POJOKSATU.id, JAKARTA -- Ketua Ikatan Aktivis 98, Immanuel Ebenezer menilai Buku Hitam Prabowo Subianto yang ditulis aktivis Gerak 98 Buya Azwar sudah kedaluwarsa.
Adapun Buku Hitam Prabowo tersebut mendokumentasikan dugaan keterlibatan Prabowo Subianto dalam berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu.
"Buku Hitam Prabowo Subianto sudah kedaluwarsa," kata Immanuel dalam keterangannya, Selasa (12/12/2023).
Apalagi, kata dia, tiga kali Prabowo Subianto lolos uji verifikasi kontestasi Pilpres rasanya sudah cukup membuktikan bahwa Prabowo bersih dari pelanggaran hukum dan HAM berat.
"Jika pun ingin ditelusuri pihak-pihak yang dianggap dirugikan dalam kejadian 98 itu mayoritas sudah berada dalam barisan Prabowo Subianto," kata Immanuel.
Terlebih, lanjut Immanuel, petinggi-petinggi militer yang mengadilinya juga sudah secara tegas mendukung dan malah berada dalam tim kampanye nasional Prabowo-Gibran.
Karena itu, Immanuel menantang para pendukung penegak HAM di Indonesia serius untuk memperjelas proses hukum pelanggaran HAM di masa lalu Prabowo Subianto.
"Saya tantang untuk menuntut pasangan calon andalannya untuk juga berani ambil sikap dalam menyoroti kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya seperti halnya peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1996," ujarnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Wisata Paling Menarik di Jakarta untuk Merayakan Liburan Tahun Baru 2024!
Untuk itu, Immanuel menyarankan sebaiknya rakyat Indonesia untuk fokus melihat gagasan-gagasan para calon pemimpinnya, ketimbang mengkritik Prabowo.
"Yang rakyat butuhkan adalah jalan untuk menuju kesejahteraan bukan jalan untuk terus menatap mundur ke belakang. Buku hitam Prabowo Subianto sudah kedaluwarsa," tuturnya.
Sebuah buku yang mendokumentasikan jejak hitam Prabowo Subianto dalam berbagai kasus pelanggaran HAM diluncurkan di Jakarta, Minggu, 10 Desember 2023. Peluncuran buki ini bertepatan dengan Hari HAM Internasional.
Baca Juga: Ini Sederet Program Unggulan yang Sudah Dilakukan Vera Febyanthy di Dapil Jabar 7
Dalam buku ini, mengulas penculikan aktivis, kerusuhan Mei 1998 dan bagaimana dugaan keterlibatan Prabowo, upaya Prabowo melakukan ‘kudeta’ terhadap Presiden B.J Habibie serta jejak kelamnya di Timor-Leste dan Papua.
Buku ini juga mengelaborasi mengapa Prabowo menjadi ancaman bagi masa depan demokrasi Indonesia dan apa yang sedang dipertaruhkan jika ia menjadi presiden.
Penulisnya, Azwar Furgudyama, berharap peluncuran buku ini semoga memberi harapan agar kasus-kasus pelanggaran HAM, terkhusus yang melibatkan Prabowo tidak terulang kembali.
“Pelanggaran HAM adalah soal serius dalaml kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bertalian dengan hak asasi warga untuk bisa hidup aman, terbebas dari berbagai bentuk kekerasan, intimidasi, represi, termasuk penculikan yang pernah menjadi bagian dari sejarah kelam reformasi 98,” kata Azwar.***
