Kirana Larasati Merasa Lucu Melihat Prabowo Jadi Anak Buahnya Jokowi

Kirana Larasati. Foto : Twitter

POJOKSATU.id, JAKARTA-Masuknya Prabowo Subianto dalam jajaran kabinet menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus menjadi perbincangan publik.


Pasalnya, sang lawan politik Jokowi di Pilpres 2019 itu bersedia menjadi menteri pertahanan dan berada di bawah kendali Jokowi.

Salah satu yang bersuara tentang hal ini adalah pesinetron dan politisi PDIP, Kirana Larasati.

Kirana merasa lucu melihat apa yang terjadi. “Melihat pak Prabowo jadi anak buahnya pak Jokowi tuh rasanya lucu lucu gimana gitu.. ?,” cuitnya di Twitter, Rabu (23/10/2019).


Kirana pun mencoba memahami bahwa dalam politik apa saja bisa terjadi, bahkan lawan bisa menjadi sahabat.

“Belajar memahami ilmu politiknya Pak Jokowi. Bahwa dalam politik tidak ada lawan sejati, tidak ada musuh abadi. Yang ada hanya kepentingan,” ungkapnya.

Diapun berharap tidak ada drama dalam pemerintahan baru ini. “Semoga Kabinet Kerja Jilid 2 ini no drama drama yaa,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, ada 38 menteri yang diumumkan Jokowi. Dia menyatakan bahwa dalam lima tahun ke depan kabinetnya akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, serta pemberdayaan usaha mikro.

Setelah mengumumkan kabinetnya, Jokowi berpesan kepada para menteri agar tidak melakukan korupsi.

Jokowi juga mengajak para menterinya duduk lesehan di Istana yang diunggah di akun Instagramnya.

“Duduk lesehan di undak-undakan istana bersama Wakil Presiden pagi ini, saya mengumumkan para menteri Kabinet Indonesia Maju. Ada wajah lama, ada muka baru. Semuanya akan bekerja membantu saya, mengejar ikhtiar bersama menuju Indonesia maju,” jelasnya.

Jokowi berpesan kepada para menteri kabinet yang utama adalah: Jangan korupsi! Ciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi.

“Kedua, tidak ada visi dan misi menteri. Hanya ada visi dan misi presiden dan wakil presiden. Ketiga, semua harus bekerja cepat, kerja cerdas, dan produktif. Keempat, jangan terjebak pada rutinitas yang monoton,” ungkapnya.

“Pesan kelima, kerja yang berorientasi pada hasil nyata. Tidak sekadar mengirim pesan, tapi making delivered. Keenam, selalu turun mengecek di lapangan dan temukan solusinya. Dan yang terakhir, ketujuh, adalah semuanya harus serius dalam bekerja. Selamat bekerja,” pungkasnya. (nin/pojoksatu)