PURWAKARTA, POJOKSATU.id, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIM) Al-Muhajirin Purwakarta menegaskan pentingnya memadukan ilmu pengetahuan dan tradisi kepesantrenan untuk melahirkan generasi ulama, sarjana, dan pengusaha yang berilmu, berakhlak, serta mampu menghadapi tantangan zaman.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Studium Generale bertema “Dari Tradisi Menuju Inovasi: Integrasi Ilmu dan Kepesantrenan untuk Melahirkan Ulama, Sarjana, dan Pengusaha” yang digelar di Aula Bale Sawala Yudistira, Sabtu (10/10/2026).

Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, MA, mengatakan, pendidikan tinggi berbasis pesantren harus mampu menggabungkan ilmu agama, kemampuan akademik, dan keterampilan profesional.

Menurutnya, lulusan perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga harus memiliki karakter, akhlak, kemandirian, serta kepedulian terhadap masyarakat.

“Pendidikan yang berakar pada nilai-nilai kepesantrenan harus mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan siap memberikan manfaat bagi umat,” ujarnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus mengikuti perkembangan zaman.

Ia mendorong sivitas akademika STAIM Purwakarta menjadikan Al-Qur’an, Sunnah, dan khazanah keilmuan ulama sebagai landasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan inovasi.

“Tradisi pesantren bukan penghalang kemajuan. Justru dari tradisi yang kuat dapat lahir inovasi yang tetap memiliki arah, nilai, dan kemaslahatan,” katanya.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua pemateri, yakni Dr. KH. Muchlis M. Hanafi, MA, dan Dr. KH. Rd. Marfu M. Ilyas, MA.

Keduanya mengajak mahasiswa dan sivitas akademika STAIM Purwakarta untuk mengembangkan pendidikan Islam yang tetap berpegang pada sumber ajaran agama, tetapi terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat modern.

Dr. KH. Muchlis M. Hanafi menekankan pentingnya memahami teks-teks keislaman secara mendalam dan kontekstual agar ajaran agama tetap relevan dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan.

Menurutnya, tantangan pendidikan Islam bukan terletak pada kemampuan agama mengikuti perkembangan zaman, melainkan pada cara manusia memahami dan menerapkan ajaran agama di tengah perubahan.

Adapun Dr. KH. Rd. Marfu M. Ilyas mengingatkan bahwa tradisi keilmuan Islam harus menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya inovasi, bukan sesuatu yang dipertentangkan dengan modernitas.

“Tradisi yang hidup tidak takut pada zaman. Tradisi itu menjawabnya,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti dua tantangan dalam dunia pendidikan Islam, yakni kecenderungan mengikuti perkembangan zaman dengan meninggalkan tradisi keilmuan Islam, serta mempertahankan tradisi secara formal tanpa berupaya menghadirkan relevansinya dalam kehidupan saat ini.

Menurutnya, kedua persoalan tersebut perlu dijawab melalui pemahaman terhadap sumber-sumber keislaman secara mendalam dan sesuai konteks.

Prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah, yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik, menjadi salah satu landasan penting dalam pembaruan pendidikan Islam.

Melalui kegiatan Studium Generale ini, STAIM Purwakarta diharapkan semakin memperkuat pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai pesantren, penguasaan ilmu pengetahuan, dan semangat inovasi untuk melahirkan generasi yang mampu berkontribusi bagi umat dan masyarakat.***