POJOKSATU.id – Aktivis 98 Budiman Sudjatmiko kini dicap sebagai pengkhianat oleh PDIP.

Budiman Sudjatmiko diberhentikan dari partai moncong putih usai bermanuver mendukung bacapres Prabowo Subianto yang notabene bacapres Gerindra.

Padahal, PDIP jelas telah mencalonkan Ganjar Pranowo menjadi bacapres untuk Pemilu 2024.

Manuver politik Budiman ini mengingatkan pada salah satu tokoh Partai Buruh Inggris Winston Churchill yang pernah dipecat oleh partainya sendiri karena berbeda pandangan politik.

Baca Juga: Eks Kapolda Metro Komentari Tudingan Adu Domba Politik Soal Dukungan Budiman Sudjatmiko, Begini Katanya

Saat itu ia dipecat bukan karena mendukung salah satu kandidat.

Namun ia bermanuver karena berbeda pandangan soal kebijakan ekonomi tahun 1931 saat Inggris menghadapi krisis ekonomi yang serius selama Great Depression.

The End of The Story NOT The End of The history

Churchill kemudian membentuk sebuah kelompok parlementer independen bernama “Kelompok Churchill” yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Sementara Budiman mendeklarasikan relawan “Prabu” alias Prabowo Budiman Bersatu yang mendukung bacapres Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.

Keduanya memiliki semangat keberanian untuk keluar dari status quo.

Budiman berani melakukan manuver berseberangan dengan Partai yang secara formal sudah ia ikuti sejak 2004.

Manuver ini bukan the end of the history namun hanya the end of the story Budiman dengan PDIP. Artinya, sejarah tetap mencatat bahwa ia pernah ikut berjuang bersama PDIP.

Namun, kisah masa depan, ia yang menentukan sendiri.

Baca Juga: PDIP Akan Layangkan Surat ke Budiman Sudjatmiko, Hasto : Kita Lihat Nanti Bagaimana Pacar Barunya

Dalam salah satu talkshow, Budiman mencoba kembali membangun identitas politiknya, dengan mengatakan bahwa pemecatannya sebagai kader PDIP hanya menghapus catatan administratif.

Namun, nilai perjuangan politiknya tetap fatsun kepada nilai-nilai Bung Karno.

Masa Depan Politik Indonesia

Langkah Budiman bermanuver ini juga dipahami oleh beberapa aktivis 98, bahwa mereka yang dahulu berjuang, berkorban saat reformasi, juga memiliki cita-cita politik masa depan Indonesia harus lebih baik.

Pilpres lima tahunan jangan hanya membicarakan rasa sakit di masa lalu yang tidak pernah diselesaikan.

Namun, harus dijadikan momentum untuk bersatu agar Indonesia menjadi negara maju.

Budiman tidak ingin isu HAM hanya dijadikan alat politik untuk memojokkan salah satu capres.

Sudahi pembicaraan tentang kasus penculikan yang hanya dipakai untuk menyudutkan kelompok tertentu.

Bangsa ini sedang dalam momen menuju bangsa yang maju, maka perlu memulai kembali pembicaraan dengan Prabowo Subianto untuk membicarakan masa depan politik Indonesia.

Baca Juga: PDI Perjuangan Tunggu Pemberitaan Reda Demi Pecat Budiman Sudjatmiko

Kepemimpinan Strategik

Alasan lain Budiman bermanuver ada pada syarat calon pemimpin yang harus memiliki visi dan misi kepemimpinan strategik.

Dari tiga orang bacapres Ganjar, Prabowo, dan Anies, hanya Prabowo yang menurutnya memiliki selling point tersebut.

Ketiga tokoh tersebut memiliki diferensiasi masing-masing.

Ia tidak mengatakan Ganjar dan Anies tidak punya nilai kepemimpinan strategik, namun menurutnya selling point yang tepat untuk Ganjar dan Anies ada pada pendekatan populistik.

Sementara, pendekatan populistik bukan solusi untuk kepemimpinan 2024 nanti.

Link Youtube Metro TV: Kontroversi - Budiman Mendadak Prabowo.***