram, bahkan bisa mencapai 50 kilogram jika akses pasar lebih luas. Potensi bulanan mencapai 1.500 kilogram, menjadikannya salah satu komoditas unggulan desa.

Baca Juga: Latihan Soal STS Bahasa Inggris Semester Ganjil Kelas 12: Dari Grammar hingga Reading Comprehension

Maggot, Bank Sampah, dan Kolam Ikan
Namun, keistimewaan Jorong Tabek bukan hanya pada gulanya. Sejak 2021, warga mengembangkan Rumah Maggot sebagai solusi limbah organik.

Sisa produksi gula semut dan gula batu, bersama sampah organik rumah tangga, diolah menjadi pakan maggot.

Maggot yang tumbuh kemudian dijadikan pakan ikan di Kolam Ikan KBA, yang juga difungsikan sebagai tempat wisata pancing.

Di sisi lain, limbah nonorganik seperti botol plastik dan kemasan makanan dikelola melalui bank sampah. Warga bisa menabung sampah, yang nilainya dicatat dalam buku tabungan dan dapat diuangkan kapan saja.

Baca Juga: Babak Akhir Kasus Lisa Mariana-Ridwan Kamil, Hasil Tes DNA Anak Inisial CA Diumumkan Besok

Sebagian hasil penjualan sampah kembali ke warga, sementara sebagian lain digunakan untuk mendukung kegiatan sosial dan pembangunan fasilitas umum desa.

Dampak Ekonomi Kerakyatan hingga Beasiswa

Ekonomi sirkuler yang berjalan di KBA Jorong Tabek kini memberikan dampak nyata bagi kehidupan warga.

Kolam ikan misalnya, mampu menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp5 juta per bulan, yang sebagian disalurkan untuk mendukung pendidikan dan kesehatan masyarakat kurang mampu.

Lebih jauh lagi, hasil pengelolaan ekonomi sirkuler bahkan ikut membiayai beasiswa bagi 20 anak muda berprestasi yang melanjutkan pendidikan di Jepang.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Lingkungan Sehat Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak: Yuk, Ayah Bunda, Mulai dari Rumah Sendiri!

Menurut Kastri, ekonomi kerakyatan di daerah yang sebelumnya relatif terisolasi kini mulai tumbuh lebih baik.

"Kini homestay sudah siap menyambut wisatawan, sementara konsep ekonomi sirkuler menjadi motor penggerak dalam memperkuat ketahanan finansial masyarakat Jorong Tabek," imbuh Kastri.

Kembali Bangkit: Astra Ubah Wajah Jorong Tabek
Kebakaran besar yang melanda Jorong Tabek beberapa tahun silam tak hanya menghanguskan rumah warga, tapi juga hampir memadamkan semangat hidup mereka.

Baca Juga: Kabar Gaji Guru PNS September 2025: Cair Tepat Waktu, tapi Tak Ada Kenaikan

Namun dari peristiwa itulah sebuah cerita baru dimulai. Astra hadir dengan uluran tangan, membawa bantuan sekaligus harapan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Dari titik inilah lahir perjalanan panjang menuju transformasi Jorong Tabek menjadi Kampung Berseri Astra (KBA).

Kastri mengenang, butuh proses panjang untuk meyakinkan warga desa yang awalnya ragu terhadap pendampingan. Banyak yang khawatir harus memberi sesuatu atau berharap pada hal-hal yang belum tentu terwujud.

“Saat itu sebenarnya mereka hanya belum paham saja,” ujarnya.

Baca Juga: Pernah Makan Ampo? Fakta Unik Camilan Tradisional dari Tanah Liat yang Jadi Warisan Budaya Jawa Timur

Pelan-pelan, kepercayaan itu tumbuh. Pada 2016, Jorong Tabek resmi ditetapkan sebagai KBA. Sejak saat itu, uluran tangan Astra tak hanya berupa bantuan, tetapi juga pendampingan berkelanjutan untuk memberdayakan masyarakat. ***