Pemeran Zahra Diganti, Ernest Prakasa Nilai Sinetron ‘Suara Hati Istri’ Tetap Bermasalah

Ernerst Prakasa
Ernerst Prakasa. Foto ; Instagram

POJOKSATU.id, SUTRADARA dan komika Ernest Prakasa masih menyoal sinetron Suara Hati Istri, dimana tokoh Zahra yang selama ini diperankan artis 15 tahun telah diganti.


Sebelumnya, Zahra yang diperankan Lea Ciarachel telah digantikan oleh artis Hanna Kirana, berumur 23 tahun, sejak kemarin.

Bagi Ernest selain soal artis muda itu, sejatinya ada masalah yang masih tersisa di tayangan Indosiar itu.


“Kenapa menurut gua sinetron ini bermasalah,” ujarnya di video penjelasan di Instagram-nya, Jumat (4/6/2021).

Ernest menjelaskan sejak ada UU 1974 tentang pernikahan sudah diatur usia legal untuk menikah adalah 16 tahun.

Dimana aturan itu keluar karena pernikahan terlalu dini dinilai banyak hal negatifnya. “Masa depan terputus, tidak bisa mengejar cita-cita dan faktor fisik untuk melahirkan mengandung di usia muda,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya sejak 2019 ada UU pernikahan yang mengatur usia legal di Indonesia untuk menikah adalah 19 tahun.

“Kita punya tanggung jawab buat mengedukasi menikah di usia muda berbahaya, banyak negatifnya untuk perempuan,” lanjutnya.

Nah, yang dilihat Ernest di sinetron ini Zahra dikisahkan menikah saat SMA.

“Dengan memberikan penggambaran anak SMA dinikahkan, lain cerita konfliknya terletak di anak SMA menikah tidak bahagia, beda cerita. Ini kayak diromantisasi, keluarganya senang jadi kayak gimana ya,” sebutnya.

Ernest juga menyoal pembelaan soal kasus Zahra ini, yang diduga merujuk artis Fanny Ghassani. Dimana, Fanny heran banyak yang protes terkait usia 15 tahun memerankan istri ketiga di sinetron tersebut.

Ernest pun mengingatkan jangan membandingkan beberapa konten YouTube yang disebut tidak bermanfaat jika dibandingkan dengan TV. Karena YouTube memang berbeda dengan TV.

“Itu YouTube masalahnya, Youtube itu bukan TV. TV kanal publik dan karena itu ranah publik, orang-orang yang menumpang frekwensi milik negara tersebut punya tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat beda sama konten, streaming, Youtube,” tuturnya.

Ernest menegaskan tidak ingin sinetron itu dihentikan sebenarnya.

“Gua enggak pernah berharap sinetron disetop. Gua cuma pengen kesempatan ini kita manfaatkan dengan menyebarkan awareness. Kita ada di era, dimana pernikahan remaja sudah bukan sesuatu yang dilegalkan oleh negara,” tegasnya.

“Jadi kalau ada penggambaran yang bukan negatif atau romantisasi (soal pernikahan usia muda), ya teman-teman nilai sendiri. Kira-kira itu banyak manfaatnya atau mudaratnya,” pungkasnya. (nin/pojoksatu)