POJOKSATU.id, BANDUNG -- Direktur Eksekutif Lingkar Pemuda Indonesia (LPI) Muda Saleh meminta agar Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto berhati-hati dalam menyatakan pendapat ke publik.

Bahkan menurutnya, Hasto Kristiyanto berupaya untuk men-downgrade Presiden Joko Widodo.

Soal Jokowi hendak hengkang dari PDIP, dia meminta PDIP jangan seolah olah anak kecil merengek minta permen.

Baca Juga: Ifa Faizah Rohmah Takjub Lihat Hasil Karya Pameran Produk Riset Santri SMA Al Muhajirin yang Ramah Lingkungan

"Sekelas Sekjen kok pernyataan ke publik seperti itu, gak elegan, gak rasional jika menyebut privilege kepada Jokowi dan keluarga. Hal ini menggambarkan seolah-olah PDI-P mutlak ada di barisan paling depan dalam memberikan dukungan sejak awal ke Jokowi," ujarnya, Selasa 31 Oktober 2023.

Muda menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Hasto seperti orang yang dalam keadaan menghayal.

"Kalau menghayal jangan ketinggian, Jokowi itu mutlak didorong oleh jutaan relawan di seluruh Indonesia, dan kemudian berangkat didapuk oleh partai politik yang menjadi instrumen dalam Pemilu 2014," sambung Muda.

Selain itu menurut Muda, sikap PDIP terhadap Jokowi terlihat melemahkan dan seolah-olah kepala negara tidak ada harganya di mata publik.

Baca Juga: Momen Ganjar Pranowo Makan Malam Bareng Warga Desa Karangpucung Purbalingga

"Banyak kita lihat di sosmed, video bertebaran dimana-mana. Coba saja lihat seandainya ada seorang presiden sedang bicara dengan ketua umum partai, kemudian divideokan dan muncul di area publik, ini privilege dari mana?," katanya.

"Belum lagi jika memang seandainya ada ungkapan ketua umum partai yang mengatakan bahwa jika tidak ada partai tersebut, sosok presiden bukan siapa-siapa, ini privilege darimana?," tukasnya.

Adapun Muda meminta kepada PDI-P agar bersikap ksatria, jika memang Presiden Jokowi betul-betul meninggalkan partai berlambang banteng tersebut.

"Ya, bersikap ksatria lah, apa yang menjadi penyebabnya, kenapa bisa ditinggal. Berpolitik itu seperti pacaran, jika tak ada rasa karena hati tak lagi sama, maka untuk apa dipertahankan, ini kok merengek-rengek seperti anak kecil minta permen," katanya.

"Jadi hati-hati dalam menyampaikan sikap dan menentukan redaksional kepada publik. Jangan sampai blunder sendiri," tutupnya.