POJOKSATU.id, JAKARTA— Capres No 2 Prabowo Subianto terlihat nampak kesal pada Capres No 1 Anies Baswedan dalam debat capres 2024 ketiga yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1).
Terlihat ketegangan antara Anies Baswedan dengan Prabowo Subianto dalam debat Capres 2024 ketiga yang digelar Minggu malam.
Pakar ilmu komunikasi politik Henri Subiakto pun memberikan penilaian kepada tiga capres yang terlibat dalam debat Minggu malam itu.
"Dengan range angka 1 sampai 10, dari aspek tampilan dan penguasaan materi serta gaya komunikasi dari 3 capres semalam, angka penilaian terendah ada di Prabowo. Nilai dari saya Prabowo hanya dapat 5. Anies yang semalam cukup agresif saya beri nilai 7. Sedang untuk Ganjar yang tampil secara simpati saya nilai 8," kata Henri dikutip dari akun X miliknya, @henrysubiakto, Senin (8/1).
Penampilan Prabowo, sebut pengajar di Universitas Airlangga itu, terlihat kedodoran. Cara maupun materi yang disampaikan Prabowo tidak sebaik Anies dan Ganjar.
Prabowo justru nampak terbawa emosi karena mendapat 'serangan' dari Anies antara lain terkait alutsista dan utang negara.
Kemudian Prabowo juga mendapat 'serangan' dari Ganjar yang diakui Prabowo banyak sependapat dalam debat.
Praktis dalam debat ketiga itu, Prabowo lebih banyak merespon dan sibuk membela diri dari cecaran dua kandidat lain, terutama Anies.
"Beberapa pertanyaan ke Prabowo tidak dijawab, melainkan justru bicara yang lain. Ketidaksinkronan ini jadi nampak lucu terlebih dengan penggunaan kata omon-omon, yang jarang terdengar," tulis Henri Subiakto.
Menurutnya, penampilan Anies paling agresif. Dia mengira Anies sudah menyiapkan diri dan materi untuk menyerang khususnya ke Prabowo sebelum masuk arena debat.
Terkait penjelasan dan penguasaan materi debat Henri melihat Ganjar paling siap. Ganjar mengetahui data-data hingga persoalan pertahanan yang selama ini banyak masalah.
Dan Ganjar, sebut dia, bisa menyampaikan semua gagasan dengan jelas dan dalam waktu yang tepat dengan ekspresi yang meyakinkan.
"Wajah Ganjar selama debat nampak cerah, tidak emosional, sehingga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang tinggi. Terlebih ketika menyampaikan serangan kepada Prabowo, dasarnya data yang resmi yang diyakini," kata Henri Subiakto lagi.
Baca Juga: Puncak Arus Balik Natal dan Tahun Baru 2024, Bandara Kualanamu Layani 24 Ribu Penumpang
Sebaliknya, Prabowo sepanjang debat tampil dengan wajah kurang cerah. Lebih banyak menunjukkan ekspresi tidak senang dan menahan emosi. Sibuk klarifikasi dan menyalahkan data lawan debat tapi tanpa berusaha menunjukkan mana data yang benar, sehingga Prabowo praktis tidak menjawab pertanyaan.
"Disitu kelemahan Prabowo yang gagal memanfaatkan waktu singkat selama debat. Dia malah mengajak cari waktu lain untuk mengungkap data tentu itu bukan solusi," kata Henri.
Sedangkan Anies banyak terlihat wajahnya terhiasi senyum, terkesan 'menertawakan' kesulitan Prabowo menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan.
Ekspresi Anies nampak lebih ditujukan ke Prabowo daripada ke Ganjar. Walhasil Prabowo dan Anies terlihat berada dalam rivalitas. Keduanya sama-sama berusaha saling 'menjatuhkan', saling mendowngrade.
"Prabowo nampak 'kesel' ke Anies. Kesel pada pertanyaan dan serangan Anies, tapi mungkin juga ingat bahwa orang yang dihadapi ini dulunya punya kaitan, dialah orang yang dulu didukung menjadi Gubernur DKI,” katanya.
“Latar belakang ini menambah kekecewaan dan kekesalan Prabowo, sampai terekspresi tidak mau salaman di akhir debat," tulis Henri Subiakto.***

