Keluarga Aldama Putra Temui Hotman Paris, “Kenapa Cuma Satu Orang Tersangka?”

rekonstruksi ATKP Makassar
Almarhum taruna ATKP Makassar Aldama Putra yang tewas setelah dianiaya seniornya di kampus. Foto Facebook

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Pengacara kondang Hotman Paris mengunggah beberapa video pertemuannya dengan keluarga almarhum Aldama Putra (19), taruna tingkat I Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, yang tewas akibat dianiaya seniornya.


Pertemuan Hotman Paris dan keluarga almarhum Aldama Putra berlangsung di Kopi Joni Jakarta, Minggu (10/2/2019).

Hotman Paris pun menggunggah beberapa video pertemuannya dengan keluarga almarhum Aldama Putra di akun Instagramnya.

“Pengasuh dan Wadir Kampus ATKP tau korban penganiyayan berakibat meninggal! Knp mereka kasi tau keluarga korban akibat jatuh di kamar mandi! Bahkan di kamar mayat juga 2 pengurus kampus ini bilang ke bapak alm krn jatuhbdati kamar mandi? Knp Menteri Perhubungan belum menjatuhkan sanksi? Di kamar mayar bapak korban buka baju alm terlihat penuh luka! Knp bohong? Knp tdk Polda Sulsel belum sidik 2 pengurus kampus ini?,” tulis Hotman Paris di caption video, Minggu (10/2/2019).


Dalam video tersebut, Hotman Paris bahkan menanyakan awal mula keluarga Aldama Putra mendapatkan informasi kematian taruna tingkat I itu dari pihak ATKP Makassar.

“Dua paman almarhum Aldama Putra datang ke Kopi Joni terbang dari Makassar. Pengasuh mengatakan jatuh di kamar mandi, saat itu hadir Wadir dan pengasuh ATKP Makassar,” kata Hotman Paris.

https://www.instagram.com/p/Btr0MUnFWtN/?utm_source=ig_web_copy_link

Dia pun meminta kepada Menteri Perhubungan dan Kapolda Sulsel untuk segera memeriksa Wadir dan pengasuh ATKP Makassar yang telah berbohong mengatakan Aldama Putra jatuh dari kamar mandi.

“Di dalam kamarnya ada 10 orang senior. Kenapa cuma satu tersangka, padahal ditubuhnya banyak luka, depan belakang penuh luka. Bapak Menteri Perhubungan dan Pak Kapolda Sulsel, diduga pelakunya lebih dari satu orang, kenapa cuma satu orang yang ditetapkan tersangka,” sebut Hotmat Paris.

Kecurigaan Ayah Aldama Putra

Diberitakan sebelumnya, Pelda Daniel, yang juga anggota TNI AU, tidak pernah menyangka, Aldama Putra meninggal dunia. Minggu malam sekitar pukul 20.00 WITA, Daniel menerima telepon. Telepon itu membawa kabar mengejutkan. Aldama dikabarkan jatuh di kamar mandi.

“Kebetulan saya lagi jaga (piket). Yang telepon pengasuhnya, saya disuruh ke Rumah Sakit Sayang Rakyat. Sempat saya tanya ngapain ke situ, dia (pengasuh) bilang anak saya jatuh,” tutur Daniel.

Daniel sontak kaget menerima kabar itu. Dia langsung bergegas memacu motornya menuju rumah sakit. Namun informasi yang disampaikan pihak kampus masih simpang siur. Daniel mencoba tenang. Masih berharap anaknya tidak mengalami cedera yang serius.

“Saya pikir dia patah (tulang) atau bagaimana. Di atas motor saya mikir di mana mau cari tukang urut,” ungkapnya.

Setibanya di rumah sakit, Daniel langsung disambut oleh pengasuh dan beberapa perwakilan pihak kampus. Mereka langsung menyampaikan kabar duka terkait meninggalnya Aldama.

“Langsung saya kaget sekali. Gelap langsung saya punya penglihatan pas mereka bilang anak saya sudah tidak bisa tertolong,” lanjutnya.

Aldama Putra, Taruna ATKP yang Tewas Dianiaya SeniorAldama Putra, Taruna ATKP yang Tewas Dianiaya Senior
Beberapa menit setelah menenangkan perasaan, Daniel meminta agar bisa melihat jenazah putranya. Saat itu lah Daniel curiga ada yang tidak beres.

“Pas saya masuk, saya lihat kaki dan tangannya sudah diikat. Mukanya sudah ditutup. Saya peluk dia, masih hangat badannya. Berarti memang barusan meninggal,” tambah Daniel.

Setelah membuka sedikit kain penutup jenazah, Daniel semakin melihat tanda-tanda kejanggalan. Tubuh anaknya seperti baru dihantam benda tumpul. Luka lebam terlihat jelas di wajah dan dada. “Paling kentara lukanya di atas alis dan di bawah mata,” sebutnya.

Daniel masih tak menyangka nyawa Aldama melayang sia-sia. Padahal harapan keluarga besarnya menggantung di pundak Aldama.

“Saya tidak habis pikir. Seandainya bisa ditukar, saya rela meninggal duluan,” ucap warga Jalan Leo Wattimna, Kompleks TNI AU, Lanud Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros ini.

(why/pojoksulsel)