POJOKSATU.id, JAKARTA— Pasangan Bima Arya-Dedi Mulyadi mengemuka di Pilgub Jabar 2024 seperti disampaikan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.

Dedi Mulyadi merupakan Calon Wakil Gubernur Jawa Barat yang kalah bersama incumbent Deddy Mizwar di Pilkada Jabar tahun 2018 lalu.

Terkait namanya yang dipasangkan dengan Bima Arya, Dedi Mulyadi memberikan respons.

Sebagai kader Partai Gerindra, Dedi menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan siapa pun, tanpa memandang asal partai politik.

"Sebagai prajurit dari Partai Gerakan Indonesia Raya, saya akan patuh pada apa yang menjadi keputusan Prabowo," kata Mantan Bupati Purwakarta ini, Rabu (10/7).

Baca Juga: Pemdaprov Jabar Perkuat Ekspor Kopi dan Kakao ke Filipina Melalui Business Matching

Lebih lanjut, Dedi mengaku menghormati pernyataan dari berbagai pimpinan partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju.

"Apapun yang menjadi pernyataan dari ketua partai harus diputuskan di Koalisi Indonesia Maju," kata Dedi yang kembali terpilih menjadi anggota DPR RI ini.

"Kita menghormati berbagai pimpinan partai, dan tentunya seluruh pernyataan itu harus dibicarakan di Koalisi Indonesia Maju dan harus diputuskan," katanya lagi.

Sebelumnya, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, menyebut kandidat potensial yang akan menjadi duet Bima Arya adalah mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

"Ya tentu kita harapkan nanti Bima Arya-Dedi Mulyadi, kemungkinan besar," kata Zulkifli Hasan usai meninjau Rumah Potong Hewan (RPH) di Bandung, Sabtu (15/6).

Baca Juga: Jalan Satu-satunya Petahana Edy Rahmayadi di Pilkada Sumut 2024 di Tangan PDIP, Ini Hitungannya

Sementara itu, Bima Arya mengatakan bahwa berbekal pengalaman dalam pemilihan Wali Kota Bogor pada 2013, ia mampu keluar sebagai pemenang di tengah minimnya elektabilitas dan dukungan partai terhadapnya.

Bima Arya saat diskusi pilkada bertajuk Mencari Pemimpin Pilihan Rakyat yang digagas Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jabar dan PW Muhammadiyah Jabar di Kota Bandung, Minggu (7/7/2024) menyebut bahwa saat bertarung di Pilwalkot Bogor tahun 2013 lalu, PAN hanya punya 3 kursi, serta lawan adalah incumbent dan tokoh yang sudah mengakar di Kota Bogor, tapi Bima yang terpilih.

Bima Arya menyebut bahwa politik itu dinamis. Saat ia maju di Pilwalkot Bogor, survei elektabilitasnya bahkan tak melebihi 10 persen, sementara lawannya begitu berat.

Baca Juga: Jika PDIP Usung Anies Baswedan di Jakarta, Ini Upaya Jegal Kaesang Pangarep Sebagai Cawagub

"Spirit saya adalah 'Just do the best, and let God do the rest'. Urusan saya adalah ikhtiar, memperkenalkan gagasan, kukurilingan, ngawangkong," ,ujarnya.

Menurut Bima, menjadi bakal calon Gubernur Jabar bukan urusan gagasan atau keinginan suara dari bawah alias grassroot semata.

Dan DPP Partai Politik juga tak bisa putuskan sendiri karena harus dibicarakan dengan KIM atau partai lainnya.

“Tugas saya adalah menyampaikan gagasan dan meningkatkan elektabilitas, karena ketika nanti disurvei hasilnya cukup baik," katanya.

Menurut dia, gubernur tidak memiliki wilayah, namun memiliki peran strategis yang bisa menyambungkan kepentingan daerah dengan pemerintah pusat.***