Siap-siap Petani Bakal Sengsara Bila Impor Beras Dilempar Ke Pasar, Dedi Mulyadi Warning Beras Impor Tak ‘Disiram’ Ke Pasar Bisa Matikan Petani

dedi mulyadi
Wakil ketua komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi.

POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi meminta kebijakan pemerintah dalam mengimpor beras tidak menyebabkan hancurnya harga beras di pasar lokal. Ia berharap impor beras tetap difokuskan sebagai cadangan di gudang Bulog.


Menurut Kang Dedi, saat ini para petani sedang menikmati hasil panen dengan harga gabah yang relatif baik di banding dengan sebelumnya. Jika beras impor sampai bocor ke pasar maka petani akan merugi kembali.

Impor beras, kata Dedi, dilakukan hanya untuk memenuhi cadangan mengisi gudang Bulog yang kosong dalam rangka menjaga ketersediaan pangan. Selain itu program tersebut diarahkan dalam memenuhi kebutuhan program pemerintah terutama di Kemensos seperti bantuan non tunai, termasuk stimulus berbagai peristiwa bencana.

“Tetapi saya keberatan kalau kemudian (impor beras) disiramin ke pasar. Kalau disiramin ke pasar otomatis harga beras akan jatuh. Kalau harga beras jatuh maka harga gabah akan jatuh lagi,” ujar Kang Dedi.


Hal tersebut menurutnya sudah menjadi kebiasaan pemerintah saat petani memasuki musim panen. Banyak kejadian saat panen justru beras impor membanjiri pasar sehingga petani menjadi rugi. Hanya saja sifat petani terutama di daerah tak pernah protes dan selalu menerima keadaan itu.

“Jangan sampai beras yang diorientasikan untuk cadangan nasional ini kemudian masuk ke pasar secara tiba-tiba, kan kalau begitu yang menikmati yang impor,” ucapnya.

Baca Juga :  Cie cie Calon Duda Keren Dedi Mulyadi Ketemu Calon Janda Muda, Minta Selfie Bareng

Jika melihat kondisi pasar saat ini, Kang Dedi menilai kebutuhan dan harga beras masih relatif baik meskipun tak lama lagi akan menghadapi Natal dan Tahun Baru 2023.

Hanya saja saat ini beras dikendalikan oleh bandar yang mendapatkan pasokan dari membeli gabah petani pada saat panen lalu. Sebab selama ini gabah petani lebih banyak diserap bandar dibanding oleh pemerintah yang dianggap terlalu banyak regulasi.

“Dan jujur saja selama ini petani diserap gabahnya oleh mereka, para bandar. Mulai dari bandar kecil sampai besar. Mereka membeli tanpa membuat standarisasi yang ribet. Kemudian hari ini pasti dong mereka (bandar) yang mengatur keuntungan, kemudian kalau disiram juga mereka akan rugi, apalagi yang baru panen lebih rugi lagi,” katanya.

Kang Dedi yang kerap berkeliling ke daerah lumbung padi di Jawa Barat banyak mendapatkan pernyataan dari petani agar pemerintah tidak melakukan impor untuk kebutuhan pasar lokal. Sebab jika itu terjadi maka petani akan kembali rugi karena harga jual gabah merosot.

Sehingga ia berharap impor beras dilakukan pemerintah adalah benar-benar mengisi gudang Bulog yang kosong untuk kemudian disinergikan dengan sejumlah program. Salah satunya serapan untuk bantuan masyarakat di Kemensos.

Baca Juga : Wajah Muram Dan Sedih Dedi Mulyadi Bukan Karena Digugat Cerai, Tapi Karena Masalah Prostitusi Mulai Menjamur

“Yang harus diperbaiki adalah manajemen pengelolaan termasuk di internal pemerintah melakukan koordinasi, sinkronisasi data sehingga tidak terjadi simpang siur data yang kedua-duanya dikelola dan dikeluarkan oleh pemerintah,” ucapnya.

Terakhir, Kang Dedi kembali mengingatkan agar impor beras benar-benar bertujuan untuk memenuhi cadangan pangan di gudang Bulog. Jangan sampai beras tersebut bocor apalagi membanjiri pasar.

“Sekarang ini apalagi yang mau diributin karena sudah mau datang kok. Tapi karena sudah mau datang harapan saya isi gudang bulog yang kosong jangan disiram ke pasar. Kalau disiram ke pasar petani bisa mati. Karena kalau sekarang langsung disiram ke pasar nanti gudang kosong lagi, nanti impor lagi,” pungkas Kang Dedi Mulyadi. (Ade Winanto / pojoksatu)