POJOKSATU.id, SUBANG - Penasaran berapa harta kekayaan Dedi Mulyadi, mantan bupati Purwakarta dua periode yang kini menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra?
Untuk mengetahui berapa harta kekayaan Dedi Mulyadi, simak berita ini sampai selesai.
Harta kekayaan Dedi Mulyadi dapat dilihat melalui situs https://elhkpn.kpk.go.id/.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 6 Maret 2022, kekayaan Dedi Mulyadi mencapai Rp6.106.425.453.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi itu mempunyai 46 bidang tanah dan bangunan yang tersebar di Purwakarta dan Subang senilai Rp 5.082.534.000.
Kang Dedi juga memiliki harta bergerak berupa alat transportasi dan mesin. Ia memiliki 6 unit mobil senilai Rp 3.987.364.000.
Baca Juga: 19 Link Beli e-Meterai dan Cara Menggunakan, Pelamar CPNS dan PPPK 2023 Wajib Tahu
Total harta kekayaan Kang Dedi yakni Rp 9.683.033.925. Namun dia memiliki utang sebesar Rp 3.576.608.472, sehingga kekayaannya hanya Rp 6.106.425.453.
Salah satu sumber pendapatan Dedi Muluyadi saat ini adalah channel YouTube pribadinya, KANG DEDI MULYADI CHANNEL.
Ia mengaku penghasilannya dari YouTube mampu menggaji sekitar 30 orang karyawannya.
"Ada yang gajinya Rp 20 juta per bulan," ujar Dedi saat berbincang dengan Forum Pemred Radar Bogor Grup di Lembur Pakuan Sukadaya, Desa Sukasari, Rawalele, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Rabu 27 September 2023.
Kang Dedi tak bersedia menyebut nominal penghasilannya dari YouTube. Namun saat ditanya apakah mencapai Rp 100 juta per bulan, Dedi menyatakan nominalnya lebih dari angka tersebut.
Pria yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai calon gubernur Jawa Barat 2024 itu membeberkan aliran penghasilannya setiap bulan.
Dedi mengaku membelanjakan hasil pendapatannya untuk membangun dan mempercantik kampung halamannya. Hal itu dilakukan Dedi sejak menjabat sebagai Bupati Purwakarta hingga sekarang.
"Saya punya filosofi uang yang saya dapat harus beredar di rakyat. Saya belanjakan tapi harus beredar di desa,” ucapnya.
Setelah tidak menjabat sebagai bupati, Dedi Mulyadi kini menetap di kampung halamannya di Lembur Pakuan Sukadaya, Desa Sukasari, Kabupaten Subang.
“Pendapatan saya setiap bulan beredar (dibelanjakan) di sini. Beredar di tukang nyangkul, beredar di tukang tandur, beredar di tukang tembok, beredar di tukang mikul, beredar di tukang nyapu," tambah Dedi.
Dedi mengaku memiliki ratusan karyawan dari kelompok masyarakat kurang mampu. Mereka dipekerjakan sebagai tukang sapu hingga tukang tembok.
"Mereka bisa menyekolahkan anak, bangun rumah dan lain-lain,” imbuhnya.
Lebih luas ia menjelaskan, yang paling penting di Indonesia adalah dari sisi regulasi keuangan.
“Distribusi keuangannya tidak beres, uang diambil di kampung-kampung di seluruh Indonesia dikumpulin di Jakarta lalu dibawa ke luar negeri,” tegas mantan Bupati Purwakarta dua periode tersebut.
Dedi Mulyadi menegaskan, uang yang dari kampung harus tetap beredar di kampung sehingga perekonomian tetap hidup.
“Yang jadi problem ekonomi kapitalisasi itu kan pengangkutan aset orang-orang kecil dikolektif menjadi milik orang-orang besar dan oleh mereka dibawa ke tempat lain,” tegas dia.
Dedi Mulyadi berharap, setiap orang punya kapasitas membangun kampung dan menata lingkungan desanya.
“Problemnya, orang senang jalan-jalan ke luar negeri ngambil apartemen di Jakarta yang nongkrong tiap hari di restoran-restoran mahal,” jelas dia. ***



