POJOKSATU.id, NAMA Karmila Purba sempat jadi sorotan pada tahun 2017, hingga diberitakan media luar negeri. Dia mencuat setelah atraksinya sebagai perempuan joki tong setan di salah satu lokasi pasar malam di Sumatera Utara terekam kamera seorang fotografer.

Karena keberanian tampil beda dan viral saat itu, Karmila Purba sempat diundang ke Thailand pada tahun 2018 oleh salah satu perusahan olahraga. Di negeri Gajah Putih itu, dia menunjukkan kembali atraksi sebagai joki tong setan di arena lebih wah.

Kini, enam tahun berlalu, apa kabar Karmila? Perempuan kelahiran Pematangsiantar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, ini mengaku masih betah dengan pekerjaannya yang penuh adrenalin sebagai joki tong setan.

"Sekarang masih menggeluti tong setan. Yang ngebuat bertahan itu karena sudah nyaman dengan pekerjaan ini," ujarnya kepada Pojoksatu.id, saat dihubungi, Rabu (14/6/2023).

Perempuan kelahiran 1998 ini menambahkan setelah dirinya viral, mulai banyak kaum cewek yang mengikuti jejaknya bekerja sebagai joki tong setan.

Kini, dia juga lebih memilih fokus dengan pekerjaannya, tak peduli dengan berbagai omongan orang soal perempuan jadi joki tong setan.

"Untuk orang-orang yang sering anggap sebelah mata tentang pekerjaan ini, enggak aku peduliin, cukup aku jadikan motivasi," tegas warga Jalan Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun tersebut.

Mila-sapaan Karmila, juga masih bernampilan sama. Rambutnya yang panjang kerap kali dibiarkannya terurai tiap kali beraksi di berbagai pasar malam. Dia mengendarai motor RX King di dalam venue berbentuk lingkaran dengan ukuran sekira enam meter dan tingginya dari dasar empat meter. Dinding tong raksasa itu bentuknya tentu tegas lurus namun miring 90 derajat. Dan, memang hanya orang yang berani dan punya skill yang mampu menaklukkannya.

Tong Setan atau Tong Stand selama ini identik dengan atraksi atau seni pertunjukkan yang dilakukan para kaum pria. Keberaniaan Mila yang membuatnya jadi sorotan yang dianggap sebagai pelopor joki tong setan di Sumatera Utara.

Mila mengakui terjun sebagai joki tong setan karena faktor ekonomi. Keluarganya tak mampu membiayai sekolah hingga dia harus rela putus sekolah saat kelas X SMA. Dia mencoba beberapa pekerjaan, salah satunya di rumah hantu wahana pasar malam juga.

Karena sama-sama di wahana pasar malam, dia selalu penasaran dengan tong setan. Dia perlahan belajar mengendarai sepeda motor dengan penanggung jawab tong setan, hingga akhirnya mahir jadi joki.

"Karena faktor ekonomi, saya putus sekolah. Dari situlah jadi joki tong setan sampai sekarang," bebernya.

Mila sendiri kerap berpindah tempat sesuai lokasi atraksi di wahana pasar malam itu berada. Dan, dia nyaman dengan pekerjaannya meski honor dari joki tong setan tergantung berapa banyak penonton yang hadir juga saweran yang diberikan orang menyaksikan.

Normalnya, untuk masuk ke wahana tong setan, tiket dibanderol Rp10 ribu. Sedangkan, saweran nilainya beragam. Namun, Mila sangat mensyukuri semuanya. Dia beraksi mulai pukul 19.00 WIB sampai penghujung habis setiap hari kecuali hujan, karena bagian atas tong tidak terututp.

Pun, layaknya setiap pekerjaan ada risiko, begitu juga Mila. Dia pernah terjatuh, terutama saat mati listrik. Tapi dia mengakui tak mengalami cedera yang serius.
"Cedera pernah kak, tapi cuman lecet-lecet doang. Itupun karena mati lampu," timpalnya.

Begitu juga, terkadang ada penonton yang mempermainkannya ketika hendak mengambil sawer. Dan, itu sangat menyakitkan hatinya.

"Kadang pengunjung kayak enggak niat ngasihnya. Mereka kayak seolah-seolah mempermainkan. Kita sudah ulurkan tangan (dari atas motor yang berjalan), pas mau kita ambil uangnya, ditarik lagi. Dimain-main," jelasnya.

"Kita kadang emosi, kita main dengan taruhan nyawa. Kita mau menghibur mereka, tapi merekanya enggak menghargai kita banget," sambungnya.

Saat ini, Mila hanya ingin menjalani pekerjaannya dengan baik sebagai joki tong setan. Namun, terbersit di hatinya ingin dunia benar-benar melirik skill-nya.

"Untuk impian yang belum terwujud, ingin go internasional dan membahagiakan orang tua," pungkas Karmila Purba. (nin/pojoksatu)