Kelompok Penipu Modus Belanja Online Ditangkap di Sulteng dan Jakarta

Kelompok Penipu Modus Belanja Online
Satu tersangka Kelompok Penipu Modus Belanja Online ditangkap di Sulawesi Tengah (Sulteng).

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Tim Khusus Polda Sulsel bersama Polres Pangkep meringkus kelompok pelaku penipuan dengan modus belanja online.


Seorang pelaku inisial R (27) lebih dulu diringkus di wilayah Ampibabo, Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Panit Tim Khusus Polda Sulsel Arthenius mengatakan, berdasarkan laporannya anggota di lapangan mengetahui keberadaan pelaku R di Kabupaten Pariamo, Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Selanjutnya tim khusus Polda Sulsel bersama anggota Polres Pangkep dibantu Jatanras Polda Sulteng melakukan penangkapan terhadap pelaku yang sedang tidur di rumashnya,” kata Arthen Jumat (8/2/2019)


Menurut pengakuan R bahwa telah melakukan aksinya ditemani tiga orang rekannya yang masing-masing berdomisili di Kabupaten Sidrap dan Bekasi, masing-masing inisial K di Sidrap), N di Sidrap, dan U yang merupakan warga Jakarta.

Terungkapnya, modus penipuan online dengan menawarkan barang bibit bebek terhadap dua warga Kabupaten Pangkep Sulsel yang mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

Setelah mendengarkan keterangan R, Timsus Polda Sulsel bersama anggota Reskrim Polres Pangkep berangkat ke Bekasi dan berhasil meringkus U.

Penangkapan itu berjalan dengan mulus setelah Timsus Polda Sulsel dan Resmob Polres Pangkep dibantu Remob Polda Metro Jaya dan berhasil mengamankan tersangka U (36) warga Kalibaru Barat, Cilincing, Jakarta Utara.

Dari hasil keterangan tersangka U mengaku berperan sebagai penyedia kartu ATM sebagai pemerima dana dari korbannya. Dari tangan tersangka polisi mengamankan 28 ATM dan 5 buku tabungan Bank BRI dan BNI.

“Pelaku ini langsung diterbangkan ke kota Makassar menuju Posko Timsus Polda Sulsel. Peran kedua yang kami amankan yakni Ronal yang menyediakan aplikasi belanja online sedangkan Undru sebagai penyedia ATM sebagai penerima dana korban,” jelas Arthen.

Arthen menambahkan tersangka Undru ini memiliki peran sangat penting, ia membeli ATM dari seseorang seharga Rp1 juta lengkap nomor rekening dan pin yang masih aktif, ATM inilah yang digunakan untuk dipakai transaksi untuk mengeruk uang korban dan dirinya mendapatkan persen 20 persen dari uang yang masuk ke rekening kerjanya.

(herman kambuna/pojoksulsel)