POJOKSATU.id, Purwakarta - Di setiap Pemilu, ada surat suara yang selalu luput dari coblosan warga. Surat suara itu adalah milik anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia.
Sebagaimana diketahui, pemilu di Indonesia diselenggarakan untuk memilih presiden dan wakil presiden, dewan perwakilan rakyat (DPR), dewan perwakilan daerah (DPD), dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) setiap lima tahun sekali.
"Bagi sebuah negara demokrasi, pemilihan umum menjadi salah satu sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. Maka mencoblos surat suara DPD adalah salah satu bentuk peran kita mewujudkannya," kata Atmaja Supriadi yang akrab dipanggil Jenderal Baskom.
Baskom itu sendiri identitas gerakan silih asah, asih, dan asuh selama kontestasi pemilu 2024 yang dibangun Atmaja untuk masyarakat Jawa Barat. Baskom identik dengan alat hantaran setiap perhelatan budaya dan hari besar Islam di Indonesia.
Atmaja sendiri tergerak dalam hingar bingar pemilu khusus calon DPD RI dari Jawa Barat. Sebab DPD selalu menyepi dalam kontestasi politik.
"Padahal DPD juga punya marwah kuat dalam demokrasi. Namun sering luput dan masyarakat banyak yang melewatkannya dibanding surat suara presiden dan calon anggota legislatif," kata Atmaja.
Dipahami Atmaja, masyarakat cenderung apatis pada surat suara DPD karena setiap calon tidak punya struktural kuat hingga ke akar rumput untuk berkampanye seperti partai.
"Terlebih banyak calon DPD tidak melakukan sosialisasi ke masyarakat dengan lebih tajam ke bawah," kata Atmaja.
Padahal, di surat suara DPD banyak tokoh yang patut mendapat perhatian warga karena peran calon banyak terbukti.
Satu di antaranya calon DPD dari Jawa Barat yang punya peran dan bukti konkret dalam kedaulatan negara, kedaulatan rakyat, hingga aksi-aksi nyata di akar rumput adalah Dr Hj Ifa Faizah Rohmah.
Calon DPD dari Jawa Barat nomor urut 34 itu satu-satunya perempuan yang telah membuktikan pengabdian pada rakyat, terutama di bidang pendidikan dan ekonomi kreatif.
Calon DPD nomor urut 34 yang akrab dipanggil Teh Ifa ini juga satu-satunya utusan Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat.
Dia kini banyak mendapat dukungan ribuan kiai, ratusan pondok pesantren, dan ratusan ribu santri di Jawa Barat. Termasuk guru-guru dari PAUD, pendidikan menengah atas, dan pendidikan tinggi.
"NU sendiri diketahui memiliki sejarah panjang dalam menjaga kedaulatan rakyat, marwah demokrasi, dan kecintaan pada Tanah Air. Wajar jika Teh Ifa mendapat dukungan luas. Wajar jika masyarakat luas pun mengembalikan jasa-jasa tokoh NU lewat kontestasi demokrasi seperti saat ini," kata Atmaja.***



