5 Fakta dan Mitos Seputar Kanker Usus

Radang Usus Besar

POJOKSULSEL.com – Ayo sayangi ususmu. Jika sudah terkena kanker, maka tentunya akan melewati rangkaian pengobatan yang panjang. Lakukan gaya hidup sehat, banyak gerak, dan asupan yang sehat bukan asal enak.


Banyak anggapan yang salah di masyarakat seputar penyakit ini. Masyarakat masih awam tentang berbagai penyebab, cara mencegah, dan pengobatan kanker usus.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjabarkan dengan detail fakta dan mitos seputar kanker usus. Maka masyarakat bisa memulai untuk hidup sehat sehak saat ini sebelun terlambat.

1. Probiotik Baik untuk Usus, Mitos atau Fakta?


Menurut dr. Ari, probiotik baik untuk pencegahan kanker usus. Probiotik adalah makanan kesehatan. Salah satunya mencegah penyakit pencernaan. Sayur dan buah banyak mengandung probiotik. Probiotik memberikan kuman-kuman baik di perut kita.

2. Maag Sebabkan BAB Berdarah, Mitos Atau Fakta?

Menurut dr. Ari, maag tidak membuat BAB berdarah tetapi ketika lambung luka bisa membuat feses menjadi hitam. Sedangkan kanker usus ditandai dengan BAB berdarah.

3. Tumor Jangan Dibiopsi, Mitos atau Fakta?

Menurut dr. Ari anggapan itu salah. Masyarakar menganggap jika ditemukan tumor maka jangan dibiopsi nantu jadi mengganas. Hal itu salah. Sebab untuk meyakini bahwa itu adalah kanker, maka setelah dilakukan endoskopi harus dibiopsi. Biopsi tak ada hubungannya dengan perburukan penyakit.

4. Merokok Bisa Memicu Kanker Usus, Mitos atau Fakta?

Menurut dr. Ari, rokok merupakan faktor risiko utama, tak hanya perokok aktif tetapi juga pada perokok pasif. Faktor genetik juga menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar, namun gaya hidup merupakan hal yang utama.

5. Obesitas Bisa Memicu Kanker Usus, Mitos atau Fakta?

Menurut dr. Ari, beberapa faktor risiko lain adalah kegemukan, kurang gerak dan mengkonsumsi alkohol. Ada beberapa faktor risiko yang tidak dapat berubah yakni usia. Usia di atas 50 tahun menjadi batasan untuk memulai skrining. Faktor genetik berupa riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease/IBD) sebelumnya. Riwayat penyakit kencing manis/diabetes mellitus merupakan faktor risiko yang juga harus diantisipasi.

(ika/JPC/pojoksulsel)