Mengenal Eki Fauzi, Mirip Mahyadi Panggabean, Targetnya Membawa PSMS ke Liga 1 Musim Depan

Eki Fauzi Foto: istimewa

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Menyebut nama Mahyadi Panggaben sangat kental dengan PSMS Medan. Dia bisa disebut sebagai salah seorang legenda hidup yang sempat menorehkan prestasi membanggakan untuk tim berjuluk Ayam Kinantan.


Mahyadi masuk dalam skuad PSMS ketika berhasil menjuarai Piala Bang Yos tiga edisi beruntun. Mahyadi juga turut membawa Ayam Kinantan ke partai final Liga Indonesia pada tahun 2007. Dan, beberapa kali masuk timnas Indonesia kala itu.

Nah, di PSMS musim ini, sosok Mahyadi seakan hadir. Ada satu pemain yang sekilas wajahnya mirip dengan Mahyadi. Bahkan gaya bermainnya juga hampir sama, yaitu penguasa gelandang sayap, bedanya satu kiri yang satu kanan.

Dia adalah Eki Fauzi, cowok kelahira Pandeglang, Banten, 4 Maret 1997. Perawakannya kurus dengan garis rahang terlihat di wajah membuatnya semakin mirip dengan Mahyadi.


Eki termasuk salah satu pemain yang kerap menjadi pilihan Abdul Rahman Gurning, musim ini. Sejauh ini, dia juga sudah mencetak dua gol ke gawang lawan saat PSMS mengalahkan Perserang Serang di Stadion Teladan dengan skor 3-2.

Pemain berusia 22 tahun ini mengakui tidak begitu tahu sosok Mahyadi, meski beberapa orang menyebutnya mirip. “Enggak kepikiran, pernah ada yang bilang mirip. Tapi belum pernah ketemu langsung. Jadi, enggak tahu Bang Mahyadi Panggabean,” ujarnya kepada Pojoksumut.com, di Stadion Kebun Bunga.

Dari Jawa hingga masuk menjadi pemain PSMS, perjuangan Eki bisa dibilang berjalan cukup mulus. Sejak 2017, Eki mengasah kemampuannya mengolah si kulit bundar di tim PSAD. Ya, Eki adalah seorang prajurit yang dinas di Medan tepatnya di Batalyon Infanteri 125/Simbisa (Yonif 125).

“Tahun 2017, saya seleksi dari Yonif 125 ke Kodam, dari situ saya lolos dan TC di PSAD. Jadi sejak 2017 bersama PSAD dilatih Bang Ridwan Saragih,” jelasnya.

Kemudian, Eki ikut seleksi di PSMS dan terpilih musim ini. “PSMS klub profesional pertama saya. Perasaan bangga bisa jadi bagian keluarga besar PSMS. Apalagi dikasih kepercayaan bermain di tim. Karena kepercayaan itu mahal, in sya Allah saya akan berusaha terus membuktikan dengan berlatih semangat dengan rekan-rekan. Jadi kepercayaan harus dijaga baik,” lanjutnya.

Sepak bola bagi Eki ibarat hobi yang sudah mendarah daging. Di keluarganya juga menyukai sepak bola, namun hanya dia yang karirnya mentereng. “Dari kecil sudah main bola, dari kelas 4 SD di Banten. Enggak ada ikut SSB. Sempat ikut Persipan yang sekarang klubnya main di Liga 3, dulu didikan sana,” jelasnya.

Tapi, Eki sempat banting setir jadi pegawai salah satu perusahaan di Jakarta Timur. “Tahun 2015 saya sudah enggak kepikiran main bola lagi. Saya berangkat kerja di Telkom Jakarta Timur. Kemudian ayah nelpon, katanya ada seleksi tentara. Saya mikirnya karena kerja juga begitu saja, saya putuskan pulang ke kampung, daftar. Saat itu juga enggak ada niat masuk tentara hanya coba. Alhadumlillahnya masuk, jadinya begini,” kenangnya.

Sejak awal main sepak bola, Eki mengaku nyaman sebagai gelandang, namun dia sempat menjadi striker. “Karena sudah di Medan, diletakkan di wing,” akunya.

Jauh dari keluarga sejak 2017, Eki menjelaskan sangat jarang bertemu orang tua. “Jumpanya setahun sekali kalau ada cuti. Paling video call atau telepon kalau kangen,” timpalnya.

Lalu, siapakah pesepakbola idola Eki? Tak perlu banyak berpikir, dia menjawab satu nama. “Bang Ridwan Saragih. Karena dia mengantarkan saya di sini, mendidik saya jadi sekarang ini. Enggak ada idola saya yang lain,” tegasnya.

Bersama PSMS, Eki punya harapan besar. “Harapannya untuk PSMS tetap solid, karena kekeluargaan di sini sudah baik. Mudah-mudahan bisa masuk Liga 1 musim 2020,” ungkapnya.

Untuk diri sendiri, sama seperti pesepakbola lainnya, ingin masuk timnas. Namun, Eki sadar diri, dia harus berlatih ekstra keras. “Ada keinginan masuk timnas. Kita harus kerja keras lagi untuk menggapai yang kesana itu. Butuh proses, yang intinya kerja keras lagi,” pungkasnya. (nin/pojoksumut)