POJOKSATU.id, JAKARTA—Menurut komunikolog politik dan hukum nasional Tamil Selvan alias Kang Tamil, ada hubungan emosional dan kemesraan PDIP dengan Prabowo yang tak akan mungkin bisa dibelah.
Sehingga musuh PDIP saat ini bukanlah pasangan Prabowo-Gibran, akan tetapi adalah sistem yang berlaku di Rezim Joko Widodo atau Jokowi.
Menurut Tamil Selvan atau Kang Tamil seperti sapaan akrabnya, hubungan emosional dan kemesraan PDIP dengan Prabowo tidak akan mungkin bisa dibelah.
Baca Juga: PDIP Diprediksi Turut Bergabung dengan Prabowo, Ade Reza : Tak Ada Hambatan yang Berarti
Kalaupun saat ini ada gugatan terkait hasil Pemilu 2024 di Mahkamah Konstitusi atau MK, maka pertikaian itu adalah pertikain paslon, dalam hal ini Ganjar Pranowo.
Dia meyakini jika pun ada elite-elite PDIP yang ikut bersuara dan tidak senang dengan hasil Pilpres 2024 bukan ditujukan ke Prabowo-Gibran, melainkan sistem yang sedang berlaku hari ini.
"Kalau kemudian mau ditarik siapa poin orangnya, ya tentu Jokowi. Jadi artinya pertikain yang hari ini dikeluarkan oleh PDIP itu, itu adalah pertikaian di antara keluarga mereka dalam berpartai," kata Kang Tamil Dosen Universitas Dian Nusantara ini, Jumat (29/3/2024).
Baca Juga: Ogah Sebut Nama Orang yang Bikin Rumah Tangganya Hancur, Putri Anne : Kalau Kusebut, Kelar Hidup Kau
PDIP Bisa Masuk Koalisi
Sementara itu, Ade Reza Haryadi menganalisa masih sangat memungkinkan bagi PDIP untuk bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Menurut Pengamat Politik dari FISIP UI ini, tak ada hambatan yang berarti dalam membentuk koalisi yang diperluas dan pemerintahan yang lebih inklusif dan akomodatif oleh Prabowo-Gibran.
Dari kecenderungan pragmatisme politik parpol di Indonesia, tidak ada rentang jarak ideologis yang lebar untuk berkoalisi. Dari pengalaman Pilpres 2019, hal itu sudah terjadi di Indonesia.
Pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Ade Reza Haryadi menuturkan, masih sangat memungkinkan bagi PDIP untuk bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dia memandang pemerintahan Prabowo-Gibran masih butuh tambahan partai pendukung yang masuk parlemen.***

