Direktur ATKP Makassar Dinonaktifkan, Buntut Tewasnya Aldama Putra

Direktur ATKP Makassar Agus Susanto
Direktur ATKP Makassar Agus Susanto

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengambil tindakan tegas atas kasus tewasnya taruna tingkat I Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Aldama Putra Pongkala (19), pekan lalu.


Aldama Putra diketahui tewas setelah dianiaya seniornya di kampus ATKP Makassar Jalan Salodong, Kecamatan Biringkanaya.

Atas kasus Aldama Putra, Direktur ATKP Makassar Agus Susanto kini telah dinonaktifkan dari jabatannya.

Sebagai pengganti Agus Susanto, Kemenhub pun telah menunjuk pelaksana tugas untuk menjabat sebagai Direktur ATKP Makassar.


taruna atkp mkassar, aldama putra, atkp makassar
Almarhum taruna ATKP Makassar Aldama Putra yang tewas setelah dianiaya seniornya di kampus. Foto Facebook

“Setelah melakukan investigasi dan pertemuan internal, kami memutuskan menonaktifkan Direktur ATKP Makassar,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Sabtu (9/2/2019).

Selain itu, Menhub Budi Karya Sumadi menyebutkan, pihaknya juga menskorsing satu orang taruna untuk menjalani pemeriksaan pihak kepolisian.

Taruna tersebut diketahui bernama M Rusdi (21) yang kini telah ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik Polrestabes Makassar.

Bukan hanya menonaktifkan Direktur ATKP Makassar Agus Susanto, Kemenhub juga melakukan pergantian sejumlah personel di kampus tersebut.

“Berdasarkan hasil investigasi internal, kami memutuskan untuk melakukan pergantian personel terhadap seluruh lini di ATKP Makassar yang terlibat pada saat kejadian,” beber Menhub Budi Karya Sumadi.

Menurut Menhub Budi Karya Sumadi, BPSDMP telah menyiapkan langkah-langkah nyata perbaikan SOP dan peningkatan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

Aldama Putra, Taruna ATKP yang Tewas Dianiaya Senior
Aldama Putra, Taruna ATKP yang Tewas Dianiaya Senior

Caranya yakni dengan menambahkan tenaga-tenaga pengawas dan pengasuh taruna-taruni pada sekolah kedinasan di lingkungan Kementerian Perhubungan.

Kecurigaan Ayah Aldama Putra

Diberitakan sebelumnya, Pelda Daniel, yang juga anggota TNI AU, tidak pernah menyangka, Aldama Putra meninggal dunia. Minggu malam sekitar pukul 20.00 WITA, Daniel menerima telepon. Telepon itu membawa kabar mengejutkan. Aldama dikabarkan jatuh di kamar mandi.

“Kebetulan saya lagi jaga (piket). Yang telepon pengasuhnya, saya disuruh ke Rumah Sakit Sayang Rakyat. Sempat saya tanya ngapain ke situ, dia (pengasuh) bilang anak saya jatuh,” tutur Daniel.

Daniel sontak kaget menerima kabar itu. Dia langsung bergegas memacu motornya menuju rumah sakit. Namun informasi yang disampaikan pihak kampus masih simpang siur. Daniel mencoba tenang. Masih berharap anaknya tidak mengalami cedera yang serius.

“Saya pikir dia patah (tulang) atau bagaimana. Di atas motor saya mikir di mana mau cari tukang urut,” ungkapnya.

Setibanya di rumah sakit, Daniel langsung disambut oleh pengasuh dan beberapa perwakilan pihak kampus. Mereka langsung menyampaikan kabar duka terkait meninggalnya Aldama.

“Langsung saya kaget sekali. Gelap langsung saya punya penglihatan pas mereka bilang anak saya sudah tidak bisa tertolong,” lanjutnya.

Aldama Putra, Taruna ATKP yang Tewas Dianiaya Senior
Aldama Putra, Taruna ATKP yang Tewas Dianiaya Senior

Beberapa menit setelah menenangkan perasaan, Daniel meminta agar bisa melihat jenazah putranya. Saat itu lah Daniel curiga ada yang tidak beres.

“Pas saya masuk, saya lihat kaki dan tangannya sudah diikat. Mukanya sudah ditutup. Saya peluk dia, masih hangat badannya. Berarti memang barusan meninggal,” tambah Daniel.

Setelah membuka sedikit kain penutup jenazah, Daniel semakin melihat tanda-tanda kejanggalan. Tubuh anaknya seperti baru dihantam benda tumpul. Luka lebam terlihat jelas di wajah dan dada. “Paling kentara lukanya di atas alis dan di bawah mata,” sebutnya.

Daniel masih tak menyangka nyawa Aldama melayang sia-sia. Padahal harapan keluarga besarnya menggantung di pundak Aldama.

“Saya tidak habis pikir. Seandainya bisa ditukar, saya rela meninggal duluan,” ucap warga Jalan Leo Wattimna, Kompleks TNI AU, Lanud Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros ini.

(why/pojoksulsel)