Tragedi Kanjuruhan, dr Tirta Soroti Polisi Gunakan Gas Air Mata, Minta Suporter yang Rusuh Ditindak

dr Tirta mengomentari tragegi Kanjuruhan yang menewaskan 180 orang usai kerusuhan suporter versus polisi.
dr Tirta mengomentari tragegi Kanjuruhan yang menewaskan 180 orang usai kerusuhan suporter versus polisi.

POJOKSATU.id, DUKA mendalam turut dirasakan dr Tirta Hudhi atas meninggalnya 180 orang usai tragedi Kanjuruhan usai laga Liga 1 antara Arema FC versus Persebaya. Dia menyoroti penggunaan gas air mata yang ditembakkan polisi di lokasi.


dr Tirta berharap ada evaluasi besar-besaran di semua lini, termasuk soal bagaimana gas air mata masih digunakan untuk mengatasi kerusuhan suporter bola, padahal sudah dilarang FIFA.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Salah satu tragedi kelam di sepak bola dunia. Evaluasi panpel dan tim penjaga keamananan selama pertandingan, jangan hanya klub dan suporter yang kena sanksi,” tulisnya di laman Instagram-nya, Minggu (2/10/2022).

“Serusuh-rushnya suporter, penggunaan gas air mata itu sudah dilarang FIFA dalam stadion, karena akan membuat suporter menjadi berdesak-desakan keluar. Dan, jadi kehabisan o2 dan akhirnya hipoksia lalu meninggal,” jelas dokter yang punya usaha sepatu dan influencer ini.


BACA JUGA : Suaranya Terdengar Meninggi, Jokowi : Saya Minta Kapolri Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan Malang

Pun, dia menginginkan suporter yang memicu kerusuhan di lapangan harus ditindak tegas. “Benar sekali. Akan tetapi, tetap Harap diusut @divisihumaspolri dan panpel @pssi. Evaluasi mitigasi, beberkan fakta, karena berita ini disorot internasional sekarang,” tegasnya.

Dia juga menyarankan laga dihentikan sampai kasus ini selesai diusurt. “Hentikan liga sampai ada fakta yang terungkap, karena kejadian ini bisa terjadi di stadion mana aja,” sambungnya.

dr Tirta mengingatkan tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 orang atau beberapa kejadian mengerikan lainnya dalam sepak bola. Dan, harusnya sudah jadi evaluasi buat semua pihak.

BACA JUGA : Berduka Tragedi Kanjuruhan, Airlagga : Sepakbola Bukan Ajang Kebencian

“Coba cek tragedi Hillsborough 1989, ketika Liverpool vs Forrrest di Inggris, itu tragedi kelam sebelum ini, kejadiannya mirip mirip, fakta terbongkar baru 2010-2012. Tragedi Heysel 1985, yang berujung pada saksi berat buat Liverpool dan tim tim inggris lainnya,” ungkapnya.

Hingga saat ini tragedi mengerikan urutan pertama masih dicatat pada tahun 1964 di Estadion Nacional Peru vs Argentina. “Saat itu lebh dari 300 suporter meninggal, dan juga akibat desak-desakan karena gas air mata ditembak ke tribun,” pungkas dr Tirta. (nin/pojoksatu)