Ini Kata Jokowi tentang Perfilman Nasional

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU – Malam penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2014 sedang berlangsung Sabtu (6/12) malam ini di Palembang Sports & Convention Center, Palembang, Sumatera Selatan. Presiden Joko Widodo pun memberikan perhatian khusus terhadap perfilman nasional.

Selain menghadiri langsung malam puncak FFI, Presiden Jokowi juga sempat menumpahkan kesan dan harapannya di ‘halaman pribadinya’. Jokowi menulis, film adalah bagian dari kerja budaya, dan sejarah kesenian sebuah bangsa. “Saya ingin sekali di Indonesia hadir film yang mampu menyodorkan kesadaran akan problem-problem sebuah bangsa dan masyarakat,” kata Jokowi.

Presiden menilai, film yang baik adalah film yang mencerahkan, dimana setelah penonton menyaksikan film itu jiwanya puas, dan adegan dalam film itu menjadi pintu kenangan bagi kehidupannya.

“Terus terang saya sangat menyukai film-film Indonesia. Di masa muda saya ingat film Rano Karno “Gita Cinta Dari SMA” dan sequel-nya “Puspa Indah Taman Hati” begitu meledak dan disukai masyarakat, ada romantika-nya dan ada unsur realisme yang berkembang secara dialektis di masa itu,” tutur Jokowi di ‘halaman pribadinya’.


Jokowi juga mengaku menyukai film-film buatan Teguh Karya. Menurutnya, karya Teguh adalah film yang mampu menghentak kesadaran masyarakat, membongkar penindasan terselubung dalam hubungan kemanusiaan seperti: feodalisme, patriarki dan sistem masyarakat yang mendewakan jabatan dan materi.

“Film-film Pak Teguh Karya seperti ‘Dibalik Kelambu’, ‘Badai Pasti Berlalu’, ‘November 1828’, ‘Ponirah Terpidana’ atau ‘Ibunda’ merupakan karya raksasa dari Pak Teguh Karya yang menurut saya punya mutu kontemplasi tinggi dalam menjelaskan problem-problem di masyarakat, persoalan keluarga bahkan menyingkap sejarah seperti film “November 1828″ yang merupakan titik balik kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830 setelah Belanda melakukan strategi perang Benteng Stelsel,” tulis Jokowi.

Jokowi berharap, film-film Indonesia tidak terpisah dari persoalan bangsa dan masyarakat. “Selamat untuk FFI, dan saya pesan untuk kebudayaan kita salah satu bait sajak WS Rendra yang berjudul “Sebatang Lisong”: Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan”. Semoga film Indonesia tidak mengasingkan generasi muda-nya terhadap sejarah dan realitas kekinian bangsanya,” tutup Jokowi. (adk/jpnn)