Cerita Adik Dinar Candy yang Selamat dari Gempa Cianjur, Pesantren Roboh dan Masih Trauma Ingat Banyak Teman Santrinya yang Terluka

Adik Dinar Candy selamat dari gempa Cianjur
Kisah adik Dinar Candy yang selamat dari gempa Cianjur yang meluluhlantakkan pesantren tempatnya belajar. Foto : Instagram/@rumpi_ttv.

POJOKSATU.id, GEMPA Cianjur telah meluluhlantakkan banyak bangunan di sekitar salah satunya Pesantren Al-Uzlah, Cipanas, tempat adik Dinar Candy menimba ilmu bersama ribuan santri.


Saat kejadian gempa Cianjur itu, adik Dinar Candy menjadi sorotan karena sang kakak kalang kabut mencarinya dan menyebarkan kabar kehilangan via media sosial.

Teteng, nama adik Dinar Candy, akhirnya ditemukan di lapangan dekat pesantren yang roboh akibat guncangan gempa.

Dia menceritakan saat kejadian pada 21 November 2022 siang itu, mereka sedang berada di pesantren. Namun, kursi goyang dan guncangan besar datang. Santri pada keluar dan berebut mencari jalan.


Teteng yang masih bingung bercampur syok melihat yang terjadi baru ikut lari beberapa detik kemudian.

“Orang pada keluar, aku panik, syok, aku malah diam saking syoknya lemas. Pas teman-teman pada keluar aku baru bisa lari,” ujarnya di Rumpi No Secret.

BACA JUGA : Adik Dinar Candy Belum Ditemukan Usai Pondok Pesantren Al Uzlah Hancur Digoncang Gempa Cianjur

BACA JUGA : Alhamdulillah, Sang Adik Ditemukan, Takut Gempa Susulan Dinar Candy Boyong Keluarganya ke Jakarta

Namun, saat itu tangga bangunan ikut roboh. Namun karena ingin keluar tergesa-gesa, para santri tetap menggunakan tangga itu, hingga ada yang tertimpa reruntuhan.

Teteng sendiri memilih mundul dan melihat ada ruangan yang masih bagus belum roboh yaitu kamar mandi. Bersama satu temannya mereka masuk kesana.

Kamar mandi itu ternyata atasnya terbuka hingga jika dipanjat dengan sekuat tenaga bisa langsung keluar. “Aku berusaha manjat terus lompat ke lapangan. Cuma berdua (sama temannnya ikut panjat),” kenangnya.

Sampai di lapangan, dia melihat betapa mengerikannya kondisi persantren dan lingkungan sekitar.

“Sudah di lapangan lihat bangunan roboh, asrama roboh, sekolah roboh. Pas lihat masjid sudah hancur,” sebutnya.

Saat itu, sembari memikirkan teman-temannya yang lain yang ada di lapangan dengan kondisi berdarah, Teteng ingat kakaknya dan orang tuanya. “Sedih banget, ingat ke bapak sama teteh, takut gimana-mana,” jelasnya.

Evakuasi para santri tidak hanya dilakukan para pengurus pesantren tapi juga warga sekitar. Sementara semua santri yang sudah dikumpulkan di lapangan diminta membaca almaul husna dan salawat.

Namun, mereka merasakan lagi ada gempa susulan. Dan, semua diminta menjauh hingga ke kebun dekat pesantren. “Nunggu sampai reda, dipindahi ke kebun, dikasih minum, di situ nunggu,” ujarnya.

Teteng mengaku sempat ingin kabur karena takut gempa susulan lagi. Namun, dia terpikir bagaimana jika bapaknya mencarinya. “Sempat pengen kabur soalnya sudah enggak tahan pengen selamat, cuma enggak jadi, takut juga bapak ke pondok,” ungkapnya.

Setelah bapaknya yang sudah kebingungan mencari karena akses komunikasi terputus, menemukannya di lokasi, Teteng turut dibawa ke Jakarta untuk tinggal bersama Dinar Candy hingga keadaan kondusif.

Pun demikian, meski sudah di Jakarta, dia masih trauma, ada ketakutan gempa susulan.

“Sekarang masih kepikiran, trauma (melihat) teman-teman (yang terluka. Takut masuk kelas takut balik ke pondok, takut gempa lagi,” pungkas adik Dinar Candy itu. (nin/pojoksatu)