POJOKSATU.id, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyebut pemilihan umum (pemilu) menjadi kesempatan untuk menghindari pemimpin jahat.
Mahfud MD mengingatkan agar masyarakat turut serta menyalurkan hak pilihnya pada Pemilu 2024 dengan memilih pemimpin yang mumpuni, bukan pemimpin jahat.
Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud MD saat memberikan sambutan di acara Dies Natalis ke-57 Universitas Pancasila, Kamis 9 November 2923.
Baca Juga: MUI Keluarkan Fatwa Haram, Pembelian Produk Israel Dilarang Keras
"Pemilu itu bukan untuk memilih manusia yang sempurna, enggak ada manusia yang sempurna. Pemilu itu sedapat mungkin menghindarkan orang jahat menjadi pemimpin kita," kata Mahfud MD usai memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis Universitas Pancasila di Jakarta.
Dalam sambutannya, Mahfud berharap masyarakat dapat menilai baik dan buruk dari setiap calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).
"Selanjutnya saudara pilih berdasarkan kepentingan dan aspirasi saudara," ujarnya.
Baca Juga: Update Indonesia vs Ekuador: Goolll...Arkhan Kaka Catat Sejarah di Piala Dunia U17
Mahfud juga mengajak anak muda untuk tidak apatis terhadap pemilu dan pasangan calon presiden/wakil presiden yang sudah terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI saat ini.
Appabila anak muda mampu menjalankan pengecekan latar belakang dari masing-masing paslon, maka peranan jatuh ke tangan mereka untuk menghindari calon pemimpin yang jahat atau tidak baik dan memilih mereka yang memiliki visi-misi sejalan.
Ia mendesak anak muda untuk aktif berpartisipasi dalam praktik demokrasi, menyampaikan aspirasi, dan memilih presiden yang dianggap paling baik.
Baca Juga: Apa Benar Majunya Gibran Sebagai Cawapres Prabowo Merupakan Cacat Legitimasi?
"Jangan apatis, enggak boleh, anak-anak muda enggak boleh apatis. Mau tidak mau, anak-anak muda akan memimpin negara ini pada masa depan," tegas Mahfud.
Sebelumnya, melalui pidatonya, Mahfud MD menekankan pentingnya penerapan dan penegakan hukum sebagai landasan dasar suatu negara.
"Hukum merupakan panglima tertinggi bagi suatu bangsa dan negara. Dimana-mana negara itu hancur kalau hukum tidak ditegakkan dengan benar," ujarnya di hadapan wisudawan dan wisudawati Universitas Pancasila.
Mahfud MD juga menyatakan bahwa penerapan hukum yang benar seharusnya terpatri dalam hati nurani setiap masyarakat, termasuk pemimpin bangsa.
"Kadang ada orang 'saya bukan orang hukum, ga ngerti soal itu', gampang soal hukum itu, kesadaran hati nurani kita," katanya.
Dalam konteks ini, Mahfud MD menyoroti pejabat pemerintah yang tidak patuh pada instrumen hukum yang telah ditetapkan.
Menurutnya, pejabat yang tidak mampu melaksanakan aturan hukum dengan baik dapat dianggap berkhianat terhadap bangsa dan negara.
Secara singkat, Mahfud MD adalah bahwa pemilihan umum (pemilu) merupakan momen penting bagi masyarakat Indonesia untuk menghindari pemimpin yang jahat dan memilih mereka yang mampu bertanggung jawab.
Dirinya yakin apabila anak muda tidak apatis terhadap pemilu dan ikut serta dalam menyampaikan aspirasi mereka untuk menghindari jatuhnya bangsa ke tangan pemimpin yang jahat.
Pasalnya dalam pemilu, satu buah suara dapat mengubah skema geopolitik Indonesia dan masa depannya secara keseluruhan.
Selain itu, Mahfud menyoroti pentingnya penerapan dan penegakan hukum sebagai landasan dasar suatu negara, dan bahwa kesadaran akan nilai-nilai hukum seharusnya tertanam dalam hati nurani setiap individu.
Mahfud MD minta agar proses demokrasi tetap dijaga, menilai calon pemimpin dengan bijak, dan memastikan bahwa hukum dijalankan dengan baik demi keberlanjutan bangsa dan negara. ***
