PURWAKARTA, Pojoksatu.ID — Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Purwakarta yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 hingga kini belum juga digelar.

Jadwal yang molor ini mulai menjadi sorotan, terutama di tengah munculnya dinamika dan persaingan sejumlah nama yang disebut-sebut berpotensi maju sebagai calon Ketua DPD Golkar Purwakarta.

Kondisi tersebut membuat sejumlah mantan kader maupun pengurus Golkar sebelumnya ikut prihatin. Mereka menilai, perebutan kursi ketua jangan sampai justru membuat kader internal saling berhadapan.

Mantan kader Golkar, Sarif Hidayat, bahkan menyebut pertarungan yang terlalu keras hanya akan meninggalkan pekerjaan rumah bagi partai setelah Musda selesai.

“Sudah tidak zamannya saling benturan antar kader terbaik hanya untuk berebut kursi Ketua DPD Golkar Purwakarta,” kata Sarif, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, setiap kandidat tentu memiliki pendukung dan kepentingan masing-masing. Namun, jika semuanya dipaksakan melalui pertarungan yang keras, bukan tidak mungkin Musda justru meninggalkan luka politik di internal partai.

“Kalau para calon tetap pada ego masing-masing dan saling benturan, bakal ada yang menangis, ada yang tertawa, dan ada pula yang bertepuk tangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pihak yang menang sekalipun belum tentu sepenuhnya bisa tertawa lega. Sebab, setelah terpilih, ketua baru tetap harus melakukan konsolidasi dan merangkul kembali pihak-pihak yang sebelumnya menjadi rival.

“Yang menang pun bisa saja sebenarnya menangis. Karena setelah Musda selesai, pekerjaan belum selesai. Harus kembali menyatukan kader dan merangkul mereka yang kalah,” katanya.

Sarif mengaku pernah merasakan dinamika serupa. Karena itu, ia menyarankan seluruh kandidat untuk lebih mengedepankan kedewasaan politik dan kepentingan partai dibanding ambisi pribadi.

“Saya pernah mengalami hal itu. Jadi alangkah bijaknya kalau semua calon Ketua DPD Golkar Purwakarta berpikir secara dewasa, duduk bersama dan berpikir jernih,” tambahnya.

Sarif juga mengingatkan, jika terjadi benturan keras di internal Golkar, justru pihak di luar partai yang berpotensi mendapatkan keuntungan.

“Yang bakal bertepuk tangan tentunya pihak eksternal. Ketika melihat kader Golkar benturan sendiri, mereka tentu menikmati situasi itu,” bebernya.

Menurut Sarif, Musda seharusnya menjadi momentum konsolidasi, bukan arena untuk mempertontonkan perpecahan.

Ia pun menawarkan jalan musyawarah sebagai solusi. Para kandidat, kata dia, sebaiknya duduk bersama mencari titik temu dan mencapai kesepakatan mengenai siapa yang akan memimpin Golkar Purwakarta untuk lima tahun ke depan.

“Kalau bisa duduk bersama dan mencapai mufakat, kan lebih elegan. Kader di bawah juga tidak akan ikut benturan hanya karena mendukung jagoannya masing-masing,” tuturnya.

Kini, publik dan kader Golkar Purwakarta masih menunggu kapan Musda tersebut benar-benar digelar.

Sebab, semakin lama Musda tertunda, semakin banyak pula ruang bagi spekulasi politik berkembang.

Kursi ketua memang hanya satu. Tapi kalau cara mendapatkannya membuat banyak kader saling menjauh, pertanyaannya: siapa sebenarnya yang menang dan siapa yang diam-diam bertepuk tangan? **