Ingat Memori saat Jadi Korban Tsunami Aceh, Cut Meyriska Masih Trauma Melihat Laut

Roger Danuarta
Cut Meyriska dan Roger Danuarta. Foto : @fandy_the @fdphotographyfamily

POJOKSATU.id, PESINTERON Cut Meyriska sulit melupakan kejadian mengerikan saat tsunami menerjang Aceh pada 2004 lalu. Saat itu, dia masih SD ketika ratusan ribu nyawa melayang.


Chika-sapaan akrabnya, masih mengingat kejadian itu dengan jelas hingga dirinya mengalami trauma mendalam.

Dirinya pernah hilang saat tsunami menerjang hotel tempatnya saat itu menginap bersama saudara-saudaranya.

“Trauma, hilang, enggak ketemu sama nyokab bokap meninggu lebih,” ujarnya di Uya Kuya TV, Rabu (14/4/2021).


Istri Roger Danuarta itu mengisahkan saat itu dirinya duduk di bangku jelas IV SD. Tante dan keluarga besarnya mengajak liburan ke Sabang. Dan menginap di sana.

“Malamnya sebelum kejadian aku minta tidur di depan pantai, kayak cottage-cottage gitu, enggak dikasih sama tante, kata tante udah bayar mahal hotel, hotelnya di puncak, ngapain (di cottage depan pantai),” ujarnya.

Karena permintaannya tidak dituruti, Chika kesal. Dan memilih esok harinya untuk main ke pantai. Namun, sebelum niatnya terwujud gempa terjadi.

“Besok paginya karena kepikiran pengen ke pantai buru-buru mandi, pas mandi ternyata gempa, jatuhlah aku di kamar mandi. Eh orang-orang sudah kabur, aku sendiri di kamar mandi, karena ramai, sama keluarga dan sama saudara,” jelasnya.

Saat itu, kedua orang tuanya tidak ikut, dan sedang di Banda Aceh.

“Habis itu dipanggilin sama tante ‘ayo keluar-keluar, gempa-gempa, pas keluar lihat ke bawah langsung laut menggulung, seram banget,” ungkapnya.

Dia menyaksikan orang berlarian di hotel dengan mengenakan pakaian seadanya. Mereka kebingungan dan kelaparan karena terjebak di hotel.

Makan Mi Instan Pakai Air Laut

“Sinyal enggak ada, enggak bisa komunikasi sama siapapun, lapar juga, makan mi intan bekas pakai air tsunami air laut, (manasin) pakai mahatari, ya udah daripada enggak makan,” kenangnya.

Karena masih kecil, Chika mengaku belum paham benar apa yang terjadi. Dia kira hanya banjir biasa. Diapun keluar turun ke bawah tanpa sepengetahuan tantenya dan sempat hilang beberapa saat. “(Tiba-tiba) ada gelombang lagi, lari,” sebutnya.

Mereka bertahan di hotel tanpa makanan, pihak hotel sama sekali tidak membuka stok makanan yang ada. Hingga mereka masuk ke toko di hotel yang sudah porak poranda juga demi mengambil makanan.

Setelah kejadian itu, seminggu kemudian, Chika baru bisa bertemu kedua orang tuanya.

Namun, apa yang terjadi sulit baginya untuk dilupakan.

Saat ini, Chika beruntung memiliki suami yang memahami kondisi psikisnya. Roger membantunya menghilangkan trauma itu sedikit demi sedikit.

“Roger banyak ngajakin diving, awalnya muka pucat, pas masuk nangis dulu, pas di dalam (laut) tenang,” ujarnya. (nin/pojoksatu)