POJOKSATU.id - Keputusan Airlangga Hartarto mundur sebagai Ketua Umum Partai Golkar masih jadi pertanyaan besar.
Kendati dalam pernyataanya, keputusan itu diambil Airlangga demi 'menyelamatkan' partai berlambang pohon beringin hitam itu.
Keputusan mundur, kata Airlangga, adalah untuk menjaga keutuhan Partai Golkar di masa transisi pemerintahan.
Selanjutnya, Golkar akan segera menyiapkan mekanisme organisasi sesuai dengan ketentuan AD/ART organisasi yang berlaku.
Baca Juga: Menhan Prabowo Subianto Kembali Sumbangkan 100 Unit Mobil untuk Perawatan Masjid
"Semua proses ini akan dilakukan dengan damai, tertib, dan dengan menjunjung tinggi marwah Partai Golkar," ucap Airlangga, dikutip Pojoksatu.id.
Airlangga kemudian meninggalkan rumah dinas Menteri di Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Minggu (11/8/2024) pukul 13.17 WIB.
Sementara, Waketum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tanjung menyebut, ada beberapa alasan Airlangga mundur dari Ketum Golkar.
Mulai dari ingin konsentrasi sebagai Menko Perekonomian di penghujung pemerintahan Jokowi-Maruf.
Baca Juga: Airlangga Malah Tinggalkan Rumah Dinas Menteri di Widya Chandra Usai Mundur Ketum Golkar
Juga menjaga semua agenda Partai Golkar, termasuk agenda nasional.
"Apalagi Pilkada 2024 sebentar lagi akan dilaksanakan sehingga Golkar membutuhkan persiapan yang lebih smooth dan terjaga," kata Doli, Minggu 11 Agustus 2024..
"Maka Ketua Umum kami dengan ikhlas, dengan sukarela menyatakan mundur dari Ketua umum Partai Golkar," sambungnya.
Tapi penjelasan ini tak sepenuhnya diterima publik yang menilai ada 'sesuatu' di balik keputusan mendadak Airlangga itu.
Salah satunya seperti yang diutarakan Direktur Eksekutif Fixpoll Indonesia, Mohammad Anas RA, yang dikutip Pojoksatu.id dari Rmol.id.
Berdasarkan pencermatan, Anas melihat upaya pendongkelan Airlangga sejatinya sudah dilakukan sejak lama.
"Hanya saja Airlangga masih mampu memainkan irama indah di Golkar sehingga masih bisa bertahan," kata Anas.
Hal lain yang melatarbelakangi, menuru Anas, ada kekuatan besar dari eksternal Golkar.
Itu lantaran Airlangga selama ini mampu membuktikan kepemimpinannya yang berhasil di tubuh partai beringin hitam itu.
Di bawah Airlangga, Golkar menjadi partai yang solid dengan sayap organisasi yang mendukung penuh.
Bahkan ada juga yang menganggap bahwa Airlangga mampu mengembalikan Golkar pada masa kejayaannya.
"Airlangga tak kuasa menangkis bidikan politik yang tertuju kepadanya sehingga menyatakan mengundurkan diri dari kursi ketua umum," papar Anas.
Soal tekanan juga diyakini Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto.
Baca Juga: Mengapa Airlangga Hartarto Mundur, Ini Alasannya Menurut Waketum Ahmad Doli Kurnia Tanjung
"AH sudah pasti dalam tekanan," ucap Hari.
Senang atau tidak, kondisi ini disebut Hari membuka peluang bagi orang-orang 'baru' masuk Golkar.
Salah satu nama yang dimaksud Hari tidak lain adalah Joko Widodo atau Jokowi.
Bukan tidak mungkin, Jokowi pun akan membawa gerbong keluarganyya.
"Segala cara akan dilakukan Jokowi dan dinastinya, apalagi Partai Golkar adalah partai yang mengusung Gibran mendampingi Prabowo Subianto," ucap Hari.
Menurutnya, Jokowi akan sulit melalukan manuver politik jika tidak ada partai politik yang menaunginya setelah menuntaskan periode kedua kepemimpinannya.
"Maka tidak lain memasukkan dinastinya ke Partai Golkar," urai dia.***

